Tuesday, December 23, 2008

Ke Toraja

Tahun 2004 kami sekeluarga bedol deso ke Toraja. Ketika itu ada upacara penguburan buyut saya yang bernama nene' Kombong. Beliau sudah sangat tua sekali, seluruh rambutnya sudah berwarna putih perak. Saya, bapak, dan adik saya Rini, hanya seminggu saja disana, karena kami harus kembali bekerja, tetapi Ibu disana sebulan, mulai menyiapkan acara hingga acara jalan-jalannya. Sedangkan Rina dan Dodon (pacar dan sekarang suami dari adik saya Rina) berangkat bareng saya tapi pulang bareng Ibu. Curang pingin jalan-jalan di Toraja dulu.

Foto ini diambil ketika Upacara penguburan telah selesai, perlu diketahui upacara penguburan untuk hari H-nya itu ada 3-4 hari pelaksanaan. Banyak saudara-saudara yang hadir, saking banyaknya Lantang rumah panggung dari bambu untuk tempat tinggal selama upacara penuh semua. Seingat saya saat itu ada sekitar 30-an Lantang. Saking banyaknya saudara yang hadir saya tidak hafal atau kenal semua, yang kenal hanya yang satu buyut saja. Sedangkan saudara-saudara yang satu fam atau satu garis keturunan dari Nene' Buyut Kila, hanya satu dua yang kenal itupun karena mereka pernah berkunjung ke Malang atau dikenalkan oleh Ibu. Nene' Buyut Kila adalah
the founder istilah saya seh dari Fam / generasi Kila. Kila berarti Kilat atau Petir.


Contohnya orang yang disamping Rina yang berkaos merah, saya memanggil dia Om, walau umurnya jauh dibawah saya, bahkan masih dibawah Rina. Tapi karena Ibunya adalah adik kandung Nenek saya maka saya memanggilnya Om. Nenek saya adalah anak pertama dari Nene' Buyut Kombong, sedangkan adiknya nenek tadi adalah yang bungsu, mungkin yang nomor 7 atau 8 gitu. Wah ini belum ruwet, ada anak kecil masih kelas 2 SD, saya seharusnya memanggil dia "nenek". Karena dia adalah anak ke 11 dari seorang laki-laki yang masih ada talian saudara dari Nene' buyut Kombong. Wah... saya sering pusing kalau diceritain satu persatu saudara saya yang hadir oleh ibu, dengan pohon silsilah yang sudah demikian melebar dan telah mencapai generasi dari Kila yang kesekian. Tapi saya salut dengan ibu saya, beliau begitu hafal seluruh saudara-saudara yang hadir, dari cabang keturuan yang mana, anak dari nene' buyut yang mana, merupakan canggah-nya siapa, aduh pusing deh...


Jadi, saya sudah tidak heran lagi, kalau kami di Malang kedatangan saudara dan memanggilnya tante, padahal usianya masih jauh dibawah saya. Karena ibu menurut saya adalah garis generasi dari anak pertama dari kake' buyut Kila. Saya pakai istilah kake' buyut walau sebetulnya letaknya jauh diatas buyut, entah canggah entah apa, karena tidak tahu harus pakai istilah yang tepat yang mana. Sedangkan Kake' buyut Kila memiliki banyak anak, sehingga jumlah generasi lebih dulu banyak generasi ke jalur ibu dibanding yang lain. Misalnya jalur ibu sudah sampai canggah, jalur yang lain baru sampai cucu atau cicit. Tidak heran saya harus memanggilnya tante atau bahkan nenek.

