Wednesday, April 25, 2012

Selamatkan Burung Kakatua Sumba

Kehidupan kakatua Sumba (Cacatua sulphurea citrinocristata) makin terancam seiring menurunnya habitat mereka.

DK Limited/CORBIS
Menjaga dan melindungi sebuah pohon di lingkungan sekitar merupakan langkah kecil yang bernilai besar untuk merawat bumi. Pohon merupakan aset dan potensi jangka panjang yang perlu dijaga.

”Pohon juga tidak hanya bermanfaat bagi manusia, tetapi juga sangat berarti bagi kehidupan berbagai jenis burung,” ungkap Dwi Mulyawati, Bird Conservation Officer Burung Indonesia dalam siaran pers tertulis pada peringatan Hari Bumi, Minggu (22/4).

Di sebuah pohon, burung tidak hanya beristirahat, tetapi juga menjadikan pohon tersebut sebagai sumber makanan, bersarang, dan membesarkan keturunan. Salah satunya adalah kakatua Sumba (Cacatua sulphurea citrinocristata) yang hanya dapat ditemui di Pulau Sumba.  

Kakatua Sumba merupakan anak jenis endemik Pulau Sumba. Di Sumba, kakatua pemilik ciri berupa jambul berwarna oranye ini, umumnya hidup di hutan primer dan sekunder. Habitatnya pada ketinggian lebih dari 950 meter di atas permukaan laut.

Satwa ini sangat sulit berkembang biak. Selain kebutuhan khusus akan jenis pohon sarang, kondisi lingkungan yang jauh dari aktivitas manusia juga mempengaruhi keberhasilan perkembangbiakannya.

Menurut Dwi, jenis pohon yang sangat disukai kakatua sumba untuk dijadikan sarang adalah pohon nggoka (Chisocheton sp.) dan marra (Tetrameles nudiflora). Selain kedua jenis pohon ini dapat tumbuh besar dan menjulang, kandungan airnya juga tidak terlalu tinggi. Sehingga, sangat cocok bagi sang betina untuk bersarang (di lubang pohon) dan mengerami telurnya. Salah satu sarang aktifnya yang berhasil diidentifikasi berada di lereng bukit Lakokur, Desa Umamanu, Kecamatan Katikutana Selatan, Kabupaten Sumba Tengah.

Namun, berkurangnya pohon sarang di hutan alam telah membuat burung lambang persatuan masyarakat Sumba ini mengalami kendala dalam hal berkembang biak. Jumlah telur yang dihasilkan saat berbiak antara dua hingga tiga butir, sangat bergantung pada cuaca dan pohon sarang karena berkaitan erat dengan kesuksesan penetasannya.

“Selain itu, kakatua sumba juga harus menghadapi persaingan penggunaan pohon sarang dengan jenis paruh bengkok lain seperti nuri bayan (Eclectus roratus) dan betet-kelapa paruh-besar (Tanygnathus megalorynchos),” lanjut Dwi.

Sekitar tahun 70-an, kakatua sumba masih mudah dijumpai. Kini, jumlah populasi burung ini diperkirakan hanya sekitar 563 ekor. ”Jumlahnya terus menurun seiring semakin sedikitnya pohon sarang serta akibat penangkapan dan perdagangan untuk dijual ke pasar dalam maupun luar negeri,” ujar Dwi.

Menjaga Bumi butuh tindakan nyata. Dengan menjaga lingkungan sekitar, meski hanya dengan merawat sebuah pohon, kita telah meringankan beban Bumi dari permasalahan lingkungan serta menjaga ekosistem kehidupan makhluk lain di dalamnya.

(Olivia Lewi Pramesti. Sumber: Burung Indonesia)

Perusahaan Sawit Desak Habitat Orangutan Rawa Tripa

Hingga pekan terakhir Maret 2012, terjadi 90 kebakaran yang diperkirakan menewaskan 100 orangutan di Rawa Tripa.

Orangutan Sumatra (Pongo abelii). (Anup Shah/Corbis)
Orangutan, satu dari 25 primata utama paling terancam punah di dunia, kembali mendapat tantangan. Namun, sama seperti tantangan sebelumnya, orangutan Sumatra (Pongo abelii) terdesak habitatnya karena kegiatan perkebunan kelapa sawit.

Salah satu habitat orangutan yang paling terancam adalah Rawa Tripa di pesisir barat Aceh. Lokasi ini adalah satu tiga hutan rawa gambut kaya karbon di pantai barat Aceh. Selain Tripa, terdapat pula Kluet dan Singkil. Letaknya pun tak jauh dari Taman Nasional Gunung Leuser.

