Monday, August 15, 2011

Kila dan sawah

Kila berjalan di depan menyusuri pematang
Jika saya libur kerja, ada jatah waktu yang diminta Kila untuk jalan-jalan bersama dia. Bukan ke mall atau jalan-jalan ke pasar. Tapi ke sawah. Tidak jauh dari rumah, hanya beberapa ratus meter saja. Tepatnya terletak di depan sebuah SMK Negeri dan berseberangan dengan lapangan sepak bola. Tidak juga luas, hanya beberapa petak saja. Tapi kila suka sekali. Karena di sawah kila bisa berjalan-jalan di pematang dan menyaksikan semua perubahan warna pada padi. itu yang membuat ia begitu tertarik, kadang hijau kadang kuning ketika masa panen tiba. 

Atau jika musim kemarau seperti ini, sebagian sawah tidak ditanami karena pengairan yang tidak bagus, maka berubahlah sawah itu menjadi tempat penggembalaan kerbau dan domba. Huaahhh... semakin semangatlah Kila untuk ke sawah. Karena ia dapat mendekati kerbau dan memegang domba yang ada.

Tuesday, August 9, 2011

Hijrah adalah sebuah Jalan

"Um..", ujarku memulai percakapan pagi buta itu. Saat itu saya baru saja menyelesaikan sahur yang telah dipersiapkan oleh istriku. "Ummi berhenti kerja dari perusahaan tempat ummi bekerja kok seperti pembantu berhenti bekerja, begitu saja... tanpa ada pesangon atau hal-hal lain..", lanjutku dengan sedikit hati-hati. " Ummi kan HRD, pegawai tetap lagi, kok perusahaan ummi memperlakukan ummi seperti itu...", tanyaku berturut. Saya cukup lama berpikir untuk menanyakan hal ini, sejak beberapa malam yang lalu, ummi memelukku sambil menangis menceritakan keputusan beratnya untuk resign dari pekerjaannya yang menurutku mengagumkan itu. Saya tidak ingin membuka luka hatinya.

Friday, August 5, 2011

Puasa Berbicara

Marhaban Yaa Ramadhan. Huahhh.... alhamdulillah, dapat bertemu kembali dengan bulan penuh rahmat ini, bulan yang selalu ditunggu-tunggu. Dan Ramadhan tahun ini jatuh tepat di bulan Agustus ... betapa bahagianya dan semangatnya saya menyambut bulan ini. Selain bulannya "saya", 1 Syawal - pun, InsyaAlloh jatuh di akhir bulan Agustus. How perfect month. hahahay..

***

Hari ketiga, ketika langkah kaki ini menaiki tangga menuju ruangan kantorku, saya merasa ada tidak beres dengan tubuh ini. Demam mulai terasa, perut begitu sebah, badan mulai tidak nyaman di rasa. Waduh.. masa iya saya sakit ini.
Menjelang matahari mulai meninggi saya berhasil menculik Nano, pegawai honorer di kantorku, ke ruangan saya untuk melaksanakan ritual "kerok" punggung. Untuk minyak kayu putihnya berhasil saya dapatkan dari Agus Keceng, rekan seruangan saya, tapi koinnya belum dapat. Satu-satunya koin jaman sekarang yang masuk logika untuk ber-kerok ria adalah koin Rp. 1000,- Tapi, peredarannya belum begitu banyak, terpaksalah menggunakan koin Rp. 500,- yang kuning. Tapi baru beberapa kerokan, sakit mulai terasa dipun ggung, Nano pun mengusulkan pakai sendok stainless seperti biasa jika dia mengerok, ahhh...ting..! Saya teringat pisau lipat saya (yang bukan victorinox) itu, bukankah ada sendok dengan garpu, hehehehe... pisau lipat ini selalu ada di tas kecil eiger saya bersama perlatan emergency dan serba guna lainnya yang selali saya taruh di bawah meja kerja.
Tak lamapun saya sudah asyik menikmati kerokan Nano dipunggung saya disaksikan si Agus dan Agis yang silih berganti keluar masuk ruangan (maksudnya apa seh, mau jenguk apa mau memantau keadaan saya sebagai tetua di ruangan ini, hahahaha).

***

Akhirnya saya berjalan sedikit terseok dan melayang menelusuri jalan kampung Balearjosari tempat tinggal saya ini. Panas tubuh saya tidak mau kompromi, saya yakin bukan masuk angin. Sesampainya di rumah langsung saya menuju kamar sebelum melempar tas, jaket dan sepatu pada tempat biasanya. Kila, jagoan saya yang berusia 3 tahun 9 bulan, berlari-lari kecil sambil terus berkicau menyambut abi-nya tiba di rumah. Setelah masuk ke dalam selimut dan mengompres kening, saya terangkan kepada Kila jika abi-nya sedang sakit dan hendak istirahat. iapun menatap saya mengerti, ketika saya memejamkan mata, terasa kila mulai memanjat samping tempat tidur dan mengecup pipi kananku, dan berujar,"met tidur abi". What a suprise momment, dan tak terasa air mata hangat mengalir dipipiku. Terima Kasih Ya Allloh.

