Monday, December 14, 2009

Manfaat Sedotan

Suatu ketika saya dengan teman-teman sedang makan sate. Kemudian seorang teman menyatakan betapa ia ngeri setiap melihat sate yang potongannya besar-besar.
"Kenapa?" tanya saya.
"Saya ingat keponakan yang meninggal karena makan sate," katanya. Dia bercerita, waktu itu sedang ada syukuran dengan makan-makan. Dia masih ingat melihat si kecil keponakannya yang berlari-lari sambil membawa sate. Usianya sekitar 4 tahun.

Kemudian musibah datang. Anak kecil itu tercekik daging sate. Semua orang berusaha menolong. Anak itu dibalik, dipukul-pukul belakang lehernya (bahkan sampai biru-biru, kata dia sambil matanya berkaca-kaca) . Daging sate tak juga keluar. Lalu mereka mencari angkot untuk membawa anak itu ke rumah sakit. Dia masih melihat anak kecil itu tersengal-sengal menarik nafas di kendaraan. Pemandangan yang sungguh memilukan.

Tuhan berkehendak lain. Anak itu meninggal di perjalanan.

Sampai di rumah sakit, petugas memberi tahu bahwa untuk mengeluarkan benda yang mencekik tenggorokan, cukup dengan memasukkan SEDOTAN MINUM ke kerongkongan. Lalu hisap sehingga benda itu menempel.. Lalu tarik.

Sesederhana itu.

Menangislah semua orang. Betapa sederhananya untuk menyelamatkan nyawa. Betapa berharganya ilmu untuk menyelamatkan nyawa.

KALAU ANAK ANDA TERCEKIK MAKANAN KENYAL, keluarkan PAKAI SEDOTAN!

Semoga lebih banyak jiwa yang terselamatkan dengan pengetahuan sederhana ini. Amin.

Wednesday, December 2, 2009

Greenpeace Gugat Peraturan Menhut Soal Hutan Riau

Pekanbaru (ANTARA News) - LSM lingkungan Greenpeace berencana menggugat Permenhut P.14/Menhut-II/2009 ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) karena menilai peraturan terkait pemberian izin alih fungsi hutan alam menjadi perkebunan akasia dinilai menyebabkan kerusakan lingkungan di Provinsi Riau.
"Permenhut itu mengakibatkan kerugian dari kerusakan lingkungan karena mengakibatkan hutan alam terutama di kawasan gambut dalam di Riau rusak dan beralih fungsi demi kepentingan perusahaan," kata Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, Bustar Maitar, di Pekanbaru, Minggu.
Bustar menjelaskan, peraturan tersebut diterbitkan oleh MS Kaban beberapa saat sebelum masa jabatannya berakhir sebagai Menteri Kehutanan pada tahun 2009.
Peraturan itu membuat izin rencana kerja tahunan (RKT) Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) tidak lagi ditandatangani oleh Kepala Dinas Kehutanan Riau dan diambil alih oleh Dirjen Bina Produksi Departemen Kehutanan.
Sejak dikeluarkannya peraturan tersebut, sekitar 318.360 hektar hutan alam di Provinsi Riau berubah fungsi menjadi kebun akasia untuk hutan tanaman industri.
Berdasarkan data Dinas Kehutanan Provinsi Riau, alih fungsi ratusan ribu hektare hutan alam tersebut berlandaskan pada 24 RKT IUPHHK-HT pada tahun 2009 yang langsung dikeluarkan oleh Dephut.
Potensi kayu yang berada di areal RKT hutan alam tersebut sangat besar karena mencapai 12,28 juta meter kubik.
"Menhut menilai peraturan itu dibuat karena adanya stagnasi RKT di Riau, namun Kepala Dinas Kehutanan Riau membantah hal itu dengan mengirimkan surat ke Menhut bahwa keputusan tidak mengeluarkan RKT dikarenakan lokasinya di hutan alam dan kawasan gambut yang dalamnya lebih dari tiga meter yang seharusnya dilindungi," katanya.
Selain itu, peraturan itu juga menjadi masalah baru akibat perizinan terhadap RKT yang diberikan diduga cacat hukum dan mengakibatkan konflik antara masyarakat di sekitar hutan dan perusahaan.
Ia menambahkan, Greenpeace sedang mengumpulkan bahan untuk melakukan gugatan yang akan segera dikirimkan ke PTUN.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Riau Zulkifli Yusuf mengatakan kerusakan hutan di Riau disebabkan aturan yang dibuat tumpang tindih terutama aturan yang dibuat oleh pemerintah pusat.
"Karena Menteri yang lama (MS Kaban) pada mei 2008, tidak akan ada lagi penambahan HTI di Riau. Tapi mengapa tahun 2009 `meledak` masih ada lagi izin yang keluar. Apalah daya saya," kata Zulkifli Yusuf.(*)

Friday, October 16, 2009

Makna Ikhlas

Sore hari udara segar berhembus, seorang pemuda telah menunaikan sholat Ashar di masjid Al-Hikmah. Pandangannya menyapu jalanan. Tidak banyak orang berlalu lalang di jalan. Terlihat kakek sedang beristirahat keletihan. Sepeda dengan sekarung besar rumput tergeletak disebelahnya. Wajahnya terlihat hitam terbakar oleh matahari. Seharian kakek mencari rumput untuk makang kambingnya. Beberapa kali kakek itu mendirikan sepeda tuanya tetapi terjatuh. Tak kuasa tubuhnya rapuh menahan beban berat. Wajah kakek meringis menahan kesakitan, mengiba seperti hendak minta pertolongan.

Melihat pemandangan seperti itu, pemuda yang dari tadi memperhatikan merasa terpanggil. Segera berlari menolong sang kakek, dengan sekuat tenaga dia mendirikan sepeda tuanya. Sekarung rumput diikatkan dibelakangnya. Setelah sepeda berdiri pemuda itu menuntunnya. Bercucuran keringat dipelipisnya. Tergopoh-gopoh pemuda membantu kakek menaiki sepedanya. Semangatnya berbuat baik telah mengalahkan semua keletihan yang dirasakan. Awalnya dia mengira akan melihat kakek tua itu tersenyum dan mengucapkan 'terima kasih ya nak..' Ternyata setengah merebut sepeda, kakek itu mengucapkan kata-kata yang tidak enak didengar telinga. Wajahnya bermuka masam tak sedap untuk dipandang.

Pemuda itu terperanjat melihat sikap sang kakek, berkali-kali dirinya beristighfar. Wajahnya terlihat memerah, berdiri mematung. Sikap kakek yang kasar telah membuatnya syok, kaget dan terkejut. 'Apakah ada yang salah dari perbuatan saya?' tanya pemuda itu dalam hati. pemuda itu membisu dan bersedih menyaksikan kakek yang pergi meninggalkan dirinnya dengan berlalu begitu saja. Pemuda itu mencari makna. 'barangkali inilah makna ikhlas,' ucapnya lirih.

Dengan langkah gontai menuju Rumah Amalia. Sesampainya di Rumah Amalia, pemuda itu bercerita pada saya, apa saja yang telah dialaminya. Saya katakan padanya, Dalam Surat At-Thuur ayat 21, Alloh SWT berfirman, '..dan Kami tidak mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka, Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.

"Jadi jangan pernah berharap apapun atau balasan dari perbuatan baik yang telah kita lakukan. Walaupun sekedar ucapan terima kasih maupun senyuman dari orang yang telah kita tolong. Lakukanlah semata-mata karena Alloh SWT itulah makna ikhlas." tutur saya padanya.

Malam temaram telah menyelemuti. Hatinya melihat secercah mutiara hikmah yang ditemukan pada hari ini. Wajahnya berhiaskan senyum. 'Subhanallah. .'Ucapnya berkali-kali. Mutiara hikmah bukan hanya ditemukan untuk pemuda itu saja namun juga buat saya. Makna ikhlas begitu teramat dalam. Sebuah perbuatan baik yang kita lakukan tidaklah berharap untuk mendapatkan pujian atau balasan dari orang lain sekalipun perbuatan baik itu kita lakukan kepada pasangan hidup kita dan juga anak kita sendiri sekalipun sebab Alloh SWT memuliakan kita dari perbuatan baik yang telah kita lakukan.

Dalam Surat At-Thuur ayat 21, Alloh SWT berfirman, '..dan Kami tidak mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka, Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (Agus Syafii)

Friday, July 17, 2009

Digampar ...

Usai apel saya menjajari langkah mbakyu Sakini. Pantatnya yang over montok, megal-megol seenaknya, kali kalau ada truk tronton lewat kena angin megolnya pasti terbalik. Bedaknya tebal serta mengkilat, dan yang menarik perhatian saya adalah bibir tebalnya yang super duper merah.
Saya : "Wah... Yu Kini habis bertengkar ya dengan suami?" ( tampang serius *mode on*)
Yu Kini : "Weh yo ora toh gus" ( weh enggak gus)
Yu Kini : "Lha kok iso awakmu nyimpulno ngono?" (lha kok kamu bisa menimpulkan begitu?)
Saya : "Weh... saya kira mulut Yu Kini habis digamparin suami sampai jontor dan merah gitu", ujarku sambil mempercepat langkah ...
Yu Kini : " Oooo.. pancene arek semprul... *%#^&%@@..!!!"

