Friday, February 27, 2009

Pesta Kapurung

Hari Sabtu adalah hari libur bagi orang kantoran lainnya. Tapi sebenarnya tidak juga sih buat aku, karena kalau hari Sabtu ama Minggu, aku harus nagnaterin istriku bekerja, ya maklum kerja di perusahaan swasta yang jenis retail otomatis hari libur adalah hari ramai. Jadinya, ya gitu deh, pukul 8 pagi saya sudah menyalakan Honda Supra x milik istri saya, tidak lama kami sudah meluncur membelah padatnya jalan Ahmad Yani kota Malang. 

Ada sekitar 6 lampu merah yang harus kami lewatin sebelum sampai ke tempat kerja istriku. Setelah mengantar istri saya, kalau tidak ada kegiatan biasanya saya akan mampir ke rumah orang tua saya di sisi lain kota Malang, sekedar mengetahui keadaan beliau berdua dan mencicipi masakan ibu. 

Kebetulan, hari itu ibu saya memasak Kapurung atau apogalu. Sebuah masakan yang berbahan dasar dari sagu untuk menu utamanya. Sagu itu di rebus kemudian dibuat bulat-bulat. Pelengkapnya ada sayur yang bening yang terdiri atas beberapa jenis sayuran yang dimasak dengan bumbu tertentu. Kemudian juga ada ikan yang dimasak dan diambil dagingnya saja lalu ditempatkan dalam sebuah mangkok. Tidak lupa tersaji sambal yang didalamnya ada teri. hmmm... benar membangkitkan selera.


Tapi ketika saya datang itu semua dalam proses pemasakan. "gus, nanti istrimu ajak kesini pulang dari kantor, kan ini sabtu masuk setengah hari sajakan." Ujar ibuku membuyarkan lamunanku akan sedapnya apogalu itu nanti. "tadi ibu sudah telpon dia untuk ke rumah pulang dari kantor". Ujar ibuku untuk lebih mengingatkan aku.


Hari Sabtu dan Minggu memang istriku bekerja setengah hari, karena dia hanya boleh libur dihari lain selain hari Sabtu dan Minggu. Dan biasanya kalau sudah siang hari sekitar jam satu saya akan meluncur kembali ke kantor istriku di sekitar Stadion Gajayana Malang. Jalanan sekitar stadion ini akan saya hindari jika ada pertandingan sepak bola, karena pasti jalan disekitar stadion akan penuh oleh supporter yang berjalan kaki dan tentu menjadi tempat parkiran dadakan.

Jam di hape saya menunjukkan pukul 13.25 WIB, sesaat kemudian istriku berlari-lari kecil mendekati sepeda motor ini. Dengan cepat diraihnya helm yang kusodorkan, kemudian dikenakannya dan langsung nangkring dibelakang ku. "Ayo cepet-cepet ke rumah ibu, ibu masak kapurung neh..", katanya dengan penuh semangat. "Jangan sampai telat entar kalah deh ama rina, dia kan sabtu ya setengah hari juga kerjanya", ujarnya lagi sambil memeluk erat pinggangku. Tidak kalah semangat aku juga memacu sepeda motor ini menuju ke rumah ibu diseputaran rampal.


Uihhh.. benar saja, Rina sudah nangkring di meja makan, " mas, mbak ayo bergabung, ibu masak kapurung nih." Tidak menunggu lama kamipun bergabung dengan Rina, langsung memakan apogalu yang tersedia. Mmmmm... sedap dan segar. Wah jarang-jarang neh masak kapurung seperti ini. Paling agak sering waktu Rina hamil, ngidamnya makan kapurung terus. Idih ngidam apa suka tuh ...