Tapi, seminggu di Toraja sangat berkesan. Mengikuti detail upacara pemakaman hingga dimasukkannya jenazah ke dalam goa.
Di Toraja khususnya Rantepao yang bergunung-gunung dan bertebing-tebing, makam letaknya di dalam goa atau batu besar yang dipahat menjadi ruangan. Satu ruangan dapat dimakamkan beberapa jenazah dalam satu keluarga. Hingga berjalan-jalan ke beberapa tempat wisata, tapi tempat wisatanya berhubungan dangan makam, dan kerumah saudara. Ingin deh rasanya kembali ke sana, dengan membawa hari libur yang puanjang. Merasakan kembali dinginnya suhu disana, kabut paginya, udara yang masih sangat bersih, kopi toraja-nya, balo' hehehe minumannya lelaki ini, dan berburu souvenir yang cantik-cantik. Satu-satunya khas toraja yang masih saya bisa rasakan di Malang adalah makanan yang terbuat dari sagu yakni papeda itu juga kalau ibu saya pas masak papeda dan kopi toraja. 


Oh iya juga tarian pagelu, tarian untuk pernikahan. Dahulu sebelum menikah, Rina adik saya adalah salah satu penari Pagelu yang dimiliki komunitas orang Toraja di Malang Raya. Saya sering melihatnya latihan di rumah atau pentas ketika pernikahan. Tarian ini terlihat simple tapi juga eksotis, apalagi dengan pakaian adat toraja yang penuh dangan manik-manik. Pementasan terakhir Rina dilakukannya ketika pernikahannya sendiri, karena tarian Pagelu hanya boleh dilakukan oleh seorang gadis yang belum menikah.

Note : Tulisan miring dan berwarna hijau adalah keterangan atau sahutan dari saya.

Lebaran di Trenggalek

Saya lupa, tahun berapa tepatnya foto ini diambil. Yang jelas foto ini diambil ketika kami sekeluarga merayakan Idul Fitri di kampungnya kakek di Kranding - Trenggalek. Bapak saya asli Trenggalek, sehingga ketika Almarhum Kakek dan Nenek masih hidup, setiap tahunnya kami selalu merayakan Idul Fitri di Kampung itu. Setiap tahun selalu berkesan ketika kami menghabiskan waktu kami di kampung itu. 

Mulai bertemu dengan sepupu-sepupu kami, bulik, paklik, teman-teman kala kecil dulu, hingga bermain-main di sungai. Sepupu saya banyak, karena bapak saya merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara, bisa dibayangkan jika satu saudara dari bapak mempunyai anak 3 saja sudah berapa sepupu saya, padahal ada saudara bapak yang mempunyai anak sampai enam orang.

Jika dilihat dari pakaian, umur adik saya, kemungkinan ketika itu saya masih duduk di kelas 1 atau 2 SMP. Karena saat ini, Kakek dan Nenek sudah meninggal semua, kami merayakan Lebaran di rumah orang tua saya di Malang atau di rumah mertua di Depok.

Kila Bobo Dulu Ya Umi


Karena kelelahan dan ngantuk, Kila tidur deh. Maklum, Kila sudah bangun dari Subuh. Nemanin Abinya yang siap - siap mau Sholat Ied. Foto ini diambil ketika kami ber-Lebaran ke rumah Kakek dan Nenek Sardjono (Orang Tua saya) di Hamid Rusdi Malang. Di rumah kakek sudah ramai, ada adik - adik Kila seperti Neyna dan Nanda. Karena Ngantuk, ya Kila tidur deh. Setelah tidur dipelukan Uminya, Kila tidur di kamar aunty Rina disamping Nanda, "numpang tidur ya Nanda.."

Monday, December 22, 2008

Ulang Tahun Kila

Namanya Agsya Fahiem Manna Kila, tapi saya lebih suka me- manggil- nya Kaka, Key atau just Kila. Ini foto diambil ketika kami (saya, istri, dan kakek) merayakan ulang tahunnya yang pertama pada tanggal 14 Nopember 2008.
Kila, selalu ingin tahu tentang apa saja yang mungkin sangat menarik baginya, seperti halnya iklan di televisi. Setelah acara tiup lilin, seharusnya kan potong kue, tapi Kila sangat ingin sekali memegang kue tart didepannya. Lalu saya suruh uminya untuk membiarkannya, kami hendak tahu apa yang sebenarnya yang ingin ia lakukan. Dan benar saja, Kila langsung saja mengambil kue tersebut dengan tangan kanannya dan kemudian ia masukkan ke mulutnya. Hehehe tentu saja hal tersebut membuat geli seluruh orang yang hadir. Dan grrrr, seisi ruangan dipenuhi suara ketawa. Akibatnya, blepotanlah mulut dan hidungnya serta tangan - kakinya, karena selanjutnya Kila memegang ini itu. "Hmmmm... Key Key," ujar uminya sambil membersihkan mulut, hidung, tangan, dan kakinya. We Love You, Key.