Monday, July 6, 2009

SBI (Sekolah Bikin Illfeel)

Musim Penerimaan Siswa Baru alias PSB baru aja digeber. Ada yang online ada juga yang manual alias langsung daftar ke sekolahannya. Termasuk seorang sepupuku yang baru aja mau masuk SMA. Saya diceritain ama Rina (adik kandung saya yang kini tinggal di Madura), bahwa NEM-nya bagus, rata-rata 8. "edan moncer poll otaknya, delok en (lihatlah) nilai matematikanya 10, opo ora edan toh", lanjut rina bercerita dengan semangat api-apinya.
Saya : " wah masuk sekolah negeri donk.."
Rina : " gak, swasta.."
Saya : " lho kok bisa begitu..?" tanya saya tambah bingung.
Ibu saya : " Lha gimana, Sekolah negeri sekarang uang gedungnya aja minimal 6 jutaan".
Rina : " iyo mas, SMA 5 Malang almamatermu dulu, yang dulu katamu bangunannya juelek dan kacanya pecah-pecah itu, uang gedungnya tahun kemarin aja 7 jutaan".
Saya : " lho kok bisa sih, kan sekolah negeri?"
Ibu saya : " itu loh katanya udah SBI - SBI gitu.., apaan sih itu, status ya?"
Saya : "Sekolah Berstandar Internasional kali..."
Masih Saya : " Jadinya dimasukkan swasta toh?"
Lagi-lagi Ibu saya : " Iya, tuh yang deket rumah, Akreditasi A juga kok, uang gedungnya 1 juta, itu udah termasuk seragam, buku, dan lain-lain, grupnya Taman Siswa.."
.........
Percakapan akhir pekan lalu itu masih menganggu saya, membuat saya kesel abis. Gimana enggak, ditengah-tengah jargon-jargon yang diiklanin di tipi setiap hari tentang sekolah gratis. Lagi pula, saya dulu milih sekolah negeri dengan alasan ya biayanya murah dengan kualitas yang cukup mumpuni.
Tapi, sekarang, keluarga sepupu saya udah grogi abis dengan uang gedungnya yang gede, dengan embel-embel tuh sekolahan SBI. BIKIN ILFIL banget.
Apa semua sekolah sekarang berlomba menjadi SBI untuk jadi alasan utama untuk mendongkrak biaya yang hendak diperas ke siswa baru ya... benar-benar harga pendidikan kita semakin meng-eksklusifkan diri dari rakyat seperti kita yang pas-pasan. Perasaan, petinggi-petinggi negeri kita ini dulu sekolahnya ya disekolah rakyat yang tidak berstandar internasional.
Jadi mana yang lebih penting donk, sekolah-sekolah di Indonesia banyak yang berstandar internasional termasuk sekolah negeri yang notabene sekolah rakyat, atau pendidikan merata bagi seluruh rakyat bangsa ini?

Tuesday, June 23, 2009

Lomba Foto

"Abi, umi udah sampai pasar Singosari neh", sahut istriku dari seberang telepon selular, dan segera saya naikin sepeda motor menuju ke halte depan gang Jalan Pahlawan. Yup, sore itu saya dan istri akan ke MOG untuk melihat perlombaan foto yang kami ikuti. Menurut jadwalnya sih, jam 17.00 WIB bakal diumumkan siapa pemenangnya.
tak lama berselang, bis Menggala yang ditumpangin istriku dari Surabaya tiba di halte, langsung deh kami membelah jalanan kota Malang sore itu menuju areal stadion Gajayana dimana letaknya MOG itu.
Semua, berawal dari adanya pengumuman adanya lomba foto untuk anak-anak di MOG dalam rangka ulang tahun MOG yang pertama. Ya kategorinya sih bermacam-macam, ada foto genic, foto lucu, foto ceria dan lainnya, bahkan lomba semacam fesyen show juga ada. Nah dari itulah istri saya pingin mengikutkan foto anak kami, kila, ke lomba itu, ya iseng-iseng aja. Akhirnya, kita lihat foto-fotonya di komputer untuk dicetak. Pilih sana pilih sisni, wah lumayan lama, karena fotonya Kila banayak banget, apalagi era digital gini, sebentar-sebentar jepret sana jepret sini. Wah tambah banyak, saking banyaknya sebagian sudah saya back up ke CD biar gak menuhin notebook di rumah.
Nah, kebetulan juga pas hari minggu kita sedang bersih-bersih rumah dengan mencuci horden jendela dan pintu yang berwarna putih, saking banyaknya terpaksa jemuran alumunium di belakang kita gelar di depan biar semua horden dapat kejemur dan kering sorenya. Melihat itu, kila seneng banget, dia bermain-main di sekitar jemuran. Wah melihat momennya bagus, segera saya ambil kamera digital saya. Jepret sana jepret sini, smua ketika Kila sedang asyik bermain di jemuran. Hihihihi lucu banget... Akhirnya kita dapet beberapa foto tambahan untuk dicetak.
Sebuah foto akhirnya diputuskan istri saya dikirim ke lomba tersebut, dia mengambil kategori Foto Lucu. Dan sore ini pengumumannya.
sekitar jam 5 sore lebihan dikit, dikit aja, pengumumannya dimulai. Saya dan istri santai aja, kita gak punya harapan gede-gede banget untuk menang, karena foto yang kita kirim cuman berasal dari kamera pocket digital 6 MP, ya jauh dari profesionallah, cuman karena iseng aja kita ngikutin, ya kali aja menang. hehehe.
Satu per satu kategori dibacakan, dan akhirnya tiba ke Kategori Foto Lucu. Ternyat pemenangnya dari Harapan 3 hingga juara 1. Ketika MC membaca pemenang Juara Harapan 1 adalah " Agysa fahiem..", wah agak ragu-ragu tapi sedikit yakin, karena kemungkinan si MC salah baca nama anak saya, bukan Agysa tapi Agsya. "Udah, abi aja yang maju", pinta istri saya. Saya pun mendatangi MC apakah yg dimaksud itu Agsya Fahiem Manna Kila, dan ternyata benar, wah bener-bener surprise deh, gak nyangka bisa menang, ya walaupun Harapan 1, kan ada harapan hehehe.
Akhirnya kami pulang meninggalkan MOG dengan membawa trophy dan sertifikat, sampainya di rumah, eh..kila sudah tidur. Istri yang sedari tadi sangat gembira dan ingin ngasih tau Kila akan kemenangan ini, segera saya cegah karena Kila sudah tidur. Akhirnya Trophy kita pajang di meja rias kamar yang letaknya lumayan tinggi, biar tidak terjangkau tangannya kila, bisa pecah nanti. Dan benar, sehari kemudian bagian atas trophy sudah patah karena disambar Kila. Hmmm... gak papalah, masih bisa diperbaiki ini. Dan inilah foto Kila yang dapet nomor juara harapan 1 itu.

Wednesday, May 27, 2009

Masih Tukik Disayang, Sudah Besar Jangan Dilepas

Siapa sangka reptil lucu, seperti kura- kura Brasil (Trachemys scripta) ternyata juga harus dicermati sebagai spesies asing invasif. Kura-kura jenis ini tergolong bersama virus malaria, jamur chytrid yang sekarang menjadi musuh populer bangsa kodok, eceng gondok, pohon lamtoro gung, keong mas, bekicot, ikan nila, dan monyet ekor panjang dalam daftar 100 spesies yang sangat membahayakan di muka bumi ini.
Kura-kura Brasil ketika masih tukik memang memiliki karapas hijau terang dan garis-garis kuning serta merah dari mata sampai gendang telinga. Tapi warna- warna menarik itu ketika dewasa berubah menjadi hijau gelap dan berpotensi membosankan. “Dan kalau sudah bosan, para pemilik biasanya akan melepaskannya ke alam,” ujar Mumpuni, peneliti bidang zoologi di Pusat Penelitian Biologi, LIPI.
Kura-kura jenis ini diimpor dari habitat alaminya di Amerika Serikat, dari Sungai Mississippi ke selatan sampai Texas dan Teluk Meksiko, berupa tukik karena pada usia itulah warnanya menarik. Kini, mereka yang dewasa diyakini sudah menetap dan berkembang biak di perairan umum di berbagai negara, terutama di Asia, termasuk Indonesia.

Memang belum ada laporan mengenai dampak negatif dari kura-kura Brasil terhadap jenis-jenis flora maupun fauna asli Indonesia. Namun, Mumpuni mengungkapkan, beberapa ekor sudah sering ditemui di perairan umum di beberapa daerah di Jawa, Sumatera, Kalimantan, bahkan Papua. “Di sana hidup pula fauna perairan asli,” kata Mumpuni.

Sebagai catatan saja, kura-kura Brasil ini tergolong tangguh karena dapat hidup pada berbagai habitat perairan, seperti kolam, danau, sungai, rawa, maupun bendungan. Mereka yang bisa berusia sampai 30 tahun mengusung strategi berendam dalam lumpur setiap menembus musim dingin. Kura kura ini hidup dengan memangsa berbagai macam binatang dan tumbuhan atau omnivora, di antaranya ikan, udang, keong, ketam, berudu, cacing, serangga air, dan berbagai jenis tumbuhan air.