Thursday, February 26, 2009

Najiboen

Beberapa hari ini saya seperti mati ide. binyun deh. Padahal kadang ide menumpuk disaat yang kurang tepat. Ide sering hinggap ketika saya di dalam bis pulang ke Malang sore hari. Diiringi teriakan fals tukang kacang ama pengamen yang bersaing memerdukan suara, dan suara hujan deras diluar bis dengan kilat yang saling menyambar. Clink... tiba-tiba ide nongol begitu aja. Tapi, mau posting dari mana kalau sudah begitu, yang ada juga asyik ngelamun dengan ide-ide tadi.
Pagi, pagi sekali, tapatnya jam baru pukul 06.10 WIB aku sudah nongol dikantor. Gile gak abis pikir sepagi ini sudah nongol dikantor, berangkat dari Malang habis sholat Subuh, tujuan utama biar gak kepanasan di bis yang sesak bersaing dengan buruh-buruh pabrik rokok Sukorejo. Beh..
Langsung ke ruang Tata Usaha untuk nyomot alias nyolek tombol biru menyala dengan jempolku. Tit tut.. suara nyaringnya bertanda jempolku diterima dengan baik. Biasa presensi pagi, entar pulang juga nyolek tuh tombol, mending kalo seksi enak nyoleknya. Secepatnya saya langkahi tangga menuju ruangan kerjaku di lantai dua, masih sepi, pak Rus yang bagian ngepel juga belum ke lantai ini. Komputer aku nyalakan dan langsung cek email dan facebook. Gak dinyana, ada permintaan berteman dari seseorang bernama Saleh. Mukanya sih mirip dengan teman saya dulu pas dulu kelas satu es em a. Tapi, kami semua "the malsef" biasa memanggilnya Najiboen, karena dia keturunan arab. Putih, cakep, suka nyengir, gak tinggi, en suka celana dengan karet kolor. Aneh.
Saya konfirmasi tuh saleh, apa dia najiboen, tapi gimana juga ajakan pertemanannya saya terima, tidak lupa saya lihatlah beberapa fotonya di profile. Saya semakin yakin seyakin-yakinnya kalo itu najiboen ya walaupun lebih gemuk. Yang bikin saya ragu dua orang anak yang digendongnya, kok cina semua. husss..kalo dibaca entar disangka SARA lagi, maaf kok keturunan tiongkok ya. Tapi sudahlah ...
Agak siang ada sms masuk ke hape motorola E398 ku, bunyinya menanyakan kabarku dan memberitahukan kalau dia najiboen. Weh gembira sekali, akhirnya kita sms-an deh, kayak abg lagi chatting.
Hari itu saya benar-benar terkenang ama najiboen, sampai-sampai di bis juga masih ngingetin si najiboen. Ya walaupun dia cuma 1 semester di sekolah saya, tapi karena kelucuan dan keluguannya begitu mengenang. Lain dah dengan anak kebanyakan. Termasuk pilihan jodohnya sekarang, dia membenarkan kalau istrinya itu orang Tiongkok dari marga xi hua hua. hihihihi hidup memang aneh. Padahal pas jaman SMA dulu dia malu banget ama cewek walau sebetulnya ngebet ama si Desi, cewek kelas sebelah. Akhirnya malah sering pandang-pandangan dari teras kelas aja, idih kayak filemnya rano karno ama yessi gusman, hwa..hwa..hwa.
Tapi saya salut juga ama dia, karena dia mau pindah ke Mojokerto, akhirnya dia beranikan diri untuk mendatangi desi untuk berpamit dan memberikan sapu tangannya yang telah ia tulisi. Wah ... sok dramatis. Selain itu sempet-sempetnya dia pamitan malem-malem ke rumahku en ke beberapa rumah temennya. Lucu banget. Kata temen-temen Malsef, maksud hati pindah ke Malang biar dapet sekolah favorit eh malah ketrimanya di SMAN 5 Malang yang waktu itu masih jauh dari favorit. hehehe ... najiboen najiboen...