Wednesday, December 17, 2008

Nge-Blog

Tahun 2007 saya baru memulai nge-blog yang sebelumnya pakai friendster, tapi karena merasa gak independen ceile ya akhirnya pake blogger aja, gratisan gitu. Bangga-bangga gimana gitu bisa buat blog walau awalnya si simple. Paling rubah-rubah warna. Ya akhirnya bisa juga nambahin pernak pernik macem-macemlah. Menurut saya sih keren hmmm gak tau deh menurut orang lain.
Eh belakangan aku juga nularin nih penyakit ke temen-temen sekantor, hihihi biar tambah seru dan saya jadi merasa guru mereka hehehehe. Tapi begitu lihat blog-blog yang dimiliki yang menurutku jago nge-blog, wuiiih serem. Maksudnya it's so cool man. Saya tambah malu, yah ABG - ABG sekarang blog-nya keren abis dengan template-template yang cantik abis. Sedangkan aku, hehehe pernah nyoba ganti template hasilnya malah amburadul jadinya beberapa kali ngulang dari awal untuk memperbaikinya. Akhirnya ya sudah lah saya putuskan dengan bergaya simple aja kapok nih.

Note : tulisan miring berwana hijau adalah sahutan dari hatiku saat nulis.

Tuesday, December 16, 2008

Jam Swiss Ditemukan di Makam Berusia 400 Tahun

TEMPO Interaktif, Jakarta:Beijing: Para arkeolog di Cina dikejutkan dengan penemuan sebuah jam tangan mini buatan Swiss di dalam sebuah makam yang diduga berusia 400 tahun. Jam tangan tersebut ditemukan arkeolog ketika mereka membuat film dokumenter bersama dua orang jurnalis dari kota Shangsi.
"Ketika kami mencoba menghapus tanah yang melapisi peti mati, sebuah batu tiba-tiba jatuh ke tanah dengan suara seperti logam," ujar Jiang Yanyu, mantan kurator dari Museum Kawasan Otonomi Guangxi. "Kami mengambil benda itu dan melihatnya seperti cincin. Setelah membersihkan tanah yang ada di sekelilingnya dan melihat secara saksama, kami terkejut ketika melihat itu ternyata sebuah jam tangan."
Menurut People's Daily, jam tersebut berhenti dengan menunjukkan pukul 10.06. Di belakang jam tersebut tertera kata 'Swiss'. Para arkeolog lokal mengaku bingung dengan penemuan tersebut. Sebab, mereka meyakini makam itu tidak pernah dijamah orang sejak diciptakan di era Dinasti Ming 400 tahun lalu. Para arkeolog itu menunda penggalian dan menunggu para ahli lain dari Beijing untuk membantu mereka menguak misteri tersebut.
Agus says : waduh ...jangan-jangan memang benar ada orang bisa pindah antara masa/waktu