***

"Puasa berbicara pak, istilahnya. Bukan sekedar puasa ramadhan saja, tapi dibarengi puasa berbicara. Karena Pak Agus tiap hari pulang pergi Malang Surabaya kerjanya, trus banyak ketemu orang di jalan, naik bis, plus udara yang ekstrim seperti ini sekarang, angin kencang, malam dingin, siang panas sekali... itu semua bisa membawa bakteri, kuman masuk dan membuat tonsil-nya bengkak. Dan ini yang dpat mengakibatkan demam, badan sakit semua ", dokter Lisna menerangkan panjang lebar sambil menulis rekam jejak sakit saya di kartu berobat. Ku satroni dokter ini dokter ini setelah saya dan istri melaksanakan buka puasa dan sholat Maghrib. Rumahnya yang berada di perumahan sebelah membuat kami mudah untuk mendapatkan pertolongan pertama jika kami sekeluarga sakit.
Akhirnya kamipun terlibat perbincangan panjang mengenai tonsil alias amandel ini, kategorinya, efeknya, fungsinya, dan juga berbagai pendapat mengenai operasi amandel.

***

Udara malam ini di kota Malang begitu dingin diiringi angin sedikit kencang. Sambil membawa obat dan surat dokter untuk istirahat, saya meninggalkan rumah dokter Lisna dengan masih terngiang anjurannya pada saya, " besok jangan puasa dulu pak Agus... minum obatnya, jika belum ada perubahan segera cek darah ke lab ya..". Hehehe si dokter, saya yakin lusa keadaan saya sudah membaik, dan tentang puasa berbicara itu, saya usahakan .... tengkiu dok...

Tuesday, August 2, 2011

Serangan Kera ? Atasi Dengan Tanam Pohon

Gunung Kidul (ANTARA News) - Kawanan kera menyerang tanpa ampun dan mengobrak-abrik pemukiman karena mereka kekurangan makanan sehingga membuat penduduk cukup resah. Ini terjadi di Gunung Kidul, Yogyakarta, beberapa waktu lalu. Akan tetapi ternyata Balai Konservasi Sumber Daya Alam Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai cara cukup jitu. Itu adalah rencana pada September 2011 nanti, menanam 500 batang pohon untuk mengatasi serangan kera ekor panjang

Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY, Sartana, di Wonosari, Rabu, mengatakan, penanaman 500 batang pohon itu nanti merupakan solusi jangka panjang untuk mengatasi serangan kera ekor panjang yang meluas ke permukiman warga. "Kera ekor panjang menyerang permukiman warga karena kekurangan makanan, sehingga perlu ada penghijauan yang berfungsi menyediakan makanan," katanya. Ia mengatakan BKSDA akan menanam 500 batang pohon di perbukitan Dusun Duwet, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, dalam waktu dekat. "Penanaman pohon secara serentak di Dusun Duwet, pertimbangannya karena wilayah itu menjadi salah satu kawasan yang sering diserang kera," katanya. 

Menurut Sartana, BKSDA menanam pohon pada September mendatang dengan pertimbangan diprakirakan mulai awal musim hujan. "Kami berharap pohon-pohon itu nanti bisa tumbuh dengan cepat agar ketersediaan makanan untuk kera terpenuhi di habitatnya," katanya. Ia mengatakan jenis pohon yang ditanam di antaranya duwet, salam, beringin, dan jambu biji. "Kami mengupayakan penanaman pohon yang tahan hidup di musim kemarau, karena kabupaten ini karakter tanahnya tandus," katanya. 

Sartana mengatakan jika ketersediaan makanan kera tercukupi, maka satwa liar itu tidak akan turun ke permukiman warga. "Kera akan memakan pucuk daun pohon salam dan duwet, sedangkan pohon beringin sebagai rumah hewan tersebut," katanya. Menurut dia, BKSDA akan melibatkan masyarakat Dusun Duwet dalam penanaman pohon pada Sepetember mendatang. "Pelibatan masyarakat sekaligus menjadi sarana kampanye penghijauan," katanya. Ia mengatakan penanaman pohon tersebut sesuai dengan upaya penghijauan di kawasan pantai selatan Gunung Kidul. "Kami akan melakukan pendataan lokasi lain yang membutuhkan penghijauan seperti Dusun Duwet," katanya.

Kera ekor panjang menyerang permukiman warga di Dusun Duwet, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Gunung Kidul, sejak beberapa bulan lalu. Salah seorang warga dusun setempat, Sawikem mengatakan kawanan kera ekor panjang memakanan tanaman kacang di sekitar rumah warga. "Kera tidak hanya menyerang areal pertanian, tetapi juga masuk ke rumah warga dan mengambil hasil panen kacang," katanya. Ia mengatakan warga tidak menangkap hewan ini karena khawatir kera termasuk hewan yang dilindungi. Warga berharap upaya penghijauan akan menyelesaikan masalah serangan kera yang terjadi hampir setiap tahun di daerah itu. 

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Gunung Kidul Anik Indarwati mengatakan populasi kera ekor panjang di kabupaten ini berlebih. "Kera berkembangbiak sangat cepat seperti deret ukur di sejumlah kawasan perbukitan dan pantai," katanya. Menurut dia, kera biasa turun ke areal pertanian maupun permukiman warga saat musim panen tanaman pangan tiba. "Serangan kera ekor panjang tidak hanya terjadi saat musim kemarau, tetapi pada masa panen pun kera suka berpindah-pindah ke tempat yang banyak tersedia makanan binatang itu," katanya. Ia mengatakan serangan kera selama ini sering terjadi di wilayah Kecamatan Tepus, Tanjungsari, dan kawasan Pantai Siung, Kabupaten Gunung Kidul.
 

Copyright 2010 halaman agus.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.