Yang juga harus diingat, Mumpuni menambahkan, “Anakan kura-kura ini, meskipun populer sebagai peliharaan, kadang membawa penyakit yang dapat ditularkan pada manusia, yakni salmonella.” (Koran Tempo, 26/05/2009)

Sunday, May 24, 2009

Kembali ke Gajayana


Usai sholat Ashar, segera saya pacu Supra-X Honda menuju ke kawasan jalan Semeru. Tampaknya hujan sempat menguyur sebagian kota Malang sore itu. Jalanan basah.

Melewati kawasan stasiun kota baru, belok kanan ke arah balai kota, waduh ... arah jalan dialihkan ke Suropati, ada arak-arakan marching band yang dilepas dari depan balai kota. Saya baru teringat, kalau sejak hari Kamis ada kegiatan Malang Tempo Doeloe IV. Dan sore ini memasuki hari ketiga, rencananya hari minggu besok akan ditutup. Ya, kegiatan dimana sepanjang jalan Ijen yang menjadi ikon kota Malang ditutup dan dijadikan arena ala tempo dulu, ya mulai bangunan, makanan, pakaian, hingga suasananya disulap ala tempo dulu atau jaman penjajah.
Saya sempat mengerutu abis, kurang dari setengah jam lagi sepakbola bakal dimulai di Stadion Gajayana, dan saya sudah niat abis untuk menontonnya, bukan pertandingannya yang saya cari, tapi suasananya di dalam stadion yang bikin saya kangen abis. Dengan dialihkannya tuh arah lalu lintas, otomatis saya harus menembus kemacetan yang ditimbulkan arak-arakan marchingband itu melalui Pattimura, Jagung Suprapto, belok kanan kearah oro-oro dowo, belok kiri ke arah Arjuno, nyelonong ke kanan dan sampai di parkiran dadakan Gajayana.
Baru celingukan cari tempat parkir yang oke, udah didatangin calo tiket.
- Saya yang lagi celingukan : " piro ?" (berapa harga tiketnya?) idiih panjang banget artinya.
- Calo tiket yang sok akrab : "podo ae bos, sepuluh ewu" (sama saja dengan loket, sepuluh ribu aje) hii artinya kok tetep panjang.
Saya sempet ngelirik ama harga tiket yang tertera didalamnya, memang sepuluh ribu rupiah. Ya maklum, ini yang tanding Persema bukan Arema, jangan harap harga tiket sama kalau Arema yang main. Tapi sejak Super Liga, home base Arema pindah ke Stadion Kanjuruhan yang kapasitasnya super besar, 40 - 50 ribu, bandingkan dengan Gajayana setelah renovasi yang sekitar 25 ribu aja.
Setelah parkir, secepatnya saya masuki Stadion Gajayana. Syukur alhamdulillah belum mulai, dan penonton belum banyak, ya maklum sekali lagi, yang tanding bukan Arema. Saya ambil posisi di tribun utara yang baru direnovasi dan lebih tinggi, enak lihat pertandingannya, tinggi. Saya bersyukur abis, akhirnya terkabul bisa ke stadion ini lagi, ya diitung-itung 3 tahu lebih saya tidak masuk stadion ini, ya sejak nikah. Kangen abiss. Kangen merasakan aura gemuruh aremania bernyanyi, berloncat bersama-sama, memaki bebas, meluapkan kegembiraan ketika gol terjadi, fuuuh benar-benar membuat rindu selalu kembali ke stadion ini.
Tapi, sore itu, aura itu tidak saya dapat, ya karena yang bertanding bukan Arema tapi Persema. Tapi setidaknya saya mendapatkan suasana khas Gajayana. Makian penonton ke pemain yang salah oper, celetukkan penonton yang bikin kita nyengir.
- Penonton gemuk : " j****k, iku mbom mbom ket mau gak iso nguasai bal, yok opo rek, koyok wong pelo.." ("kata makian khas jatim, itu mbom mbom (pemain persema) dari tadi kok tidak bisa menguasai bola dengan baik, gimana sih, seperti orang step aje).
- Penonton berkumis : " iyo i, wah amsli, pasti dek e iku ono masalah, mangkane gak dong, dadi yo gak iso konsen dang pertandingan, wis yakin aku arek e ono masalah abot" (iya, wah asli nih dia pasti punya masalah, makanya tidak bisa konsentrasi, sudahlah yakin saya, dia punya masalah berat).
atau ndengarin celetukan iseng pedagang asongan.
- Pedagang asongan nasi kuning : " nasi, nasi, seribu rupiah saja. gratis sendok stainless cina!"
- Penonton yang sering ke Gajayana dan sering mendengarnya : " sendok stainless cina opo? plastik ngono"
Asiknya nonton bola di Gajayana, kita bisa nonton sambil ngopi, merokok, atau bahkan makan. Mau makan apa? mau minum apa? kopi? minuman suplemen? Wah beragam abis, jualan nasi mulai yang seharga seribu rupiah sampai tiga ribu ada, kopi seribu aja, mau nescafe atau torabika. Atau sekedar nyamil, mulai krupuk upil, krupuk pasir, rambak, bak pao, tahu, lumpia sampai ales-ales, dijamin gak kelaparan di dalam.m Atau mau mbontot makanan sendiri dari rumah. Di Malang, nonton sepakbola sudah bukan lagi makanan suporter tapi penonton yang menganggapnya rekreasi sudah banyak. Seru. Nah suasana itu yang bikin saya selalu rindu untuk hadir di tengah-tengah pertandingan di dalam stadion. Mau sore atau malam.
Dan jangan berpikiran kita akan mendukung abis Persema sore itu, tidak saudara. Babak kedua mulai menyebalkan ketika Persema bermain jelek dan seolah-olah mengulur-ulur waktu, memang mereka unggul 1 gol. Tapi kami penonton butuh permainan yang bagus. Yang terjadi justru di menit-menit terakhir penonton (khususnya di tribun tempat saya duduk) justru mendukung tim tamu yakni PSPS Pekanbaru. Begitu PSPS dapat menyamakan kedudukan 1-1, bukan main tepuk tangan yang menggema. Saya semakin yakin, warga Malang sudah sangat dewasa dalam menonton bola. Dan sangat kecil kemungkinan ada kerusuhan karena sepak bola di Malang, dan saya belum pernah mengalaminya.
hmmmm ... Stadion Gajayana, akhirnya ada waktu juga bagiku untuk merasakan suasanamu kembali.

