Menapaki Untuk Kedua Kalinya



Bukan norak. Tapi memang sejak tidak berkantor lagi di kantor balai saat pandemi, bisa dikatakan sangat jarang mengunjunginya. Apalagi letak kantor barunya di sebuah perumahan besar tak jauh dari Bandara Juanda, Sedati, Sidoarjo.

Bukan tiada ihwal di sebuah siang yang mendung saya sudah menginjakkan kaki di kantor balai, melainkan memenuhi sebuah undang pembinaan yang berujung berbuka puasa bersama. Bukan tanpa alasan pula saya tiba jauh sebelum acara dimulai, melainkan untuk menyapa beberapa rekan lama dan menghadap KabagTU yang tak lain teman seperjuang saat pendidikan jagawana di tahun 2000.

Ini baru kantor, decak pertama saya saat melangkah masuk ke lobi lantai 1. Semilir udara pegunungan yang terhembus dari mesin pendingin ruangan, merata menusuk setiap jengkal kulit. Meski tak menggigit namun tatap membuat dingin.


Sentuhan modern bisa dirasakan. Meja penerima tamu, hingga pernak pernik yang menghiasinya, jauh dari kata sumpek dan  ala kadarnya. Detail sekecil apapun yang terpampang cukup menarik untuk dibaca atau sekedar dilihat.

Sapaan hangat, sehangat tai ayam eh, sehangat kuku, dari rekan kerja yang mengenal saya. Atau sekedar ungkapan “oh ini pak Agus ya”, terlontar dari beberapa pegawai baru atau pindahan yang jelas belum saya kenal.


Bocil-bocil (maaf, ungkapan saya bagi Gen Z) mulai terlihat berseliwaran, sibuk mempersiapkan acara atau sekadar ikut nimbrung percakapan kami di sekitar
front office desk. Usia mereka nyaris separuh usia saya, meski ada yang lebih tapi tak berlebihan. Amber donk nanti.

Wanita-wanita (belum) paruh baya tampak tertawa terbahak-bahak di ujung lorong sambil menata air mineral gelas dan kurma sebagai santapan pembuka. Sedangkan jajanan penggoda di tata berjejer pada beberapa meja panjang, memberi tanda bagi pegawai lapangan macam saya agar mendekat ke pusat acara.


Beberapa rekan kerja terlihat masih (sok) sibuk di meja kerjanya. Mengeluarkan senyum merekah saat sapaan saya tebarkan ke seluruh penghuni ruangan. 

Sapaannya tentu disesuaikan dengan kebutuhan. Bisa standar seperti “Assalamu’alaykum” atau sapaan penuh goda agar menarik perhatian yang dituju untuk berhenti bekerja sesaat, macam “masya Alloh ukhti disini ruangannya”, hihihi.


Tak berapa lama, eh cukup lama sih, ruang lobby mulai terisi penuh. Duduk bersimpuh diatas karpet warna-warni. Sedikit berdesakan meski tak mesra. Mengikuti acara pembinaan yang tak membuat tegang. Ledakan tertawa kadang terdengar beberapa saat, memberikan tanda bahwa acaranya sangtn santai dan mengalir.

Wedi – Gedangan, Sidoarjo, 5 Maret 2026
Hujan angin namun penuh kehangatan



Comments

Popular Posts