HAM



Kapan hari saya bertemu Ham (baca: mbah). Ia jongkok didepan rumahnya. Pagar dorong berwarna hitam ia buka separuh. Sarung kotak-kotak berwarna biru dan hijau dikenakan alakadarnya. Tak lupa atasan ia sematkan kaos kesukaannya. Aku tau itu kesukaannya, karena warna sudah mulai pudar, berarti sering dipakai, berarti kesukaannya donk.

Begitu dekat, kuucapkan salam dan segera kujabat erat tangannya. Ia tampak lebih kurus dibanding terakhir kami bertemu beberapa bulan yang lalu. Saat itu Ham bilang baru saja pensiun. Hah? Saya kira hanya terpaut beberapa tahun saja denganku, ternyata terpaut cukup jauh umurnya.

“Yok opo kabar e cak?” tanyaku sambil masih menggengam erat tangannya.
“eh.. wek, mari tibo aku,” jawabnya dengan mata sayu namun tetap kulihat kegembiraan didalamnya.

Tak berapa lama Ham memegang erat tanganku dengan kedua tangannya. Ia pun bercerita saat jatuh dan sakitnya, yang tak berapa lama semakin habis suaranya dan nyaris tak terdengar lagi.

Sambil tetap tersenyum kudekatkan wajahku sambil mendoakan kesembuhan baginya. Tangan kiriku-pun memegang tangannya untuk memberi dorongan dan kekuatan baginya.

Ah, Ham. Kita semakin menua. Waktu terasa begitu cepat berlari. Masih lekat dalam ingatanku, suasana sekretariat kampus II yang mempertemukan kami. 

Belakangan saya baru ngeh, kalau ternyata Ham itu angkatan 90, dan dari segi usia lebih tua dibanding rekan se-angkatannya (cmiw).

“Mangkane diceluk Ham, Mbah, perkoro e sepuh,” ujar Cak Emon sambil terkekeh, pada sebuah pertemuan kami di Masjid Manarul Islam, Sawojajar.

Malang, 28 Oktober 2026
Gerimis menyirami tanah kering

Comments

Post a Comment

Popular Posts