Friday, May 22, 2009

Dilarang Masuk! Khusus Maleo

Kelompok konservasi Amerika Serikat membeli sebuah pantai tempat maleo bertelur di Sulawesi Utara untuk melindungi habitat burung dilindungi itu.
JAKARTA --Entah siapa yang lebih dulu menemukan pantai berpasir lembut yang selalu bermandikan cahaya matahari itu, tapi Pantai Binerean tak ubahnya sebagai "rumah bersalin" bagi maleo dan penyu laut. Burung maleo (Macrocephalon maleo), misalnya, rutin menggali dan mengubur telurnya di pantai tersebut setiap musim bertelur. Pantai yang terletak di Tanjung Binerean itu juga dikenal sebagai tempat bertelur favorit bagi penyu hijau, penyu belimbing dan penyu lekang.
Reputasi Pantai Binerean sebagai nesting ground atau tempat bertelur bagi beberapa jenis binatang, khususnya maleo, itulah yang membuat beberapa lembaga konservasi tertarik menjadikan kawasan tersebut sebagai pantai pribadi maleo. Pantai berpasir putih sepanjang 2,7 kilometer itu terletak sekitar 300 kilometer dari Manado, Sulawesi Utara.
Kini pantai seluas 14 hektare itu dimiliki oleh Pelestari Alam Liar dan Satwa (PALS), sebuah lembaga swadaya masyarakat setempat yang bekerja sama dengan Wildlife Conservation Society (WCS) untuk melestarikan satwa liar di Sulawesi. Mereka sengaja membeli pantai di desa Mataindo, Kecamatan Pinolosian Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, itu untuk melindungi habitat maleo.
WCS, lembaga konservasi yang berbasis di Amerika Serikat, mengatakan pantai yang berada sekitar 100 kilometer dari Tambun Nesting Ground di Kecamatan Dumoga Timur, Bolaang Mongondow, itu dipilih karena di dalamnya terdapat sekitar 40 sarang maleo. "Melindungi pantai ini hanyalah tahap pertama dari proyek konservasi komprehensif untuk melestarikan maleo," kata Noviar Andayani, direktur program Indonesia WCS. "Dari seluruh daerah jelajah burung tersebut, hanya sedikit tempat bertelur yang masih ada, kurang dari 100 situs sehingga setiap sarang amat berarti."
Kelompok lingkungan tersebut mengumpulkan uang sebesar US$ 12.500 atau sekitar Rp 129,6 juta untuk membeli pantai yang terletak di kawasan terpencil Sulawesi Utara itu. Dana itu didonasikan oleh Lis Hudson Memorial Fund dan perusahaan Quvat Management dari Singapura. Proyek itu juga memperoleh dukungan melalui Van Tienhoven Foundation dari Belanda. "Kawasan perlindungan itu telah membangkitkan kesadaran tentang burung tersebut," kata John Tasirin, koordinator program WCS di Sulawesi.
John menyatakan selain berpasir putih, pantai itu tempat yang menyenangkan untuk berenang dan menyelam dengan temperatur air yang tak pernah turun di bawah 25 derajat Celsius. Di balik perkebunan kelapa terdapat hutan lindung seluas 100 hektare. Walaupun tak terlampau luas, kawasan hutan itu adalah koridor yang penting bagi maleo untuk mencapai hutan lebat.
Hutan itu juga membuka kesempatan bagi maleo untuk bergabung dengan populasi maleo lain di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone yang berjarak 12 kilometer dari hutan tersebut. Namun, hingga saat ini belum diketahui apakah populasi burung maleo yang bertelur di pasir pantai ini bercampur dengan kelompok maleo yang bertelur di tanah vulkanis di dalam hutan.
Meski pantai Binerean cukup terpencil, bukan berarti kawasan itu steril dari aktivitas manusia karena ada tak jauh dari pantai terdapat perkebunan kelapa penduduk. "Tetapi, tanah di sekitarnya belum banyak ditanami," kata John.
John menyatakan kawasan perlindungan itu amat signifikan karena manusia adalah ancaman terbesar bagi pelestarian burung yang terancam punah itu. Penduduk desa kerap menggali lubang dan mengambil telur maleo untuk dimasak atau dijual. Telur maleo sering menjadi incaran penduduk karena ukurannya yang beberapa kali lipat telur ayam sehingga harganya tinggi, bahkan setara dengan satu kilogram beras.
"Populasi maleo terus menurun," kata Martin Fowlie dari BirdLife International. "Sehingga upaya perlindungan seperti apa pun akan amat berguna."
Walaupun pantai yang dibeli lumayan luas, WCS sama sekali tak menemui kendala dalam negosiasi jual-beli pantai dan kebun kelapa itu dari penduduk desa Mataindo. Salah seorang pemilik tanah, Papa Bakrie, memang ingin menjual tanah itu karena lahan itu terpencil dan putranya tewas tenggelam di rawa dekat tempat maleo bertelur. "Pemilik tanah lainnya juga punya alasan bagus untuk menjual propertinya seperti hendak bercerai dan pindah ke daerah lain," kata John.
Program ini mendapat banyak dukungan dari penduduk maupun pejabat setempat. Upacara adat desa yang digelar tim WCS pada 4 Mei lalu dihadiri puluhan pemuka desa dan tokoh agama, termasuk Kepala Desa Mataindo dan camat Pinolosian Timur. Perayaan peluncuran Program Konservasi Maleo sekaligus status baru pantai itu sebagai kawasan perlindungan maleo ditandai dengan pelepasan empat ekor anak maleo yang baru menetas.
Pada kesempatan itu mereka juga melepas 98 tukik penyu lekang, penyu hijau dan penyu belimbing, yang menetas sehari sebelumnya, ke laut. Selain melindungi sarang maleo, tim WCS turut menjaga sarang penyu, yang musim kali ini menghasilkan 500 tukik.
Untuk menjaga pantai tersebut dari tangan jahil manusia, WCS melatih seorang penduduk setempat. "Dahulu dia adalah pengumpul telur sehingga ahli dalam mencari telur kini dia melindungi sarang maleo," kata John. "Setiap hari dia harus memonitor kedatangan maleo dewasa, kapan mereka bertelur dan kapan telur itu menetas. Berbeda dengan nesting ground lain, telur maleo di Binerean tetap dibiarkan di dalam pasir."
Penjaga sarang maleo itu juga bertugas mengurus kebun kelapa yang ada di situs tersebut. Kebun itu menghasilkan lebih dari 10 ribu butir kelapa per tahun. "Uang hasil panen kelapa nantinya dipakai untuk mengupah petugas yang menjaga pantai itu," kata John.
John mencatat, dalam musim bertelur tahun lalu, pada 1 November-31 Desember, mereka menemukan 43 butir telur. Sebanyak 90 pasang maleo terlihat di daerah itu. "Jika diasumsikan bahwa pasangan maleo bertelur dalam interval dua bulan, telur yang dihasilkan amat banyak," katanya.
Sayangnya, masa maleo bertelur di Binerean berbeda dengan tiga nesting ground yang dikelola WCS di Tambun dan Muara Pusian di Bolaang Mongondow dan Hungayono di Gorontalo. Bila di ketiga tempat itu hampir sepanjang tahun bisa ditemukan anak maleo yang menetas dari dalam tanah, masa maleo bertelur di Binerean hanya terjadi pada November-Mei, sedangkan antara Juni dan Oktober hampir tidak ada maleo yang bertelur.
Pantai pribadi maleo ini bukanlah proyek pertama WCS di Indonesia. Sejak 2004 lalu, lembaga konservasi itu aktif melindungi sarang maleo, terutama mencegah para pemburu mengambil telur secara ilegal. Tahun ini, para staff WCS di Indonesia akan merayakan pelepasan 5.000 anak maleo sebagai bagian dari rencana pemulihan spesies terancam punah itu.

Melindungi Telur Maleo dari Penggorengan

Induk maleo kini tak perlu khawatir lagi meninggalkan telurnya terkubur dalam lubang pasir yang hangat. Sarang-sarang maleo yang tersebar di sepanjang Pantai Binerean kini aman dari pencurian dan penjarahan sejak kawasan itu ditetapkan sebagai pantai pribadi maleo.
Sepanjang hari telur-telur mereka akan dijaga oleh seorang petugas. Lembaga konservasi Wildlife Conservation Society (WCS) dan Pelestari Alam Liar dan Satwa (PALS) bekerja bahu-membahu melindungi kawasan yang diperkirakan berisi 40 sarang maleo itu.
Biasanya, maleo akan menggali lubang lebih dari setengah meter untuk menyembunyikan telurnya dari binatang predator. Sekitar 60 hari kemudian, telur itu akan menetas. Istimewanya, begitu keluar dari telurnya, anak-anak maleo langsung bisa terbang dan mencari makanan sendiri.
Berbeda dengan anak unggas lain yang masih berbulu halus dan perlu berhari-hari untuk berganti bulu, sayap anak maleo telah tumbuh sempurna. Kecepatannya berlari dan terbangnya juga sudah semahir unggas dewasa. Itu semua berkat nutrisi dalam telur maleo yang bisa lima kali lipat dari ukuran telur ayam, tapi membuat telur itu juga diincar manusia untuk dijual maupun dikonsumsi.
John Tasirin, koordinator program WCS di Sulawesi, amat optimistis status baru pantai di Tanjung Binerean itu bisa menjamin kelangsungan hidup burung yang menjadi simbol kekayaan sumber daya hayati di Sulawesi tersebut. Mereka juga membangun sebuah stasiun riset sederhana di lahan itu.
"Tanah itu terisolasi, tak ada jalan yang menghubungkannya ke jalan besar sehingga amat menguntungkan bagi upaya konservasi yang kami lakukan," katanya. "Untuk mencapai tanjung tersebut, orang harus berjalan kaki dari Desa Mataindo dengan menyeberangi anak sungai dan sebuah sungai besar.
Binerean, kata John, adalah lokasi yang amat potensial untuk menyelamatkan sarang tempat maleo bertelur. Burung seukuran ayam dengan dahi yang seolah sedang memakai helm hitam itu memang amat pemilih. Dia tidak bisa bertelur di sembarang tempat.
Satwa endemik Sulawesi itu hanya mau bertelur di tempat yang memiliki sumber panas bumi atau di pantai berpasir yang hangat. Salah satu tempat bertelur maleo yang masih tergolong bagus ada di Tambun, di dalam kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Bolaang Mongondow. Letaknya tak jauh dari Gunung Ambang yang masih aktif sehingga banyak sumber air panas ditemukan di sana. Sumber air panas inilah yang dimanfaatkan maleo untuk menghangatkan tanah tempat telur terkubur.
Burung hitam dengan perut merah jambu dan bermuka kuning itu kini jumlahnya di alam diperkirakan tinggal 5.000 hingga 10 ribu ekor. Populasi burung famili Megapodidae atau berkaki besar ini terus menurun sehingga masuk kategori Endangered atau terancam punah dalam IUCN Red List 2009.
Menurut situs BirdLife, dari 142 lahan tempat bertelur yang masih ada atau sempat diketahui, 48 di antaranya telah ditinggalkan, 51 sangat terancam, dan 32 lainnya masuk kategori terancam. Hanya empat nesting ground yang bisa dibilang belum terancam sedangkan status tujuh situs lainnya tidak diketahui. Jumlah telur di setiap situs bertelur pun semakin sedikit.
Di Tambun Nesting Ground, misalnya, jumlah telur yang ditemukan maksimal lima butir per hari, itu pun pada musim bertelur antara Januari-April. Sebelum 1990, telur maleo yang ditemukan di lokasi bertelur bisa mencapai 40 butir setiap hari. Koran Tempo - 22/05/2009.