Kebun Sawit di Hutan Lindung Dimusnahkan

RIAU - Kendati sempat mendapat perlawanan warga, puluhan hektar kebun kelapa sawit di kawasan hutan lindung Bukit Suligi, Rokan Hulu, Riau, akhirnya dimusnahkan. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari program Pemerintah Daerah Rokan Hulu dan Departemen Kehutanan mengembalikan fungsi hutan lindung.
"Ini sebagai program pengembalian hutan. Sudah hampir 30 hektare kami musnahkan," ujar Kepala Dinas Kehutanan Rokan Hulu Asril Astaman kemarin. "Rencananya ini akan berlanjut hingga kawasan Bukit Suligi benar-benar bebas kebun kelapa sawit."
Asril menyebutkan saat ini di kawasan hutan lindung Bukit Suligi seluas 18 ribu hektare itu terdapat sedikitnya 300 hektare perkebunan sawit masyarakat. Sesuai dengan program pengembalian hutan, upaya pemusnahan akan dilakukan terhadap seluruh kebun kelapa sawit di kawasan hutan lindung itu.
"Tahun depan kami akan lanjutkan dengan melakukan penanaman hutan," ujar Asril. "Tidak ada toleransi dan tidak ada ganti rugi."
Aksi pemusnahan kebun kelapa sawit ini mendapat perlawanan dari sejumlah warga yang mengaku pemilik kebun. Para anggota Kelompok Tani Rokan Maju, misalnya, mengaku memiliki 29 anggota dengan luas kebun hampir 75 hektare. Mereka mengancam akan mengadukan pemusnahan ini ke Kepolisian Daerah Riau.
Ketua Kelompok Tani Rokan Maju Hasanuddin saat dihubungi Tempo melalui saluran telepon mengatakan pihaknya tidak dapat menerima pemusnahan yang dilakukan pemerintah daerah. "Kami punya surat dan dokumen yang dikeluarkan oleh aparat desa hingga camat," katanya.
Hasanuddin menyebutkan, tadinya warga tidak tahu-menahu mengenai status kawasan hutan lindung. Sejak 1987, kata dia, mereka sudah mengusahakan kawasan lahan yang kemudian disebut sebagai bagian dari hutan lindung Suligi itu. "Waktu kami urus surat-suratnya, aparat desa dan camat menyebut itu bukan hutan lindung dan mengeluarkan surat dan dokumen lahan," ia menjelaskan. "Jadi ini salah siapa?"
Para petani pemilik dan pengolah kebun menyatakan tekad mereka untuk melakukan perlawanan. "Walau sampai mati," kata Hasanuddin. "Hidup kami hanya di kebun ini. Kami mau makan apa?"
Sementara itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Riau mendukung langkah Pemerintah Daerah Rokan Hulu ini. Mereka berharap pemusnahan itu bisa mengembalikan fungsi hutan lindung Bukit Suligi. "Kami akan tetap bekerja sama dengan pemerintah daerah," ujar Kepala Balai Konservasi Rachman Siddik.
Cari catatan Balai Konservasi, saat ini tidak kurang dari 125 ribu hektare fungsi hutan lindung, hutan konservasi, dan hutan tanaman produksi di Riau telah beralih fungsi. Ada yang berubah menjadi perkebunan, perumahan, dan jalan umum. "Langkah Pemerintah Daerah Rokan Hulu itu hendaknya dijadikan program utama Riau ke depan," ujar Rachman. Koran Tempo

