Kebersamaan 40 Tahun-pun Usai
Usai sudah beberapa kantong terakhir kukaitkan di sepeda motor. Kupandangi kembali lekat-lekat bangunan ini. Sebuah rumah yang kami tempati sejak tahun 1986. Dan, kali ini kami harus pergi.
"Kita pindah ke Malang Gus". Masih teringat ucapan bapak saat itu. Tak berapa lama, 2 truk milik kesatuan bapak di Cikajang - Garut sudah mengantarkan kami jauh ke timur.
Saat itu saya naik ke kelas 6 sekolah dasar. Tak berapa lama, bapak sudah sibuk mendaftarkan saya dan Rini ke sebuah sekolah dasar di Jl. Bedadung.
Rumah ini, benar-benar tempat kami bernaung sejak saat itu. Mengiringi kami tumbuh didalamnya, hingga kami bertiga berkeluarga.
Yah, di rumah ini juga, adik-adik saya, Rini dan Rina menikah dan melaksanakan ijab kabul didalamnya. Nyaris semua cucu bapak dan ibu lahir dan ari-arinya ditanam berjejer dekat pintu samping. Bahkan dirumah ini juga kami melakukan sholat jenazah saat bapak berpulang.
Ku keluarkan sepeda motor beat ke halaman rumah yang sudah tak berkanopi lagi. Pintu samping, tempat kami berlalu lalang, kukunci untuk terakhir kalinya. Di pintu ini jua kami berteriak mengucapkan "Assalamu'alaikum..." saat memasukinya. Dan mendengar balasan ibu dari kamar atau dapur.
Halaman rumah telah kosong. Tak ada lagi anggrek-anggrek milik ibu bergantungan. Pun demikian dengan pot-pot Daun Dewa yang berjejer, hingga rambatan markisa yang biasanya memenuhi lanjaran diatasnya.
Saat pandemi melanda, jalan depan rumah menjadi tempat kami berjemur sambil berbagi cerita dengan tetangga. Lingkungannya yang tenang, karena berada di gang buntu dan hanya dihuni 11 rumah saja.
Perlahan kujalankan sepeda motor matic meninggalkan kawasan rumah Hamid Rusdi, kami menyebutnya. Ada rasa kosong di dada. Selama 40 tahun rumah ini tempat kami kembali saat lelah dan rindu. Kehangatannya yang telah tercipta sekian lama, harus ditinggalkan, dan akan kami tumbuhkan di tempat tinggal yang baru.
Malang Sendu,
24 Juni 2026




Comments
Post a Comment