Monday, April 9, 2012

THE RAID, Cita Rasa Indonesia

Ketika film ini diputar serentak di Indonesia, di jaringan bioskop 21 akhir Maret 2012, Saya tidak buru-buru untuk menontonnya. Dugaan penonton film ini akan membludak dan terjadi antrian. Ahhh.. gak banget deh. Saya cukup bersabar menunggu ketika jumlah penonton mulai menyusut, walaupun saya punya teman yang bisa membookingkan tiket bioskop tanpa saya susah-susah antri. Tapi gak asik ah. Entar ujung-ujungnya saya gak boleh bayar. Tambah gak asik.
Akhirnya saya pilih hari Jum'at tanggal 6 April 2012 di Dieng 21, dan saya mendapatkan tempat duduk favorit saya, B-10, tangah, pandangan lurus, cihuyyy.

* * *

Satu kata awal buat film ini adalah bagus. Ini film pertama Indonesia (menurut saya) dimana aksi baku pukulnya yang ciamik. Tokoh-tokohnyapun tidak kebarat-baratan. Indonesia banget pokoknya. Polisi Khususnya ini tidak digambarkan bertubuh besar-besar dan kekar layaknya pasukan SWAT asli Amerika. Sangat manusiawi sekali. Begitu pula dialog-dialognya, menggunakan bahasa sehari-hari. Jakarta punya, lengkap dengan umpatannya. Yang menariknya, digunakan pula logat-logat daerah macam papua lengkap dengan ciri khas bahasa prokem papua yang disingkat-singkat itu. Seperti "kau" menjadi "ko", "punya" mejadi "pu". Yang memakainyapun orang papua asli yang berperan menjadi anggota mafia narkoba tersebut.

Jalan cerita, tidak berbelit-belit, sederhana, dan penonton tidak perlu diajak ikut berpikir siapa penjahat, siapa jagoannya. Penonton hanya sekali diajak menerka-nerka seorang tokoh andik yang merupakan tangan kanan Tama, bos mafia-nya, apakah ia seorang penjahat tulen atau bukan. Saya sempat menerka dia adalah intelejen polisi yang menyamar (standar banget). Ternyata dia adalah kakak dari tokoh utama romi yang seorang polisi.

Setting lokasi, cukup baik, meski pengecatan pintu-pintu apartemen terkesan asal cat, sehingga kesan kumuh kurang terlihat. Penggunaan cahaya yang disetting gelap sangat membantu kesan bekas apartemen tersebut sudah tidak terpelihara lagi. penokohannya juga baik. Utamanya dari penokohan para anggota mafianya. Sangat berkarakter. Utamanya tokoh maddog, salah satu tangan kanan bos mafia. Jago berkelahi, tidak terlalu jenius, dan kaku, berkarakter sekali, karakter penjahat Indonesia. Begitu juga anggota mafia lainnya yang jumlahnya sangat banyak.

* * *

Kata Kedua untuk film ini adalah sadis. Pertunjukan perkelahian dalam melumpuhkan para musuh begitu sadis. Sayatan pisau, tebasan pedang, bantingan, melempar lawan hingga menikan dan menyobek daging dengan menggunakan pisau. Hampir sama sadisnya dengan film the Ninja Assasins yang super sadis itu. Bahkan penggambaran penembakan, larinya peluru hingga tembusnya peluru ke kepala sangat meyakinkan dan terlihat sadis. Wah, beberapa kali saya merinding melihat adegannya, termasuk adegan terbunuhnya anggota mafia yang ditarik ke lantai dan tertusuk sisa-sisa kayu pintu yang hancur berlubang. sadis.
Penggunaan bela diri pencak silat dalam film ini sangat kental, utamanya ketika penggunaan pisau. Baik sekali. Ini membuktikan, penggunaan pencak silat yang praktis guna film bela diri dapat dilakukan. Apalagi Merantau film sudah menggunakannya sejak film pertamanya yakni Merantau.

* * *

Ketiga, saya mau bilang, kalau Hongkong punya Jacky Chan. Indonesia punya Iko Uwais. Dan tentu film The Raid ini benar-benar membuat saya sangat bangga sekali. Seharusnya inilah film Indonesia sebagaimana mestinya. Tidak menjual cerita-cerita horor picisan.

1 comment:

Noer said...

Sangat bagus resensi-nya mas bro, tentu dihayati betul saat nontonya. Aku sampe sekarang malah belum nonton...

 

Copyright 2010 halaman agus.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.