Rawa gambut Tripa memiliki luas sekitar 62.000 hektare. Tapi 75 persen di antaranya dikonversi oleh tujuh perusahaan pemegang Hak Guna Usaha (HGU) yang beroperasi dengan luas lahan antara 3.000-13.000 hektare. Lahan seluas itu dijadikan perkebunan kelapa sawit dengan pembakaran hutan sebagai cara membuka lahan.

Dari data yang dilampirkan oleh Tim Koalisi Penyelamat Rawa Tripa (TKPRT) dan Pusat Riset Perubahan Iklim Universitas Indonesia, pembukaan lahan terbesar terjadi pada Maret 2012. Hingga pekan terakhir, terjadi 90 kebakaran yang membuat Rawa Tripa kehilangan 800 hektare lahan. Diperkirakan oleh Sumatran Orangutan Conservation Program (SOCP), terdapat 100 orangutan yang mati dalam kebakaran itu.

"Dengan kecepatan pembukaan lahan hutan gambut seperti ini, orangutan tidak akan ada lagi di Rawa Tripa pada Desember 2012," kata Ian Singleton, Direktur Konservasi SOCP dalam acara diskusi Rawa Tripa di UI, Depok, Selasa (24/4).

Ditambahkan Singleton, jumlah orangutan di Sumatra saat ini hanya tinggal 6.600 individu. Sedangkan di Rawa Tripa, hanya tersisa 200 individu orangutan. "Jumlah ini sendiri menjadikan Rawa Tripa sebagai wilayah dengan kerapatan tertinggi populasi orangutan," ujar Singleton.

Menurut Riswan dari Yayasan Ekosistem Lestari, perusakan Rawa Tripa baru terjadi secara masif di tahun 2000-an. Awalnya di tahun 1990-an, lokasi ini merupakan rawa gambut subur dengan luas 63.835 hektare dan masuk sebagai habitat utama harimau (Panthera tigris sumatrae) serta orangutan Sumatra. Ketika izin penggunaan lahan diberikan di tahun 1995, lahan hijau mulai berkurang sedikit demi sedikit.

Vegetasi Rawa Tripa mulai tumbuh lagi saat konflik bersenjata di tahun 2001-2005. Tanpa adanya tangan manusia, vegetasi ini tumbuh subur dan hampir mencapai kondisi semula. Namun, perdamaian di Tanah Rencong dimanfaatkan perusahaan swasta untuk kembali membuka lahan di Rawa Tripa. Diperkirakan hingga April 2012 hanya tersisa 11.000 hektare dari 62.000 hektare luas keseluruhan lokasi ini.

Riswan dan Singleton yang tergabung dalam TKPRT meminta agar ada tindakan hukum atas tindakan ini. Hal terpenting lainnya adalah penghentian pemberian izin Hak Guna Usaha baru. "Kami mendesak ada pengawalan terhadap revisi moratorium yang akan datang," kata Riswan.

(Zika Zakiya)

Monday, April 23, 2012

SAYA DAN DIMPA, Chapter One

"Selalu Ada Perubahan"

Gak ada berubah-berubahnya, ketika disuatu hari yang menjelang siang ketika saya mengunjungi senior saya Cak Dalbo. Beliau senior saya di sebuah organisasi pecinta alam di kampus dulu. Namanya DIMPA, kepanjangan dari Divisi Mahasiswa Pencinta Alam
Dihitung-hitung sudah lama sekali saya tidak bertandang ke rumahnya. Ini juga datang karena sms-nya yang nantang saya untuk datang ke rumahnya karena akan disuguhi makanan selain suguhan originalnya, kopi dan rokok dji sam soe, yang belakangan itu karena beliaunya merokok dji sam soe, saya hanya nebeng. Dan benar saja, siang panas hari itu saya disuguhi tahu telor khas malang yang ternyata super pedas, huaahhh... mana panas lagi. 
Yang gak ada berubahnya, ya itu, gaya ngomongnya kalau sedang berdiskusi dengan istrinya, mbak Linda, yang juga terhitung anggota DIMPA pula. Hedehh.. mirip orang tengkar. Lama kelamaan saya terbiasa dengan gaya komunikasi mereka berdua. Selagi mereka sibuk "berkomunikasi" saya sibuk sms-an dengan anak-anak DIMPA yang berada di sekretariat.

Monday, April 9, 2012

THE RAID, Cita Rasa Indonesia

Ketika film ini diputar serentak di Indonesia, di jaringan bioskop 21 akhir Maret 2012, Saya tidak buru-buru untuk menontonnya. Dugaan penonton film ini akan membludak dan terjadi antrian. Ahhh.. gak banget deh. Saya cukup bersabar menunggu ketika jumlah penonton mulai menyusut, walaupun saya punya teman yang bisa membookingkan tiket bioskop tanpa saya susah-susah antri. Tapi gak asik ah. Entar ujung-ujungnya saya gak boleh bayar. Tambah gak asik.
Akhirnya saya pilih hari Jum'at tanggal 6 April 2012 di Dieng 21, dan saya mendapatkan tempat duduk favorit saya, B-10, tangah, pandangan lurus, cihuyyy.