Monday, May 4, 2009

evakuasi satwa

Fajar masih mecucu aja mulutnya sambil diisep tuh LA lights dimulutnya yang sedari tadi mancung terus. sedangkan saya sibuk nyetir disampingnya menembus padatnya jalanan Surabaya, panas dan sweat abis. Gimana gak mecucu tuh fajar, kita evakuasi satwa pake mobil Kijang yang AC-nya udah panas, otomatis dimatiin aja dan dipaksain deh kita merasakan angin panas Surabaya hari itu.
Setelah belok sana belok sini plus tanya ke si pemilik satwa dimanakah letak rumahnya itu, sampai juga kita di sisi timur Surabaya yang merupakan daerah rawa dan deket pantai, makin panaslah kita. Udahlah, saya lepas aja seragam ini, dengan kaos kutung tanpa lengan aku asyik nyetir ke lokasi itu.
" Lho pak fajar, katanya petugasnya dua, kok sendirian?" sambut seorang ibu setengah baya dan punya rambut ala Tika Bisono itu. Saya yang dengar cuma bisa senyum kecut, asem tenan, gara-gara seragam saya lepas dikira sopir deh. "Itu juga petugas bu, cuma nyamar aja", jawab fajar sekenanya sambil ngelirik saya.
Kita lihat tuh monyet yang mau diserahkan ke negara (taela...), jenis Macaca fasicularis, gak dilindungi sih, tapi mau gimana si ibu udah beberapa hari neror telepon ke si fajar, udah takut melihara tuh monyet karena tambah serem aja tingkahnya. Lagian si ibu pelihara monyet, pelihara ayam kek, kan lumayan bisa nelor en dagingnya bisa di jadiin opor kan sedep. " Iya deh pak, bawa aja dengan kandangnya", rajuk si ibu. Bujubune batinku, kandang segede gitu mana bisa diangkut pake mobil kijang kayak gini. Fajar tersenyum gak enak ke arahku, "iye deh, ganti mobil..", gerutuku. "pinjem mobil pick up patrolinya kantor seksi Surabaya aja, kamu tunggu deh disini ama tuh monyet, aku ambil mobil di kutisari..", tambahku sambil ngeloyor pergi. Kembali menyeruak padatnya jalanan Surabaya yang panas. Persis dah kayak lagunya Franky..".. berjalan di lorong pertokoan di Surabaya yang panas...", bener deh tuh lagu emang puanas neh Surabaya.
Untungnya, nih mobil patroli AC-nya caem dah, mana dikasih duit cepek ama kasi buat tuh solar patroli, tambah adem ati ini, tararengkyu...!
"Grrrrr...", tuh monyet menunjukkan kekuasaannya ke kita. Sial nih monyet, kayaknya mau ngasih perlawanan ama kita. Saya puter-puter deh otakku, gimana neh naklukin monyet ini, pake kekerasan gak mungkin lah, gak sesuai dengan pedoman animal welfare, bisa-bisa kena HAM-nya satwa kita. Alah gini aja, kita pakai perang psikologi aja, pikirku nih monyet sudah hidup solitair jadi kalau dia kalah "sangar" biasanya bakal nurut. Terpaksa deh, aku keluarin muka sangarku dan menggertak seolah aku tuh jauh lebih sangar dibanding taringnya yang sedari tadi dipamerkan, sambil aku tarik-tarik rantainya. Huehehehe... ternyata keder juga tuh monyet.Takut. Nah kalo gini gampanglah kita mindahin kandangnya ke atas bak mobil. Fajar sempet keder liat tuh monyet melototin dia terus, "udah deh jar, kamu sebelah sini, biar aku yang disisi situ, biar monyetnya gak macem-macem ke kamu, saya takut ntar kamu diperkosa lagi ama tuh monyet, hehehe.."
Gak diduga, monyet itu kita evakuasi tanpa perlawanan, walau awalnya kita sempet grogi juga lihat taringnya yang udah panjang.
Lepas dhuhur, kita sudah meluncur ke kantor untuk memindahkan monyet itu ke kandang transit dan melepaskan semua rantai yang mengikat di perutnya. Tugas selesai, fajar seneng, saya seneng, monyet juga seneng, hehehe ....

Friday, April 24, 2009

Vespa Brotherhood

Bisa dibayangin. Waktu jam didinding kantor pukul 15.40 WIB, saya sudah tancap gas menuju terminal Bungurasih untuk pulang ke Malang. Hari itu, cuaca di Surabaya agak bersahabat, maksudnya pagi mendung dan sempat turun hujan, dan menyisakan udara yang cukup segar. Sayapun menikmati perjalanan itu dengan menaiki vespa saya. Yap, saya memang memiliki vespa, bagi yang belum tau ceritanya silahkan deh baca mengenai vespa saya ditulisan sebelumnya atau klik disini. Dan, vespa saya amatlah terkenal, gimana enggak, jangankan untuk seisi kantor, bahkan sekomplek perkantoran tempatku bekerja, hanya saya yang menaiki vespa. Ya bangga-bangga gimana ya, habis belum bisa beli yang lainnya sih, selain itu, saya sejak SMA memang sudah terbiasa ber-vespa ria, dan lagi tentu kenangannya. Ya udahlah, yang jelas sore itu, cuaca sangat mengasikkan untuk ber-vespa ria menuju terminal sambil bernyanyi-nyanyi..”..oh galih..oh ratna .. cintamu abadi..” Tapi apa dinyana, begitu melewati jomplangan perlintasan kereta api di Aloha Sidoarjo, “blep..blep..blep..”, vespa saya mati. Waduh kenapa neh, perasaan kemarin bensin baru saya penuhi, wah gawat banget neh, mana dijalan yang lagi rame-ramenya, pikirku rada panik. Tapi pelan-pelan saya tenangkan diri. Vespa saya pinggirkan, dan mulailah langkah biasa yang dilakukan jika punya vespa. Periksa busi. Nah loh, businya kok gak ada listrik ya. Wadaw cekak deh. Gak sengaja, saya lihat kabel dibelakang mesin putus, wah...jangan-jangan ini penyebabnya. Mulailah saya kuliti kabel itu dengan tang, dan saya sambung kembali. Tanpa saya sadari, tiba-tiba hadir seseorang pengendara vespa berwarna hijau dengan helm berwarna hijau juga dan bermodel helm pilot. Wah unik juga pikir saya. “ Kenapa pak?” tanyanya. Kemudian saya terlibat diskusi singkat mengenai penyebab vespa saya mati hingga menyambung ke knalpot dan bengkel khusus vespa diseputaran Sidoarjo. Setelah dia yakin vespa saya kembali hidup, diapun kembali meneruskan perjalanannya, tidak lupa saya ucapkan terima kasih atas bantuannya. Saya cukup terkesan dengan perhatian teman-teman pengendara vespa. Sering saya jumpai ketika ada vespa mogok ditengah jalan, jika ada pengendara vespa lainnya lewat, biasanya mereka berhenti untuk memberikan bantuan. Atau, jika kita dalam perjalanan antar kota atau plat nomor vespa kita berbeda dengan kota/tempat dimana vespa kita lewat, dan kemudian berjumpa dengan pengendara vespa lainnya, biasanya mereka memberi salam dan lambaian tangan, meskipun mereka tidak saling kenal. Saya sampai berpikir, apa itu juga bagian dari kode etik para pengguna vespa yang ikut dalam klub-klub pengendara vespa yang bertebaran di Indonesia. Wah-wah, sampai-sampai ketika saya di bis memikirkan kata apa yang tepat bagi bentuk perhatian dan kekompakan mereka ya, akhirnya saya temukan di dalam tumpukan berkas-berkas kata dalam otakku, brotherhood. Ya semacam persaudaraan begitu. Mungkin itu yang hendak ditunjukkan para pengendara vespa terhadap pengendara vespa lainnya.

Thursday, April 23, 2009

Akar Kekuatan Gigi

Setelah bertahun-tahun digunakan untuk menggigit dan mengunyah, bagaimana gigi manusia tetap utuh dan berfungsi baik? Rahasianya terletak pada email, jaringan terluar gigi. Sebuah tim ilmuwan dari George Washington University, Amerika Serikat, menyatakan keberadaan email berperan pada daya tahan gigi manusia.
Email gigi manusia sangat rapuh. Seperti kaca, email mudah pecah. Namun, berbeda dengan kaca, email mampu menahan retakan dan tetap utuh hampir seumur hidup pemilik gigi itu. Tim periset itu menemukan bahwa alasan utama mengapa gigi tidak pecah berantakan adalah karena adanya tuft, cacat mirip retakan halus yang ditemukan dalam email. Tuft muncul pada masa pertumbuhan gigi, dan semua gigi manusia memiliki sejumlah tuft sebelum gigi itu muncul ke permukaan gusi di dalam mulut.
Banyak retakan pada gigi tidak berasal dari permukaan terluar gigi. Sebaliknya, retakan itu muncul dari tuft yang terletak jauh di dalam email. Dari sana, retakan itu tumbuh ke arah permukaan gigi terluar. Begitu mencapai permukaan, retakan ini berpotensi sebagai lokasi pembusukan gigi. Tuft menekan pertumbuhan retakan-retakan itu dengan mendistribusikan tekanan di antara mereka.
"Ini pertama kalinya fitur perkembangan yang tidak diketahui, semisal tuft pada email, diperlihatkan memiliki peran yang signifikan dalam fungsi gigi," kata Paul Constantino, ilmuwan dari universitas itu. "Pertumbuhan retakan juga dihambat oleh jalinan struktur mikro email, dan oleh proses penyembuhan mandiri ketika material organik mengisi retakan yang memanjang dari tuft, yang juga direkatkan oleh materi organik. Jenis pengisian ini mengikat dinding retakan yang berhadapan, meningkatkan jumlah kekuatan yang diperlukan untuk memperlebar retakan di kemudian hari."
Riset hasil kolaborasi antara antropolog dari George Washington University serta ahli fisika dari National Institute of Standards and Technology di Gaithersburg ini dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences. Selain email gigi manusia, tim tersebut mempelajari gigi linsang laut yang amat mirip dengan gigi-geligi manusia. SCIENCEDAILY