Wednesday, February 25, 2009

Enam Pembalak Liar Tewas Diterkam Harimau

JAMBI - Pembalakan liar di Pulau Sumatera membuat marah si raja rimba, harimau. Dalam sebulan terakhir, enam dari tujuh orang tewas diterkam harimau di kawasan hutan produksi di Kabupaten Muarojambi, Jambi.
Kasus terakhir menimpa warga bernama Khoiri, 20 tahun, yang tewas di Sungaigelam, Minggu lalu. Sekitar 2 kilometer dari lokasi tewasnya Khoiri, Jumat lalu, harimau juga menyerang hingga menewaskan Mat Ali, 50 tahun, dan Nana bin Mat Ali, 17 tahun.
Adapun tiga korban tewas lainnya di Desa Pematangraman, Kecamatan Kumpeh Ilir, adalah Raba'i (24 Januari), serta Suyut dan Imam Mujianto (28 Januari).
Pada 4 Februari lalu, harimau menerkam Sutiyono di kawasan Desa Mekarsari, Kecamatan Kumpehilir. Sutiyono masih beruntung karena hanya mengalami luka cakaran di bagian paha dan tangan.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSD) Jambi Didy Wurdjanto menduga tiga korban tewas dalam tiga hari terakhir merupakan pelaku pembalakan liar di hutan Paal VII Sungai Gelam.
"Diduga mereka pembalak liar," kata Didy di Jambi kemarin. Alasannya, kata Didy, lokasi ditemukannya korban tewas merupakan tempat praktek pembalakan liar besar-besaran. Tim BKSDA Jambi juga menemukan bukti berbagai jenis kayu yang telah ditebang, baik yang sudah digergaji maupun yang masih berbentuk kayu bulat.
"Lokasi tewasnya korban dimangsa harimau adalah lokasi pembalakan liar," ujar Deddy. Di sana petugas juga menemukan 10 pondok milik sekitar 60 orang pelaku pembalakan liar.
Kayu-kayu yang merupakan barang bukti tersebut dibakar di lokasi oleh petugas. "Alasannya, biaya angkut kayu dari lokasi ke luar area mahal," katanya.
Pihak BKSDA, kata Didy, mencurigai seorang cukong berinisial Her, yang menanggung seluruh biaya pemulangan jenazah kedua korban yang diterkam harimau, Jumat lalu. "Kami curiga kalau Her itu adalah cukong praktek pembalakan liar di hutan produksi Sungai Gelam," ujarnya.
Menurut Didy, kawasan hutan produksi Sungai Gelam, yang luasnya mencapai 50 ribu hektare, kini menjadi sasaran penjarah kayu. Padahal kawasan hutan tersebut merupakan habitat sekitar 20 ekor harimau Sumatera. (Koran Tempo 24/02/09)

Thursday, February 19, 2009

p a n i k


Kuayunkan langkahku dengan cepat, secepat mungkin yang aku bisa, ku tak bisa berlari. Banyak orang disekelilingku. Mall ini begitu ramai hari minggu ini. Tapi aku tak peduli, langkah-langkahku seolah tak ingin berkompromi. Udara yang kuhisap terasa dingin. Pandanganku nanar. Panik begitu mendekap otakku. Keras sekali. Uhh... kutak menyangka menyerangku disini, dan aku tak sanggup mengatasinya. Kuiikuti keingannannya. Berjalan secepat mungkin keluar dari mall ini. kunaiki ekskalator, tinggal satu hall besar penuh orang yang harus kelalaui, setelah itu pintu keluar telang menungguku. 

Rasanya hampir pingsan kudekap panik. Istriku berusaha mengejar langkah-langkahku di belakang. Dadaku semakin dingin, udara disekitarku terasa bertambah dingin. Aku begitu takut dan sangat takut sekali. Pintu keluar mall berhasil kulalui, kuturunin tangga mall ini, kucari tempat yang lapang. Kuhentikan langkahku. Kutarik nafas sebanyak mungkin, hangat, hangat sekali. Darah hangat serasa mengalir diseluruh jaringan paru-paruku dan mengalir keatas, ke otakku. Kunikmati aliran ini, detak jantungku perlahan menurun kecepatannya. Panikku mulai menurun juga. Kurasakan basah diseluruh telapak tanganku.

"Paniknya kambuh ya mas..", tanya istriku. Pandangan gandaku menyapu habis raut ayu wajahnya, tak bisa disembunyikan cemas olehnya. "Iya.." sahutku dengan masih berusaha mengatur nafasku. Setelah aku cukup sadar dan telah kembali dari kepanikkanku, kami meninggalkan mall itu. Kami susuri trotoar sepanjang jalan Veteran Malang yang rindang. Tanganku dipegang erat istriku, seolah tak ingin aku mengalami kepanikan seperti itu lagi. Langkah jalanku tak lagi cepat, pandanganku masih ganda. Kulihat semua didepanku ganda, kadang kupicingkan mata agar aku tidak pusing melihatnya.