Minuman Panas Mengusir Batuk dan Flu

Minuman hangat terbukti dapat mengurangi gejala batuk dan flu. Riset terbaru yang dilakukan oleh Common Cold Centre di Cardiff University, Wales, Inggris, menunjukkan bahwa segelas tonik buah hangat dapat memulihkan kesehatan dan meredakan semua gejala flu seperti hidung berair, batuk, bersin, radang tenggorokan, demam, dan kelelahan.
Riset yang dipublikasikan dalam jurnal Rhinology edisi Desember 2008 itu membandingkan efek dari tonik apel dengan blackcurrant yang diminum hangat-hangat atau pada suhu kamar, terhadap 30 sukarelawan penderita gejala flu. Para sukarelawan direkrut dari staf dan pelajar di perguruan tinggi itu, dengan syarat telah mengalami gejala flu setidaknya seminggu, tidak minum obat apapun, atau mengonsumsi makanan dan minuman panas beberapa jam sebelumnya.
Sebagian dari sukarelawan diminta meminum tonik buah panas dan sebagian lagi meminum tonik dengan suhu kamar 10 menit sebelum menjalani tes rhinomanometry. Dalam tes itu, mereka harus bernapas menggunakan topeng dengan mulut tertutup di sekitar tabung pengukur bertekanan.
Meski minuman panas tidak terbukti memperbaiki aliran udara hidung dalam tes itu, namun para peserta melaporkan radang tenggorokan, demam, dan batuk mereda setelah minum tonik buah panas. Tonik buah bersuhu kamar juga tidak melegakan pernapasan para sukarelawan, namun meringankan gejala bersin, batuk dan hidung berair, tetapi tidak mempengaruhi radang tenggorokan dan demam.
Direktur pusat studi flu itu, Profesor Ron Eccles, menyarankan orang yang menderita batuk atau flu mengonsumsi minuman hangat untuk membantu mengurangi gejala penyakit itu. "Sungguh mengejutkan bahwa ini adalah riset ilmiah pertama tentang manfaat segelas minuman panas untuk mengobati gejala batuk dan flu," katanya.
Minuman panas juga cocok diminum ketika temperatur udara turun pada musim hujan atau musim dingin, seperti yang sekarang dialami penduduk yang mendiami belahan bumi bagian utara. Virus flu kerap menyerang pada saat-saat seperti ini. “Memiliki persediaan tonik buah dalam lemari dan meminum tonik hangat dapat membantu memerangi gejala flu dan batuk,” tutur Eccles. “Keuntungan besar dari jenis perawatan ini adalah murah, aman, dan efektif.” Koran Tempo

Monday, December 15, 2008

LORENA, The Snail Bus

Minggu kemarin, saya ada kegiatan di Cipayung Bogor. Karena letaknya tersebut untuk memudahkan saya memutuskan untuk naik bis Lorena, karena letak pool-nya di Tajur yang tidak terlalu jauh dari Cipayung. Bersama beberapa rekan saya, kami berangkat dari Terminal Arjosari - Malang. Sepanjang jalan, laju bis landai-landai saja, artinya tidak cepat seperti layaknya bis malam. Maka, sesuai perkiraan kami, jam 10 lebih esok harinya baru tiba kami di Tajur. Kami hitung 20 jam perjalanan. Fuuh lama juga pikir kami, karena jika saya bandingkan dengan bis malam lainnya lebih cepat 2 - 4 jam. Tapi ya sudahlah ...
Ketika kembali ke Malang, kami "terpaksa"lah naik bis Lorena kembali, karena kami kurang mengetahui letak agen bis lainnya. Dan, jadwal berangkat dikarcis yang 14.00 WIB ternyata berangkat pukul 15.00 WIB. Bis juga jalannya pelan, karena di jalan tol yang relatif sepi, kecepatan stabil, stabil pelan maksudnya. Sudah begitu, mampir-mampir pula ke Lebak Bulus dan beberapa agen Lorena yang cukup makan waktu. Dan sesuai perkiraan kami juga, kami menghabiskan waktu 24 jam untuk tiba di Malang dengan bis Lorena ini. bukan main lamanya, untuk ukuran jalan yg lancar dan tidak terjadi kemacetan parah atau jembatan putus. Kami sangat kecewa sekali, untuk itu kami bersumpah "gak bakal lagi" naik LORENA, selama dikota itu ada bis malam lainnya. Saya-pun memberinya nama The Snail Bus, karena lambatnya.

