Simbah


Saya tak pernah mengetahui persis siapa namanya. Kupanggil saja "Mbah" setiap kali berjumpa dengannya. Entah saat melewati rumahnya di pojok jalan, atau saat hendak ke musholla untuk sholat.

Senyumnya merekah saat melihat saya berjalan melewati jalan kecil menuju ke musholla. 

"Ayo pak ndang adzan," ujarnya dengan suara serak namun penuh nada ceria. "Monggo mbah," sahutku, yang lalu langkahku diikutinya menuju ke musholla yang tak jauh dari rumahnya.

Rutinitas ini dapat terjadi setiap hari kerja sejak saya bekerja di kantor Malang, dengan catatan saya tidak ada kegiatan lain ke luar kantor. Sepertinya beberapa mbah yang asli kampung situ, seperti sepakat memanggil saya dengan sebutan "Pak Kantor". Karena kami adalah satu-satunya kantor pemerintahan yang ada di kampung itu. 

Saat pulang kantor, keluar dari komplek perumahan tempat kantor kami berada, bisa jumpa kembali dengan simbah. Ia biasanya duduk sendiri di sebuah kursi kayu tua, di teras rumahnya yang sempit. Sambil tersenyum saya akan selalu menyapanya.

"Monggo Mbah". Ia pun tersenyum sambil mengangkat tangannya.

Malang berangin, 26 Februari 2026.
Hujannya tiada henti tiap hari.

Comments

Popular Posts