* * *

Satu kata awal buat film ini adalah bagus. Ini film pertama Indonesia (menurut saya) dimana aksi baku pukulnya yang ciamik. Tokoh-tokohnyapun tidak kebarat-baratan. Indonesia banget pokoknya. Polisi Khususnya ini tidak digambarkan bertubuh besar-besar dan kekar layaknya pasukan SWAT asli Amerika. Sangat manusiawi sekali. Begitu pula dialog-dialognya, menggunakan bahasa sehari-hari. Jakarta punya, lengkap dengan umpatannya. Yang menariknya, digunakan pula logat-logat daerah macam papua lengkap dengan ciri khas bahasa prokem papua yang disingkat-singkat itu. Seperti "kau" menjadi "ko", "punya" mejadi "pu". Yang memakainyapun orang papua asli yang berperan menjadi anggota mafia narkoba tersebut.

Jalan cerita, tidak berbelit-belit, sederhana, dan penonton tidak perlu diajak ikut berpikir siapa penjahat, siapa jagoannya. Penonton hanya sekali diajak menerka-nerka seorang tokoh andik yang merupakan tangan kanan Tama, bos mafia-nya, apakah ia seorang penjahat tulen atau bukan. Saya sempat menerka dia adalah intelejen polisi yang menyamar (standar banget). Ternyata dia adalah kakak dari tokoh utama romi yang seorang polisi.

Setting lokasi, cukup baik, meski pengecatan pintu-pintu apartemen terkesan asal cat, sehingga kesan kumuh kurang terlihat. Penggunaan cahaya yang disetting gelap sangat membantu kesan bekas apartemen tersebut sudah tidak terpelihara lagi. penokohannya juga baik. Utamanya dari penokohan para anggota mafianya. Sangat berkarakter. Utamanya tokoh maddog, salah satu tangan kanan bos mafia. Jago berkelahi, tidak terlalu jenius, dan kaku, berkarakter sekali, karakter penjahat Indonesia. Begitu juga anggota mafia lainnya yang jumlahnya sangat banyak.

* * *

Kata Kedua untuk film ini adalah sadis. Pertunjukan perkelahian dalam melumpuhkan para musuh begitu sadis. Sayatan pisau, tebasan pedang, bantingan, melempar lawan hingga menikan dan menyobek daging dengan menggunakan pisau. Hampir sama sadisnya dengan film the Ninja Assasins yang super sadis itu. Bahkan penggambaran penembakan, larinya peluru hingga tembusnya peluru ke kepala sangat meyakinkan dan terlihat sadis. Wah, beberapa kali saya merinding melihat adegannya, termasuk adegan terbunuhnya anggota mafia yang ditarik ke lantai dan tertusuk sisa-sisa kayu pintu yang hancur berlubang. sadis.
Penggunaan bela diri pencak silat dalam film ini sangat kental, utamanya ketika penggunaan pisau. Baik sekali. Ini membuktikan, penggunaan pencak silat yang praktis guna film bela diri dapat dilakukan. Apalagi Merantau film sudah menggunakannya sejak film pertamanya yakni Merantau.

* * *

Ketiga, saya mau bilang, kalau Hongkong punya Jacky Chan. Indonesia punya Iko Uwais. Dan tentu film The Raid ini benar-benar membuat saya sangat bangga sekali. Seharusnya inilah film Indonesia sebagaimana mestinya. Tidak menjual cerita-cerita horor picisan.

Thursday, April 5, 2012

TELUH

Teluh atau santet atau guna-guna, sudah berlangsung sejak zaman dahulu. Tapi hingga kini misteri itu belum (dan sulit) diungkap. Sejalan dengan kemajuan zaman, santet berkembang jadi lebih canggih. Bahkan seperti dalam era digital, santet pun ada yang diklasifikasi sebagai santet krah putih. Melibatkan kalangan atas dengan cara yang modern dan canggih. Santet atau sihir dalam bahasa Arab dinamakan ainun saqhirah, atau sesuatu yang menyilaukan mata. Lebih jauh, bermakna menakjubkan. Atau sebuah kemampuan luar biasa yang sulit diterima akal sehat. (Wikipedia)

* * *

Tit..tit..tit. Sebuah sms masuk dari adikku yang berdiam di Sampang Madura.Sebuah sms balasan dari sms yang kukirim sebelumnya.
"Kondisi ibu sudah lebih baik. ini sedang maem pisang rebus bny. minum susu. hari ini nanti siang minum telur brg dara sama minyak. Nanti sore santunin anak yatim sama masjid."
Hari ini adalah hari kelima ibu di rawat di rumah adikku di Sampang. Saya masih ingat dan bingung hasil dari diagnosa dokter yang menyatakan kondisi ibu saya sehat dan normal. Pun begitu dengan hasil lab cek darah dan foto rontgen. SEMUA NORMAL. Tapi ibu sakit. Badannya semakin habis. Hampir menjerit kala kulihat ia begitu kurus.