Thursday, December 4, 2008

Kawanan Harimau Resahkan Aceh Selatan

TAPAKTUAN, RABU (3 Desember 2008)- Sekawanan harimau (Panthera tigris sumatrae) masuk kampung, ribuan warga Sawang, Aceh Selatan, tak berani keluar rumah saat malam tiba.
"Warga Desa Trieng Muduro Tunong, Trieng Muduro Baro, Sawang Dua dan Desa Sikulat hingga saat ini sangat resah akibat gangguan harimau. Warga tidak berani beraktivitas pada malam hari," kata Camat Sawang, M Nazari Syam, di Tapaktuan, Rabu.
Disebutkannya, tiga ekor satwa dilindungi itu telah memangsa ternak kerbau, sapi, kambing, dan ayam milik masyarakat. Warga juga takut bepergian ke ladang yang berada di Pegunungan Treing Muduru.
Sejak dua hari terakhir, binatang buas tersebut semakin sering memasuki permukiman penduduk dan memangsa ternak ayam, bebek, dan kambing yang berada di dalam kandang.
"Kambing yang dimangsanya di dalam kandang itu milik Suardi, warga Desa Sawang Dua, dan puluhan ayam dan ternak milik Yazani, Syafi’i dan Zainun di Dusun Kampung Balai, Desa Trieng Muduro Baroh," katanya.
Nazari meminta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat untuk segera menanggulangi keganasan satwa langka dan dilindungi itu dengan cara mendatangkan pawang. "Kalau tidak segera ditanggulangi, saya khawatir harimau itu akan memangsa manusia seperti di Bakongan, Labuhan Haji, dan Meukek pada tahun lalu," demikian Camat Sawang, M Nazari Syam. (Kompas)

Tuesday, December 2, 2008

Tana Toraja, South Sulawesi-Land of The Heavenly Kings


The road from Makassar or Ujung Pandang to Toraja runs along the coast for about 130 km's and then hits the mountains. After the entrance to Tana Toraja you enter a majestic landscape with giant gray, granites and stones and blue mountains at a distance after passing the market village of Mebali. They form a sharp contrast with the lively green of the fertile, rain-fed terraces and the rusty read of the tropical laterite soil. This is Tana Toraja, one of the most splendid areas in Indonesia.
Tana Toraja has a specific and unique funeral ceremony which is called Rambu Solo. In Tana Toraja, dead body is not buried, but it is put in Tongkonan for several times, even can be more than ten years until the family have enough money to held the ceremony. After ceremony, the dead body is brought to the cave or to the wall of the mountain. The skulls show us that the dead body is not buried but just put on stone or ground, or put in the hole.The funeral festival season begins when the last rice has been harvested, usually in late June or July, and lasts through to September.
  • By Air
Directly from Hasanuddin airport, Makassar or Ujung Pandang, proceed to TANA TORAJA (twice a week on tuesday and friday) through the airport of Rantetayo, near Makle, 24 km south of Rantepao and there is a bus service to town.
  • By Land
Buses to Rantepao from Ujung Pandang leave daily from Ujung Pandang. The journey takes 8 hours and includes a meal stop. Tickets should be bought in town but coaches actually leave from DAYA bus terminal, 20 minutes out of town by bemo. Coaches typically leave in the morning ( 7 am ), noon ( 1 pm ) and at night ( 7 pm).

Several companies in Rantepao run buses back to Ujung Pandang with the departure time and prices. The number of buses each day depends on the number of passengers
Tourist who wants to stay in the heart of the city has many choices since there is lot of hotels available. Or if you had an adventurous soul, you can sleep in villages on the way.
Bemo is the best way to get to know the locals, besides chartered vehicles (minibuses and Jeeps) with or without driver. While you are in the village you can take a walk to move around.
*Exploring the market; You should not to be missed going to the traditional market. Here you can get the top end of Toraja coffee beans [like Robusta and Arabica]. And several local veggies, fruits Tamarella or Terong Belanda and gold fish [ikan mas].
*Visit Batu Tumonga Plateu; It means stone that facing to the sky. From here can be seen many volcanic stones comes up in between padi fields. And, several giant stones became cave graveyard. The views is pretty awesome. The huge of Tana Toraja [Toraja land] looks so lush and greenery. Like a patchwork in gradation hue of green color
*Palawa is an excellent village to visit a Tongkonan, or a burial place still swarming with celebrations and festivals.
*Take a side trip from Rantepao to Kete, a traditional village with excellent handicraft shops. Behind the village on a hillside is a grave site with lifesize statues guarding over old coffins
Most of the times, you can't eat at these locations; however more warung and restaurants appear along the road. You can also bring your own foods and drinks. (http://www.my-indonesia.info)

