Mengunjungi Anak Sekolahan
Termasuk beberapa waktu yang lalu, saat saya memberikan pandangan mengenai media sosial bagi para pelajar smk kelas 11, sebuah sekolah kejuruan di sekitar Tunjungsekar, Kota Malang. Bagi saya, ini tantangan tersendiri, menghadapi generasi akhir gen z.
Selama ini bekal saya hanya membaca kebiasaan mereka dari tulisan-tulisan di media massa atau sosial. Bisa dikatakan jarang berinteraksi dengan mereka, kecuali saat menjumpai mereka berkelompok sedang ngopi di sebuah warung kopi di pattimura.
Saya selalu mengupayakan penggunaan bahasa yang mudah dicerna, tak ada bahasa ilmiah atau bahasa sulit. Mengurangi pengulangan pembahasan, dan yang pasti menghadirkan bentuk powerpoint yang jauh dari bentuk pakem. Warna, sudah pasti bikin mereka mengernyitkan dahi terlebih dahulu, ngejreng.
Pertamakali menjadi seorang narasumber di organisasi pecinta alam kampus saya di pertengahan tahun 90-an. Jelas beda, yang saya hadapi adalah calon anggota atau anggota muda yang masih dari gen x dan maksimal kaum milenial. Mereka jelas tak banyak pilihan, harus mengerti atau kena set (hukuman push up) jika tak bisa menjawab. Jelas berbeda, menjadi narasumber pada suasana ini.
Dan kali ini gen z dan pelajar sekolah pula. Pakem-pakem yang dipegang sebelumnya, tentulah tidak bisa dipakai sepenuhnya. Jikapun dipaksa untuk dipakai, jelaslah terasa konyol. Karena bagaimana juga, setiap dari kita yang menyampaikannya berharap dapat diterima dan dipahami. Setidaknya oleh seorang atau beberapa orang, namun untuk semua yang hadir dapat mengerti itu jelas tak mungkin. Apalagi ada gawai yang selalu mereka pegang, dan dapat mengalihkan perhatiannya saat mereka mulai bosan dengan penjelasan yang disampaikan.
Malang Bediding
27 Juli 2026



Comments
Post a Comment