Aku masih ingat bujukan dokter spesialis itu, bahwa pandanganku akan normal kembali asal rajin minum vitamin otak dan melakukan gerakan mata yang kuanggap senam. Dan aku bertambah semangat, ketika disuatu antrian menunggu panggilan dari dokter, kuberjumpa seorang pasien yang dulu seperti aku. Diyakinkannya aku, bahwa pandangan itu akan sembuh seperti halnya yang pernah ia alami.


Ku sangat bersyukur, atas mukjizat yang Alloh turunkan padaku, selamat dari kecelakaan yang hampir merenggut nyawaku. Tempurung kepalaku dibuka untuk mengeluarkan darah yang telah mengepung otakku yang membuat aku harus tidur manis selama sebulan di rumah sakit. Kubersyukur diberikan orang tua dan keluarga serta sahabat yang begitu peduli kepadaku.

Dan tak ada habisnya rasa syukurku, dalam masa terapi, istriku paham yang terjadi padaku. Secara psikis aku sering diserang panik, dan setiap kambuh panik itu, kami cari pencetusnya. Dan perlahan kami cari jalan keluarnya agar tingkat panik yang terjadi dapat dikurangi.
Seperti hari minggu pagi seperti ini, istriku mengajak aku berjalan-jalan keluar rumah, ke lapangan rampal, menelusuri jalanan kota Malang. Ke mall atau kemana saja agar aku terbiasa melangkahkan kakiku, mengayunkan tangan kiriku yang sempat lumpuh, dan bertemu orang dalam jumlah banyak yang belakangan kami ketahui sebagai salah satu pencetus keluarnya panik tersebut. Perlahan tapi pasti, saya berusaha membunuh panik itu, dengan sering menjumpai pencentusnya, dan saya dapat meredam setiap panik yang datang. Terima kasih ya Alloh.

Wednesday, February 18, 2009

Dosa Sepotong Hamburger

CHICAGO - Jika Anda peduli lingkungan dan ingin berpartisipasi mencegah bumi semakin panas, mungkin Anda harus membatasi makanan yang satu ini, hamburger. Para peneliti menyatakan roti berisi selapis daging itu ibarat mobil Hummer-nya di dunia makanan.
Hanya dengan mengubah menu dari steak menjadi salad, akan memangkas karbon yang setara dengan meninggalkan mobil di rumah dua hari dalam sepekan. Ini karena untuk menghasilkan sepotong daging sapi harus melalui serangkaian prosedur yang sangat tidak efisien. Apalagi sapi mengeluarkan gas metana yang berbahaya ke atmosfer, kata Nathan Pelletier dari Dalhousie University di Kanada.
Pelletier adalah salah satu ilmuwan yang mempelajari ongkos lingkungan mulai dari lapangan sampai tersaji dalam piring. Dengan mempelajari segalanya, dari berapa banyak biji-bijian yang dilahap seekor sapi sampai siap dipotong, hingga emisi yang dilepas oleh kotorannya, mereka memperoleh gagasan yang lebih jelas tentang ongkos pangan yang sebenarnya.
Sektor peternakan diperkirakan bertanggung jawab atas 18 persen emisi gas rumah kaca global dan daging sapi adalah penjahat utamanya. Sekalipun daging sapi hanya mencakup 30 persen konsumsi daging di negara-negara maju, dia bertanggung jawab atas 78 persen emisi tersebut, kata Pelletier dalam pertemuan American Association for the Advancement of Science, akhir pekan lalu.
Pelletier membeberkan bahwa satu kilogram daging sapi menghasilkan emisi yang setara dengan 16 kilogram karbon dioksida, atau empat kali lipat lebih tinggi dibanding daging babi, dan 10 kali lipat daripada satu kilogram daging unggas, menurut Pelletier. Jika orang mau beralih dari daging sapi ke ayam, emisi akan dipangkas hingga 70 persen.

Bagian lain dari masalah ini adalah kecenderungan orang makan lebih banyak daging sapi ketimbang kebutuhannya. "Dulu daging sapi adalah barang mewah dalam diet kita," kata Pelletier. "Kita biasa memakannya sekali dalam seminggu. Kini kita memakannya setiap hari."