24 Pulau Hilang dan Laju Deforestasi Tetap Tinggi

JAKARTA-MI. Sebanyak 24 pulau di Indonesia hilang sepanjang 2005-2007 akibat perubahan iklim dan pemanasan global yang ditandai kenaikan permukaan air laut sehingga berdampak pada kondisi fisio-geografis Indonesia.
Hal itu diungkapkan pada buku laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia (SLHI) yang diluncurkan Menteri Lingkungan Hidup (Men-LH) Rachmat Witoelar di Jakarta, Jumat (28/11) sore.
Pada SLHI 2007, sebanyak 24 pulau yang hilang berada di wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatra Utara, Papua, Kepulauan Riau, Sumatra Barat, Sulawesi Selatan, dan kawasan Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta.
Berdasarkan laporan Lembaga Antariksan Nasional (Lapan) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Indonesia memiliki luas 5.193.252 kilometer persegi yang terdiri dari daratan dan lautan dengan 18.110 pulau.
Pulau-pulau kecil yang dimiliki Indonesia, menurut laporan tersebut, memang sangat rentan tenggelam dengan naiknya permukaan laut yang disebabkan pemanasan global.
Laporan SLHI 2007 juga mengungkapkan sektor kehutanan. Ternyata laju deforestasi di Indonesia masih tergolong tinggi. Pada periode 2000-2006 diperkirakan laju deforestasi mencapai sekitar 1,09 juta hektare per tahun. Laju deforestasi tertinggi terjadi di wilayah Sumatra dan Kalimantan.
Dampak dari laju deforestasi yang tinggi itu menyebabkan timbulnya jutaan hektare lahan kritis. Lahan kritis diperkirakan telah mencapai 77 juta hektare. Lahan itu berada di dalam kawasan hutan dan luar kawasan hutan.
Lahan kritis terluas berada di Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Riau. Tingginya laju deforestasi dan kerusakan lahan disebabkan berbagai faktor. Alih fungsi lahan untuk pertanian dan perkebunan merupakan faktor terbesar terjadinya deforestasi.
Pengembangan perkebunan, khususnya sawit di Provinsi Riau, menjadi tingkat deforestasi tertinggi. Selain itu, kegiatan pertambangan dan transmigrasi, khususnya tambang batu bara telah mengakibatkan alih fungsi lahan dan hutan.
Penebangan liar dan perambahan hutan juga memberi dampak yang cukup berarti pada kerusakan lahan dan hutan. Tetapi terkait dengan kerusakan hutan dan lahan akibat kebakaran selama 2007 mengalami penurunan.
Jumlah hotspot atau titik panas pada 2007 yang terdeteksi menurun setengahnya. Jika pada 2006 tercatat 31.938 hotspot pada 2007 menjadi 16.045 hotspot.
Permasalahan lain yang masih mengkhawatirkan adalah terjadinya peningkatan penggunaan penggunaan atau pemanfaatan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Asosiasi Pengelola Limbah B3 Indonesia (APLI) menyebutkan bahwa pada 2007 produksi limbah B3 mencapai 3.023.385 ton.
Jenis limbah utama berupa limbah sludge minyak, abu batu bara, sludge IPAL, slag baja, copper slag, pelumas bekas, limbah rags, slugde scale, dan aki bekas.
Industri pertambangan merupakan salah satu industri yang menyumbang limbah B3 dalam jumlah besar. Pada 2007 industri pertambangan menghasilkan limbah B3 berupa lumpur minyak 329,13 ton, baterai bekas 183,6 ton, bahan terkontaminasi minyak 914,02 ton, dan oli bekas 19.471.604 liter.
Pada sambutannya, Plt Deputi Men-LH Bidang Pembinaan Sarana Teknis dan Peningkatan Kapasitas Sri Hudyastuti mengatakan laporan SLHI ditujukan untuk mendukung pengambilan keputusan yang memadai bagi terciptanya pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Sementara itu Men-LH Rachmat Witoelar menyatakan penyusunan SLHI dilakukan sebagai bagian dari akuntabilitas publik di bidang pengelolaan lingkungan hidup. "Ini juga merupakan pemenuhan amanat UU No 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup," ujarnya.(Deri Dahuri)
 

Copyright 2010 halaman agus.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.