Monday, April 20, 2009

Hasrat

Usai adzan Subuh dan sholat subuh, aku lekas berangkat ke terminal Arjosari Malang. Udara masih mengigit, dingin. Tidak heran, semalaman hujan menguyur habis seantero kota Malang. Menyiram dosa-dosa warganya diakhir pekan, menghanyutkan jauh ke dasar alam mimpi.
Anjelie kunaiki juga. Badannya sudah tidak indah lagi, apalagi dengan bau bokongnya itu. Tetapi dibalik itu semua, ia tetap tegar, gagah, melayani semua lelaki di subuh ini. Mengantarnya dengan buaian angin dingin.
Sebal sekali, hasratku bergejolak di subuh ini, disaat sedang asyiknya kunaiki Anjelie. Memberontak dari bawah pusar hingga ke naik ke otak dan kemudian turun kembali ke dengkul. Asem tenan, makiku. Benar-benar tidak pada tempatnya. Kulawan hasrat ini, aku malu pada Anjelie. Kubuat tidur saja dalam buaian Anjelie. Ahh ... dapat juga kutidur dalam buaiannya.
Tapi tak lama, baru setengah jam aku terbuai, hasrat itu kembali datang. Mendobrak-dobrak, membuat aku memicingkan mata menahannya. Mengapa .. mengapa ..? Mengapa hasrat itu datang ketika aku sedang menikmati Anjelie di pagi ini. Tidak malukah kau hai hasrat pada mentari yang telah bersinar.
Segera setelah tiba, kuberlari meninggalkan Anjelie. Kupercepat, kumasuki ruangan itu, bersih, dan cukup sempit. Tak apalah pikirku, yang penting hasratku terpenuhi. Dan ... ahhhh, akhirnya lega juga setelah limbah cair itu kuhempaskan keluar, membanjiri selokan kecil dalam toilet umum ini. Kubersyukur tidak ngompol di dalam bis Restu Anjelie tadi.
Kuresletingkan kembali celanaku, dan kulangkahkan kakiku keluar dengan penuh kemenangan, tidak lupa menyetorkan uang seribuan ke penjaga toilet. Hmmm ... pagi ini Terminal Bungurasih ramai sekali, maklum Senin pagi, para pekerja seperti halnya aku mulai kembali ke Kota Pahlawan ini.

Wednesday, April 15, 2009

Populasi Baru Orangutan Ditemukan di Kalimantan

Jakarta - Para ahli konservasi menemukan populasi baru orangutan di salah satu pegunungan Kalimantan Timur. Lokasinya berada di tengah hutan, dekat tebing gunung kapur. Mereka memperkirakan jumlah hewan yang terancam punah ini sekitar 2000 ekor. "Yang bisa kami hitung ada 219 orangutan," kata Erik Meijaard, ahli ekologi dari The Nature Conservancy.
Erik dan timnya tidak dapat menghitung semua mengingat medan yang sulit. Namun, dia menduga di lokasi itu terdapat 1.000 atau bahkan 2.000 orangutan. Mereka juga menjumpai orangutan jantan dewasa yang marah ketika ilmuwan mencoba memotret anak dan ibu orangutan.
Saat ini sekitar 50 ribu-60 ribu orangutan hidup di hutan hujan Pulau Kalimantan. Sebagian besar atau 90 persen berada di wilayah Indonesia dan sisanya di Malaysia. Sayangnya, habitat mereka banyak yang hilang untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit. Kedua negara ini memang produsen kelapa sawit, yang menjadi bahan untuk makanan, kosmetik, dan bahan bakar di AS dan Eropa.
Menurut Meijaard, topografi yang curam dan deretan gunung kapur menjadi tameng alami sehingga habitat di Kalimantan Timur tersebut tetap terjaga hingga saat ini, termasuk pepohonan yang kayunya bernilai tinggi.
Birute Mary Galdikas, ilmuwan Kanada yang selama empat dekade mengamati hewan tersebut, terkejut karena orangutan yang ditemukan termasuk spesies langka, yakni orangutan Borneo hitam atau Pongo pygmaeus morio. Namun, dia khawatir karena populasinya sedikit dan terpencar-pencar.
Pada 1990-an, kebakaran memusnahkan hutan seluas 2.500 kilometer persegi. Para pelaku adalah pemilik perkebunan dan perorangan. Kondisi itu diperparah oleh El Nino yang melanda Indonesia pada dasawarsa tersebut.
Nardiyono, yang memimpin tim survei The Nature Conservancy pada Desember tahun lalu, mengakui sulitnya menemukan populasi baru orangutan. Sebelum ekspedisi, hewan ini mungkin terlihat lima tahun sekali. "Mungkin setelah kebakaran, sejumlah populasi orangutan menuju daerah pedalaman," katanya.
Tim peneliti berencana mengajak pemerintah daerah melindungi orangutan di habitat tersebut. Noviar Andayani, Ketua Indonesian Primate Association and Orangutan Forum, mengatakan penemuan baru ini jadi pekerjaan rumah untuk membuat kajian secara cermat guna mengetahui tingkat kerentanan populasinya. "Ada beberapa daerah yang masih belum disurvei," katanya.
Menurut Noviar, ada 18 lembaga swadaya masyarakat yang melakukan sensus dengan cara wawancara tatap muka dengan orang-orang yang tinggal di hutan. Responden adalah penduduk desa dan pekerja perkebunan di perusahaan yang mendapat konsesi penebangan kayu. "Kami berharap ini membantu mengisi beberapa kesenjangan," katanya.
Survey awal dilakukan di daerah-daerah yang populasi orangutannya sudah diketahui. Mereka mengakui informasi dan data orangutan belum lengkap. Sejumlah ahli mengatakan butuh waktu dua dekade untuk memulihkan habitat orangutan yang rusak. (Koran Tempo, 14/04/09)

Monday, April 6, 2009

Apakah kamu sedang jatuh cinta

Ketika kamu sedang bersama dia, kau berlagak mengacuhkannya. Tapi ketika dia tidak ada, kamu berusaha mencarinya. Pada saat itu, kamu sedang jatuh cinta.
Walaupun ada orang lain yg selalu membuatmu tertawa, mata dan perhatianmu hanya tertuju pada si dia. Maka, kamu sedang jatuh cinta.
Walaupun seharusnya dia sudah meneleponmu untuk memberitahu kabarnya, tapi teleponmu tak berdering. Dan kau terus menunggu telepon itu. Pada saat itu, kamu sedang jatuh cinta.
Jika kamu lebih tertarik dengan e-mail pendek darinya daripada e-mail yg panjang dari orang lain, kamu sedang jatuh cinta.
Jika kamu tak bisa menghapus smua sms dlm hpmu karena ada 1 sms dari dia, maka kamu sedang jatuh cinta
Ketika kamu mendapat sepasang tiket gratis menonton film, kamu tidak akan pusing2 untuk langsung mengajak dia. Pada saat itu kamu sedang jatuh cinta
Jika kamu sedang membaca post ini dan seseorang muncul dalam pikiranmu, maka kamu sedang jatuh cinta pada orang itu.
apakah semua itu yg sedang kamu rasakan saat ini?

Friday, April 3, 2009

Seorang Kenalan dan Seorang Sahabat

Pertama, seorang kenalan adalah seorang yang namanya kau ketahui, yang kau lihat berkali-kali, yang dengannya mungkin kau miliki persamaan, dan yang disekitarnya kau merasa nyaman. Ia adalah orang yang dapat kau undang ke rumahmu dan dengannya kau berbagi. Namun mereka adalah orang yang dengannya tidak akan kau bagi hidupmu, yang tindakan-tindakannya kadang-kadang tidak kau mengerti karena kau tidak cukup tahu tentang mereka.

Sebaliknya, seorang sahabat adalah seseorang yang kau cintai.. Bukan karena kau jatuh cinta padanya, namun kau peduli akan orang itu, dan kau memikirkannya ketika mereka tidak ada.
Sahabat-sahabat adalah orang dimana kau diingatkan ketika kau melihat sesuatu yang mungkin mereka sukai, dan kau tahu itu karena kau mengenal mereka dengan baik.
Mereka adalah orang-orang yang fotonya kau miliki dan wajahnya selalu ada di kepalamu.
Mereka adalah orang-orang yang kau lihat dalam pikiran mu ketika kau mendengar sebuah lagu di radio karena mereka membuat dirimu berdiri untuk menghampiri mereka dan mengajak berdansa dengan mereka atau mungkin kau yang berdansa dengan mereka, mungkin mereka menginjak jari kakimu, atau sekedar menempatkan kepala mereka di
pundakmu.
Mereka adalah orang-orang yang diantaranya kau merasa aman karena kau tahu mereka peduli terhadapmu.
Mereka menelpon hanya untuk mengetahui apa kabarmu, karena sahabat sesungguhnya tidak butuh suatu alasanpun.
Mereka berkata jujur-pertama kali - dan kau melakukan hal yang sama. Kau tahu bahwa jika kau memiliki masalah, mereka akan bersedia mendengar.
Mereka adalah orang-orang yang tidak akan menertawakanmu atau menyakitimu, dan jika mereka benar-benar menyakitimu, dan jika mereka benar-benar menyakitimu, mereka akan berusaha keras untuk memperbaikinya.
Mereka adalah orang-orang yang kau cintai dengan sadar ataupun tidak.
Mereka adalah orang-orang dengan siapa kau menangis ketika kau tidak diterima di perguruan tinggi dan selama lagu terakhir di pesta perpisahan kelas dan saat wisuda.
Mereka adalah orang-orang yang pada saat kau peluk, kau tak akan berpikir berapa lama memeluk dan siapa yang harus lebih dahulu mengakhiri.
Mungkin mereka adalah orang yang memegang cincin pernikahanmu, atau orang yang mengantarkan / mengiringmu pada saat pernikahanmu, atau mungkin adalah orang yang kau nikahi.