Jika konsumsi daging di negara maju diturunkan dari tingkat konsumsi saat ini dari 90 kilogram setahun ke level yang direkomendasikan 53 kilogram setahun, emisi dari sektor peternakan bakal turun 44 persen.
(Koran Tempo 18/02/09)

Monday, February 16, 2009

P o n A r i

Beberapa minggu terakhir ini atau bahkan beberapa hari belakangan berita seputar seorang bocah yang memiliki nama Ponari yang berasal dari sebuah desa di Kabupaten Jombang cukup menyita berbagai pemberitaan baik itu televisi maupun media cetak. Berawal dari sambaran petir yang kemudia ditemukan batu berwarna cokelat oleh si bocah, yang alih-alih kemudian diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Dari berita mulut ke mulut inilah akhirnya mendatangkan ribuan orang ke desa tempat Ponari tinggal, untuk meminta air yang dicelupin batu tersebut agar penyakit yang mereka atau saudara mereka punyai sembuh. Bukan kesembuhan yang didapat, 4 orang tewas karena antrian yang memakan waktu hingga berhari-hari.
Bahkan, setelah praktik dukun cilik tersebut ditutup oleh pihak kepolisianpun masyarakat masih tetap berduyun-duyun datang ke rumah Ponari. Belakangan tindakan mereka sudah bertambah tidak rasional, air bekas mandi Ponari-pun yang telah menggenang di comberan-pun tetap diambil yang kemudian diminum, tanpa ada rasa jijik dan berlogika.
Saya yakin, banyak yang terluka dan sedih atas kejadian seperti ini. Betapa masyarakat kita sangat dengan mudah terprovokasi (yang halus apa ya..), dan dapat bertindak diluar logika. Bahkan dimata saya yang sangat awam agama, saya menilai hal ini sudah masuk syirik. Apa ini sebagai salah satu tanda betapa pendidikan di negara kita masih sangat rendah, sehingga dengan mudah akal sehat ditinggalkan. Atau masyarakat kita sudah demikian putus asa akan sistem kesehatan di bangsa ini, dimana untuk berobat dan membeli obat adalah barang yang mahal di negeri ini. Sehingga apapun yang tidak masuk akalpun akan dijalani demi mempercayai dan mendapatkan pengobatan yang bersifat murah, walaupun sangat tidak berlogika pengobatannya.
Kefakiran membuat lebih dekat terhadap kekufuran.

Friday, February 13, 2009

Keunikan Galapagos

Kepulauan Galapagos adalah rumah bagi berbagai spesies binatang langka yang endemik di gugus pulau vulkanis yang terisolasi di Samudra Pasifik. Satwa dengan karakteristik berbeda dengan binatang serupa yang dijumpai Charles Darwin di Inggris itulah yang menjadi bukti kunci dalam studinya tentang evolusi spesies.

Darwin dan beberapa sahabatnya, termasuk Alfred Wallace, sudah lama tertarik pada proses pembentukan spesies dan membuat teori untuk menjelaskan perubahan itu. Namun, satwa-satwa aneh yang ditemukannya di Galapagos yang akhirnya mencerahkan benak Darwin dan menjadi dasar teori seleksi alam yang mengubah ilmu biologi selamanya.

Ketika naturalis Inggris muda itu mendarat di Pulau San Cristobal, Galapagos, pada 1835, dia membandingkan tempat yang panas dan berdebu tersebut dengan api neraka dan terkejut melihat binatang berbentuk ganjil yang kelihatannya tak takut kepada manusia.

Binatang liar yang hidup di Galapagos memang hampir tak pernah bersinggungan dengan manusia sehingga mereka tak punya alasan untuk takut. Ketika manusia pertama kali menginjak kepulauan itu pada 1535, satwa di sana telah menghabiskan ribuan tahun beradaptasi dengan lingkungan yang menjadi rumahnya.

Terletak 805 kilometer dari pantai barat Amerika Selatan, kondisi unik dari kepulauan yang terisolasi itu menciptakan beragam jenis binatang yang berbeda dengan kerabatnya di belahan dunia lainnya. Bahkan antarpulau pun menunjukkan ciri berlainan. Kura-kura raksasa, misalnya, tumbuh begitu besar karena nenek moyangnya, kura-kura kecil yang berenang dari daratan ke pulau itu, tidak perlu lagi bersembunyi karena tidak adanya predator di sana.

