24 Pulau Hilang dan Laju Deforestasi Tetap Tinggi

by - December 02, 2008

JAKARTA-MI. Sebanyak 24 pulau di Indonesia hilang sepanjang 2005-2007 akibat perubahan iklim dan pemanasan global yang ditandai kenaikan permukaan air laut sehingga berdampak pada kondisi fisio-geografis Indonesia.
Hal itu diungkapkan pada buku laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia (SLHI) yang diluncurkan Menteri Lingkungan Hidup (Men-LH) Rachmat Witoelar di Jakarta, Jumat (28/11) sore.
Pada SLHI 2007, sebanyak 24 pulau yang hilang berada di wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatra Utara, Papua, Kepulauan Riau, Sumatra Barat, Sulawesi Selatan, dan kawasan Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta.
Berdasarkan laporan Lembaga Antariksan Nasional (Lapan) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Indonesia memiliki luas 5.193.252 kilometer persegi yang terdiri dari daratan dan lautan dengan 18.110 pulau.
Pulau-pulau kecil yang dimiliki Indonesia, menurut laporan tersebut, memang sangat rentan tenggelam dengan naiknya permukaan laut yang disebabkan pemanasan global.
Laporan SLHI 2007 juga mengungkapkan sektor kehutanan. Ternyata laju deforestasi di Indonesia masih tergolong tinggi. Pada periode 2000-2006 diperkirakan laju deforestasi mencapai sekitar 1,09 juta hektare per tahun. Laju deforestasi tertinggi terjadi di wilayah Sumatra dan Kalimantan.
Dampak dari laju deforestasi yang tinggi itu menyebabkan timbulnya jutaan hektare lahan kritis. Lahan kritis diperkirakan telah mencapai 77 juta hektare. Lahan itu berada di dalam kawasan hutan dan luar kawasan hutan.
Lahan kritis terluas berada di Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Riau. Tingginya laju deforestasi dan kerusakan lahan disebabkan berbagai faktor. Alih fungsi lahan untuk pertanian dan perkebunan merupakan faktor terbesar terjadinya deforestasi.
Pengembangan perkebunan, khususnya sawit di Provinsi Riau, menjadi tingkat deforestasi tertinggi. Selain itu, kegiatan pertambangan dan transmigrasi, khususnya tambang batu bara telah mengakibatkan alih fungsi lahan dan hutan.
Penebangan liar dan perambahan hutan juga memberi dampak yang cukup berarti pada kerusakan lahan dan hutan. Tetapi terkait dengan kerusakan hutan dan lahan akibat kebakaran selama 2007 mengalami penurunan.
Jumlah hotspot atau titik panas pada 2007 yang terdeteksi menurun setengahnya. Jika pada 2006 tercatat 31.938 hotspot pada 2007 menjadi 16.045 hotspot.
Permasalahan lain yang masih mengkhawatirkan adalah terjadinya peningkatan penggunaan penggunaan atau pemanfaatan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Asosiasi Pengelola Limbah B3 Indonesia (APLI) menyebutkan bahwa pada 2007 produksi limbah B3 mencapai 3.023.385 ton.
Jenis limbah utama berupa limbah sludge minyak, abu batu bara, sludge IPAL, slag baja, copper slag, pelumas bekas, limbah rags, slugde scale, dan aki bekas.
Industri pertambangan merupakan salah satu industri yang menyumbang limbah B3 dalam jumlah besar. Pada 2007 industri pertambangan menghasilkan limbah B3 berupa lumpur minyak 329,13 ton, baterai bekas 183,6 ton, bahan terkontaminasi minyak 914,02 ton, dan oli bekas 19.471.604 liter.
Pada sambutannya, Plt Deputi Men-LH Bidang Pembinaan Sarana Teknis dan Peningkatan Kapasitas Sri Hudyastuti mengatakan laporan SLHI ditujukan untuk mendukung pengambilan keputusan yang memadai bagi terciptanya pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Sementara itu Men-LH Rachmat Witoelar menyatakan penyusunan SLHI dilakukan sebagai bagian dari akuntabilitas publik di bidang pengelolaan lingkungan hidup. "Ini juga merupakan pemenuhan amanat UU No 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup," ujarnya.(Deri Dahuri)

You May Also Like

0 komentar