* * *

"Kyai, sebenarnya siapa yang "mengirimi" ibu saya ini?" tanya adik iparku.
"Sudahlah nak, ikhlaskan saja. Biarkan saja, serahkan semua ke Alloh SWT. yang penting saat ini mari kita konsentrasi dengan pengobatan terhadap ibu njenengan. Semoga Alloh me-ridho-i apa yang kita lakukan ini sehingga ibu bisa sembuh."
"Inggih Kyai.."

* * *

Saya tidak dapat mendampingi ibu saya berobat ke Sampang, tempat tinggal adikku yang menikah dengan orang Sampang yang tak lain adalah teman sekelas kuliahnya dulu. Di kota itu ada seorang Kyai yang bersedia dimintai pertolongan terhadap sakit ibu saya. Menurutnya ibu saya harus ke Sampang agar dapat diobati secara langsung, karena ilmu orang yang "ngerjain" ibu itu tinggi. "Ini orang tidak main-main, ini sudah di atasnya santet, tapi teluh, dan tujuannya memang membunuh ibu secara perlahan-lahan", cerita adikku dari seberang telepon sana.

"Perantaranya benda mati, berupa bambu yang dipotong setinggi ibu kemudian di tancapkan di samping kuburan. Itu sebabnya badan ibu lama kelamaan seperti bambu kering yang makin hari makin kering dan rapuh", lanjutnya.

"Tubuh ibu makin habis karena yang diserang perut, sehingga ibu bagai tidak punya perut. tidak merasakan lapar. tidak merasakan kenyang. semua yang masuk hambar dan pahit". Saya makin pedih mendengarnya, orang sebaik ibu kok ada yang mengirim teluh, betapa jahat orang itu. "alhamdulillah sekarang ibu sudah mau makan, semalam ia merasakan lapar untuk pertamakalinya, dan nyamil terus kenyang katanya. gitu mas", ungkap adikku yang logatnya mulai terbajak oleh logat madura.

"Kata Kyai, tubuh ibu kuat dan gigih melawan teluh itu, karena ibu sholat 5 waktunya tidak putus, rajin sholat tahajud dan hajat, ngaji dan baca yassin. itu semua melawan teluh itu ketika malam hari. itu sebabnya tubuh ibu demam ketika malam hari, karena melawan teluh itu", ujarnya tanpa henti.

* * *

Adikku masih bercerita penuh semangat, karena saya ingin mengetahui keadaan ibu lebih lengkap. Tak terima rasanya ibu diperlakukan seperti seorang penjahat kelas atas sehingga harus disantet segala.

" Pas malam ketiga, ibu siangnya sudah memarut kelapa yang diminta Kyai. harus ibu sendiri yang memarutnya. Dan malamnya Kyai yang memasaknya hingga menjadi minyak kelapa. Minyak kelapa itu masih panas dan mendidih serta masih berada di atas kompor. Kyai meminta aku dan suami untuk mengolesinya keseluruh tubuh ibu saat itu juga. minyak itu tentu masih sangat panas."
"Sekarang kyai?"
"Ya.. sekarang"
"Ini tidak panas Kyai?"
"Tidak..."
"Dan kamipun mulai mengolesi ibu dengan minyak itu. Tangan kami malah merasakan minyak kelapa itu dingin, demikianpun ibu merasakan yang sama di tubuhnya, kami terheran-heran, mas"
"tangan kalian tidak apa-apa?" tanya ibu.
"nggak bu, rasanya dingin, gimana dengan ibu?"
" iya rasanya dingin"
alhamdulillah ...

* * *

Kyai itu berkata, " Jangan kita dendam terhadap orang yang mengirim teluh ini. serahkan semua kepada Alloh SWT."
"Kenapa saya kok di teluh Kyai, saya ini tidak punya musuh"
"Jangan salah bu, justru jadi orang baik itu musuhnya banyak. Sudah ibu ikhlas saja. konsentrasi ke pengobatan ini saja ya"

* * *

Semoga Alloh SWT. memberikan kesembuhan kepada ibu kami, memberinya kesehatan serta umur yang panjang. Kepada yang mengirim teluh ini semoga Alloh membukakan jalan baginya dan melapangkan pikirannya sehingga ia sadar bahwa yang ia lakukan itu merupakan hal yang buruk di atas muka bumi ini. aamiin. 
 

Copyright 2010 halaman agus.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.