Darwin mengobservasi kura-kura raksasa, iguana, dan singa laut di Galapagos, tapi beragam spesies burung di pulau itu menangkap perhatiannya. Tak kurang dari 85 persen burung Galapagos tidak bisa ditemukan di tempat lainnya, termasuk burung finch, yang terkenal.

Ada 13 spesies burung finch yang endemik di Kepulauan Galapagos. Bentuknya serupa dengan burung finch di Eropa, kecuali ukuran dan bentuk paruhnya. Paruh itu membantu mereka mengeksplorasi sumber makanan yang berbeda di kepulauan tersebut. Beberapa di antaranya makan seperti burung pelatuk, ada pula yang menggunakan ranting untuk menggali serangga keluar dari lubang, sedangkan yang lain mematuki kutu dari punggung kura-kura.

Selama lima pekan pada 1835, Darwin melakukan observasi tentang burung-burung aneh di setiap pulau, namun belum punya gagasan apa pun tentang perbedaan itu. Baru pada 1839, Darwin berhasil menelurkan teorinya tentang seleksi alam setelah membandingkan hasil pengamatannya dengan hasil pengamatan rekannya sesama ilmuwan.

Dia menduga setiap binatang yang dikumpulkannya telah beradaptasi dalam lingkungan yang spesifik selama beberapa generasi karena nenek moyangnya memiliki karakteristik yang sesuai bagi kelangsungan hidupnya dan keturunannya. Gagasan bahwa binatang berkembang secara bertahap dari sederhana menjadi kompleks ini sebenarnya sudah dikemukakan naturalis lain pada akhir abad ke-18, namun mereka tak bisa menjelaskan bagaimana transformasi itu terjadi.

Seleksi alam yang terekam di Kepulauan Galapaogoslah membuktikan teori tersebut. Meski memiliki semua bukti, baru 20 tahun kemudian Darwin merasa cukup yakin untuk mempublikasikan bukunya yang termasyhur, The Origin of Species. (Koran Tempo, 12/02/2009)

Alarm Tombol Caps Lock

Tak sengaja menekan tombol Caps Lock, Num Lock, atau Scroll Lock saat mengetik? Untuk mencegah kesalahan ketik karena menekan tombol-tombol itu, aktifkan alarm pada keyboard. Caranya:
  • Klik Start, Control Panel, dan klik link Ease of Access.
  • Klik link "Change how your keyboard works". Gulung layar ke bawah di tengah halaman, beri tanda centang pada boks "Turn on Toggle Keys".
  • Anda telah mengaktifkan suara "bip" tiap kali menekan Caps Lock, Num Lock, atau Scroll Lock.

Tuesday, February 10, 2009

Berkat TOA

Saya berlari-lari kecil menyusuri lorong kantor menuju Mushola, waktu sudah mendekati pukul 3 sore, sebentar lagi Ashar. Beberapa orang nampak berkerumun di teras mushola, tampak ketawa ketiwi, "gus, gimana neh mati lampu, gak bisa adzan, ntar orang-orang kantor depan gak tau kalo sudah Ashar". "Eh gini aja gus, tuh mobil Strada dimundurin ke deket Mushola, kan ada pengeras suaranya, jadi biar adzan-nya kedengaran sampai depan". Wah iya juga pikirku, segera saya meluncur untuk mengambil kunci mobil. Belum genap 5 langkah saya berhenti dan balik lagi ke Pak Waji, "lha ngapain pake mobil strada segala, kan kita punya TOA", "wah iya tuh, boleh-boleh, ambil gih TOA - nya".
Tidak sampai 2 menit saya sudah sampai lagi ke teras mushola sambil menyerahkan TOA ke Pak Waji, tidak lupa saya uji coba dulu, wew lumayan keras juga. "Udah gih pak ke pojokan terus itu untuk adzan, atau sekalian naek ke genteng, biar tambah membahana suara adzannya, kan dah ada TOA", ujarku sekenanya. "Membahana gundulmu, yang ada juga ntar masuk rumah sakit..".
5 menit kemudian, ketika saya berada diruang kerja yang letaknya di lantai 2, saya dengar suara adzan yang keluar dari TOA. Wah dari suaranya, Solikhin yang adzan ini, lumayan keras juga. Kalau dilihat mungkin kayak orang yang lagi orasi pas demo. Tapi yang penting tujuan Adzan tercapai, gak berapa lama, orang-orang kantor depan sudah pada berduyun - duyun datang untuk sholat Ashar berjamaah.