Thursday, April 2, 2009

Antara Mayat dan Jeruk Nipis

Berulangkali aku seka keringat yang sedari tadi mengalir di leherku. Bukan main makiku, hari ini benar-benar gerah sekali. Jam di dinding ruang tamu ini baru menunjukkan pukul 11 siang. Untungnya penantian ini tidak sendirian aku. Malah keadaan semakin memanas saja.

Bukan panas karena kegerahan, tapi karena satu kepentingan yang menjebak kami harus menunggu. Disamping saya Slamet duduk berleha-leha, sebelah sana dikit Ola, seorang polisi berpangkat perwira muda. Dari pengakuannya sih asli batak, tapi di pertemuan kali kedua ini saya belum menjumpai kekhasan Bataknya. Dari wajah, gak ada standar-standarnya orang Batak, malah pikirku masih ada keturunan Arab, apalagi janggutnya dihiasi jenggot tipis ala jaman sekarang, bukan ala jaman Rhoma Irama, mungkin karena dia di Reskrim jadi boleh pelihara Jenggot kali. Hidungnya yang mancung makin mengukuhkan seolah-olah dia keturunan Arab. Kosakata bahasa, bah apalagi, tak ada logat Batak sedikitpun. Jauh sekali dengan pak Faisal kenalanku, seorang marinir dengan tubuh tambun dan kumis tebal, logatnya kental sekali batak. Walaupun sudah beristri orang jogja dan mahir berbahasa Jawa, logat bataknya tak bisa hilang. Tapi ini, wah saya hanya dapat percaya bahwa Ola ini orang Batak dari nama belakangnya yang jelas marga orang Batak.


Rupanya, menunggu bersama-sama seperti ini menjadikan kami gayeng sekali bercerita ngalor ngidul macam ibu-ibu PKK yang nggosipin Syeh Puji ngawinin anak ingusan. Cekakak cekikik menghiasi setiap obrolan, kadang ketawa lepas tidak sungkan-sungka dilepaskan.
"Semalem saya ikut otopsi, karena ada perampok ditembak waktu mau ditangkap..", ujar Ola untuk memulai inisiatif ikut berbagi cerita karena sedari tadi dia cuman nyumbang hahahihi saja. "Satu mati ketembak, satu lagi kabur. Nah yang ketembak ini di otopsi, saya diminta mengikuti jalannya otopsi. Eh, yang bagian otopsi iseng banget, pake telunjuknya dimasukin ke lubang tembak yang berada di dada tuh perampok, wah dalem juga katanya, iseng banget..", tambah Ola.


"Eh, saya dengar, kalau mau uji nyali hanya bermodal jeruk nipis saja", lanjutnya. "Jeruk nipis?" tanyaku dan Slamet hampir bersamaan. Kang Arif yang sedari tadi jadi pendengar pasif di pojokan kursi L mulai menegakkan duduknya. Pikirnya rada seru neh ceritanya, sambil disedotnya wismilak yang sedari tadi nongkrong dibibirnya.
"Iya, jeruk nipis", yakin Ola melanjutkan. "Iya kata orang-orang".
Beh ampir aja saya lempar asbak dia, kata orang katanya.
"Eh denger dulu", lanjutnya. "Kalian tahukan, kalau kita luka trus ditetesin jeruk nipis, fuuhh... rasa perihnya bukan main deh. Nah, kali ini, tuh jeruk nipis kita teteskan pada luka yang ada ditubuh mayat.Ya, entah itu luka bekas tusuk atau tembak", tambahnya sambil mengelus-elus jenggotnya yang terkesan dipaksa untuk dielus.
"Apa mayatnya bakal gerak-gerak keperihan?" tanya slamet.
"He ini orang emang filem, mana ada mayat gerak-gerak karena jeruk nipis." celetukku sekenanya.


"Bukan." kata Ola dikalem-kalemin (ati-ati kalau mbaca jangan kepleset). "Tidak terjadi apa-apa pada mayat itu. Hanya saja, tunggu malamnya setelah mayat diberi jeruk nipis. Yang netesin jeruk nipis pada luka itu bakal didatangi arwah si mayat." Ujar Ola dengan sedikit melotot. Ah sial, bikin saya grogi aja.


"Ih serius, bener, saya baru kemarin membuktikannya. Kemarin, setelah otopsi, saya penasaran dengan cerita itu, akhirnya aku tetesin luka si mayat dengan jeruk nipis. Dan semalem, waktu aku habis cuci muka, lalu saya keringkan wajah dengan handuk. Dan ketika handuk saya lepas dari wajah... drueeng... di depan saya ada si mayat itu..! wah hampir loncat saya, saya coba baca-baca do'a, huh.. akhirnya hilang juga. Tapi baru mau tidur, eh dia nongol lagi, begitu juga pas memejamkan mata, eh dia hadir juga di mimpi. Wah akhirnya semaleman gak bisa tidur saya. wah.."
Ola menggaruk-garuk kepalanya yang semi habis rambutnya.


Saya, Slamet, Kang Arif, tertawa ndengerin ceritanya yang meyakinkan dan berakibat sial itu. Aku ketawa-ketiwi, apalagi pas aksi "drueng"-nya itu, persis pilem-pilem horor kita. Tapi asli, aku gak bakal iseng kayak gitu. Heh, orang ikut otopsi aja mikir ratusan kali dulu ...

Monday, March 30, 2009

Kembang Tahu

Ini sebenarnya adalah nama sebuah penganan. Mengenai asal-usulnya, saya kurang mengetahuinya, hanya saja pertama mengenalnya, saya tahu asal-usulnya. Saya kenal makanan satu ini dari istri saya. Karena dia telah mengetahui makanan ini dari kecil, dan telah ada di Jakarta. Yang ia tahu namanya ya… Kembang Tahu. Pertama kali mendengar namanya saya hanya mengernyitkan dahi, ..”kembang tahu?”, ih masa iya tahu ada kembangnya ya…
Dari gambaran yang berusaha digambarkan oleh istri saya, saya belum dapat mengambil gambarannya. Sama sekali. Gak ada ide deh bentuknya seperti apa. Suer.
Baru setelah istri saya ikut tinggal di Malang, saya mengetahuinya, walaupun dengan berbeda nama. Tahwa. Istri saya mengajak ke tempat penjual Tahwa ini di bilangan belakang Ramayana, kaki lima. Ya sepengetahuan saya hingga kini belum ada penjual kembang tahu alias tahwa ini sudah dibuka di warung makan atau macam KFC-lah.
Bentuknya aneh, seperti tahu tapi halus. Berbentuk potongan, yang diambil menggunakan sendok dari wadahnya ke mangkok, kemudian disiram dengan air kuah yang menurut saya ada rasa jahe dan gula merahnya. Hangat di tenggorokan. Air kuah ini dihangat dalam ceret dengan menggunakan arang. Agar kuahnya tidak berbau minyak tanah.
Setiap saya menyeruputnya, bisa dipastikan batuk-batuk. Karena rasa yang tajam dan serasa kuahnya membersihkan tenggorokan kita dari kuman-kuman. Tidaklah lama kemudian, dapat dirasakan hangat di tubuh dan terasa menyehatkan badan.
Sekarang ini, di kota Malang yang notabene berdiri di ketinggian sekitar 500 mdpl alias meter di atas permukaan laut, Tahwa ini sudah tersebar di pelosok-pelosok kota. Dan mereknya yang mendominasi adalah “Tahwa Faiz”. Tau deh, yang punya atau juragannya yang bernama Faiz atau mungkin cucunya yang bernama Faiz, hehehe. Tapi saya sering menikmati tahwa di penjual yang ngendon di sekitar Hotel Cakra di seputaran Hutan Kota Malabar. Beh … asik dah, suasanya yang rindang, jalan yang tidak ramai, angis sepoi-sepoi, menambah nikmat rasa tahwa ini. Belum lagi harganya yang sangat terjangkau, 2000 perak per mangkok. Sangat terjangkau.