Friday, February 6, 2009

BKSDA Gagalkan Pengiriman Ribuan "Kepala Kambing"

Kendari, (ANTARA News) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tenggara (Sultra) menggagalkan pengiriman satu kontainer cangkang "kepala kambing" (Casiscornuta: bahasa latin) dari pelabuhan Kendari tujuan Surabaya, Jatim.
Kasie Konservasi dan Satwa Liar BKSDA Sultra, Sukrianto di Kendari, Kamis, mengatakan, "kepala kambing" --biasa masyarakat menyebutnya-- termasuk satwa dilindungi sebagaimana diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1998 tentang Pengawetan Tumbuhan dan satwa Liar.
Keberadaan 7000 "kepala kambing" (sejenis kerang) terungkap dari laporan masyarakat bahwa ada oknum yang berencana mengapalkan dengan tujuan Surabaya.
Berdasarkan informasi tersebut, kata Sukrianto, aparat BKSDA melakukan penyelidikan dengan temuan bahwa oknum pengusaha berdalih mengapalkan rumput laut tetapi ternyata berupa "kepala kambing" yang termasuk satwa dilindungi.
Oknum pengusaha berinisial FJ (53) yang belum dimintai keterangan terancam hukuman pidana penjara maksimal lima tahun dan denda Rp100 juta.
"Penyidik BKSDA sudah memintai keterangan sejumlah saksi, namun belum menetapkan tersangka. Kasusnya masih dalam pendalaman," kata Sukrianto.
Berdasarkan keterangan saksi bahwa target pengadaan/pengiriman "kepala kambing" oleh oknum pengusaha yang disinyalir memiliki beking sebanyak 20.000 ekor.
Satwa dilindungi yang bernilai ekonomi tersebut dikumpulkan dari nelayan wilayah pesisir Sultra, juga dari Pulau Banggai (Sulteng) dengan harga bervariasi antara Rp2.500/ekor sampai Rp5000/ekor.
Kasat Reskrim Polresta Kendari, AKP Samin, S.Ik mengatakan, penyidik Kepolisian bekerjasama dengan BKSDA melakukan pengusutan sesuai kewenangan yang dimiliki.
Penyidikan BKSDA spesifik pada satwa dilindungi berdasarkan undang undang konservasi, sedangkan Kepolisian menangani masalah pidana umum karena mungkin saja terjadi pemalsuan atau penggelapan.
"Penyidik belum menetapkan siapa tersangka dalam masalah ini karena masih dalam pengembangan. Sudah ada saksi yang dimintai keterangan sedangkan oknum pengusaha berinisial JF (53) belum diketahui keberadaannya," katanya.
Petugas Karantina Ikan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Thamrin mengatakan pihaknya bersedia membantu jika dalam penanganan perkara tersebut dibutuhkan.
"Temuan Casiscornuta atau masyarakat menyebutnya "kepala kambing" menjadi kewenangan BKSDA karena termasuk satwa dilindungi, namun kami siap membantu jika dibutuhkan," kata Thamrin.(*)

Note : Ayo - ayo sikat semua, agar satwa liar kita tetap terlindungi, jangan sampai anak cucu kita hanya bisa lihat fotonya saja karena sudah pada punah.

Thursday, February 5, 2009

Virus - Virus

Beberapa minggu ini setelah komputer-komputer kantor diobrak abrik virus republik dan harry potter, akhirnya minggu ini praktis kegiatan dengan komputer terbatas. Internet terputus, sharing antar komputer diputus, dan perbaikan dimana-mana. Jadinya, kerja menjadi lambat dan ya gini... blogging jadi gak lancar, hehehe. Cape deh...
 

Copyright 2010 halaman agus.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.