Friday, March 20, 2009

Proposal Untuk Inge

Udara dingin mulai menusuk kulit, kuresletingkan jaket flis ini. Udara malam ini di kaki gunung Panderman benar-benar dingin. Kuumpat diriku sendiri, kenapa mau saja dirayu si Udin untuk menemani dia dan ria main ke Gunung Panderman. Alasannya, ”ayo lah dan, kan gak enak kalau aku naik gunung cuman berdua aja dengan ria, apa kata teman-teman nanti”, ih sebel banget, kubalas saja ” ya trus aku jadi obat nyamuk gitu”. Si Udin tidak kalah sengitnya ngomong ”tenang aja, aku juga ngajak inge, hehehe”. What? Mau loncat rasanya jantungku, inge. Aduh tidak, kenapa dia. Kan baru minggu kemarin dia nolak aku, aduh. Semakin deh pokoknya. ”Tenang aja, loe Cuma bawa badan, carrier, logistik, dan tenda aku yang bawa, enak kan loe”, ujar udin sambil mengerling dan berlalu dariku.

Thursday, March 12, 2009

Taman Nasional Gunung Palung

Kawasan Gunung Palung dikukuhkan sebagai Taman Nasional pada tanggal 24 Maret 1990, dengan luas 90.000 ha. Kawasan tersebut secara geografis terletak pada 1°00' - 1°20' LS dan 109°00' - 110°24' BT, dan secara administrasi melingkupi Kecamatan Sukadana, Simpang Hilir dan Sungai Laur Kabupaten Ketapang. Dinyatakan sebagai taman nasional oleh Menteri Kehutanan tahun 1990 dengan luas ± 90.000 ha. Secara administrasi pemerintahan berada pada 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Sukadana dan Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Dati II Ketapang, Propinsi Kalimantan Barat. Taman nasional ini ditunjuk berdasarkan surat keputusan Menteri Kehutanan, SK No. 448/Kpts-II/1990.
Taman nasional ini merupakan satu-satunya kawasan hutan tropika Dipterocarpus yang terbaik dan terluas di Kalimantan. Sekitar 65 persen kawasan, masih berupa hutan primer yang tidak terganggu aktivitas manusia dan memiliki banyak komunitas tumbuhan dan satwa liar. Seperti daerah Kalimantan Barat lain, umumnya kawasan ini ditumbuhi oleh jelutung (Dyera costulata), ramin (Gonystylus bancanus), damar (Agathis borneensis), pulai (Alstonia scholaris), rengas (Gluta renghas), kayu ulin (Eusideroxylon zwageri), Bruguiera sp., Lumnitzera sp., Rhizophora sp., Sonneratia sp., ara si pencekik, dan tumbuhan obat. Tumbuhan yang tergolong unik di taman nasional ini adalah anggrek hitam (Coelogyne pandurata), yang mudah dilihat di Sungai Matan terutama pada bulan Februari-April. Daya tarik anggrek hitam terlihat pada bentuk bunga yang bertanda dengan warna hijau dengan kombinasi bercak hitam pada bagian tengah bunga, dan lama mekar antara 5-6 hari.
Tercatat ada 190 jenis burung dan 35 jenis mamalia yang berperan sebagai pemencar biji tumbuhan di hutan. Semua keluarga burung dan kemungkinan besar dari seluruh jenis burung yang ada di Kalimantan, terdapat di dalam hutan taman nasional ini. Satwa yang sering terlihat di Taman Nasional Gunung Palung yaitu bekantan (Nasalis larvatus), orangutan (Pongo satyrus), bajing tanah bergaris empat (Lariscus hosei), kijang (Muntiacus muntjak pleiharicus), beruang madu (Helarctos malayanus euryspilus), beruk (Macaca nemestrina nemestrina), klampiau (Hylobates muelleri), kukang (Nyticebus coucang borneanus), rangkong badak (Buceros rhinoceros borneoensis), kancil (Tragulus napu borneanus), ayam hutan (Gallus gallus), enggang gading (Rhinoplax vigil), buaya siam (Crocodylus siamensis), kura-kura gading (Orlitia borneensis), dan penyu tempayan (Caretta caretta). Tidak kalah menariknya keberadaan tupai kenari (Rheithrosciurus macrotis) yang sangat langka, dan sulit untuk dilihat.
Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi seperti Pantai Pulau Datok dan Bukit Lubang Tedong, Cabang Panti tempat pusat penelitian dengan fasilitas stasiun penelitian, wisma peneliti dan perpustakaan, kemudian Kampung Baru tempat pengamatan satwa bekantan, lalu Sungai Matan dan Sungai Simpang dengan wisata menyelusuri sungai, pengamatan satwa dan wisata budaya (situs purbakala), serta pendakian yang dilakukan di Gunung Palung (1116 m dpl) dan Gunung Panti (1050 m dpl). Dari puncak gunung ini dapat dinikmati pemandangan kota-kota di bawahnya seperti Telok Melano, Rantau panjang dan alur sungai yang bermuara di selat Karimata. Selain itu pada beberapa bagian Gunung Palung dan Gunung Panti dapat ditemui sejumlah air terjun yang cukup menarik.
Cara pencapaian menuju lokasi, dari Pontianak menuju Ketapang menggunakan pesawat terbang selama 1,5 jam, atau dengan kapal motor antara 6-7 jam, dilanjutkan ke Sukadana (kendaraan roda empat) sekitar dua jam. Dari Sukadana ke lokasi melalui Sungai Meliya dengan longboat (bandong) sekitar empat jam. Pontianak - Teluk Batang (speed boat) empat jam dan dilanjutkan ke Teluk Melano (kendaraan roda dua) sekitar satu jam. Pontianak - Teluk Melano (speed boat) antara 9-10 jam.

Tuesday, March 10, 2009

Ulang Tahun

Udara gerah, bener-bener deh ungkapku. Waktu masih menunjukkan pukul 14.00 WIB, waktu setempat kota Malang. Pasti mau hujan deres neh makanya gerah gini, pikirku. "Eh mas, besok ulang tahun lho", celetuk istriku, ulang tahun? pikirku. "ulang tahun apaan? inikan Maret," jawabku. "Pernikahan kita", Yaa ampyun baru inget aku. " Ke Avia yuk.. belanja peralatan kue buat besok", ajaknya, "hayuk...", jawabku langsung menyambar jaket. 

Masih dengan celana pendek hitam model alpin aku mengantar istriku ke Avia. Avia, mungkin supermarket pertama di kota Malang, bahkan sejak jaman Belanda, gedung ini sudah bercokol di pertigaan PLN. Pojok dan terkesan tua, ya walaupun sekarang di cat dengan warna sponsor alias iklan didinding sebuah merek es krim.

Hihihi... gak nyangka, alhamdulillah, sudah tiga tahun aku membina rumah tangga dengan istriku. 3 tahun yang lalu yaa pas tanggal 10 Maret, aku nikahi seorang gadis pilihanku di sebuah kampung bernama Kampung Arman di bilangan Cimanggis Depok. Dengan disaksikan sahabatku, Arif Ambon, dan Penghulunya yang orang Betawi. Celetukkan khas Betawi mewarnai prosesi Ijab Kabul, yang ada jadinya aku gak tegang-tegang amat, eh malah yang grogi Saksi dari Pihakku si Ambon, sampai Pak Penghulu nyeletuk, " lho yang grogi kok malah saksinya bukan pengantennya..", " maklum pak, baru kali ini jadi saksi pak", jawab Ambon. hehehe.

Masih inget banget juga, pas aku nembak istriku dulu, bukan aku tembak untuk dijadiin pacar, tapi aku tembak ".. mau gak jadi istriku..". Terang aja dia gelagapan. Tapi emang waktu itu aku gak mau cari pacar, aku mau cari istri, trus jadi deh tanggal 10 Maret 2006 aku nikahin seorang wanita bernama Sjam Widiani Kusuma Dewi yang kemudian biasa aku panggil Umi.

Terima kasih ya Alloh, telah kau anugerahkan kepadaku istri yang baik, mau mengerti aku dan bersedia menyisakan hidupnya untuk mendampingiku, dan telah melahirkan seorang anak lelaki yang kami cintai sepenuh hati. Jadikanlah selalu, keluarga kecil kami keluarga yang sakinah dan diberkahi kebahagiaan. Amien.

Thursday, March 5, 2009

K e p a r a t N e g a r a

Hari sudah sore, setelah mencolek si biru yang langsung berbunyi "tilulit", ah kerjaan terakhir, absensi. Vespa biru strada kunyalakan, ia menyalak nyaring, saking nyaringnya teman-teman se-kantor memanggilnya helikopter. Tidak kepalang lama, langsung kutelusuri jalanan Juanda menuju Terminal Bungurasih, memarkir terlebih dahulu vespaku di tempat parkir langganan. Lalu kuhamburkan diriku masuk dalam riuhnya calon penumpang sore itu.
Wajahnya ramah, penuh senyum ketika melihatku tiba di antrian bis ke Malang. Disodorkannya Koran Tempo yang biasa menemaniku sepanjang perjalanan ke Malang. Tidak lupa selembar ribuan kusodorkan balik ke dia. Segera kunaiki bis Restu dan mengambil posisi duduk di tempat kosong lajur kiri di dalam bus tersebut.
Biasanya, tidak ada yang dapat menarik saya untuk membaca halaman depan koran ini, dan akan kulalui kehalaman berikutnya. Tapi hari ini tulisan headline Koran Tempo sangat menyita perhatianku. "KPK menangkap petinggi PAN", wah apalagi ini, batinku. Mana ada denah dan kronologis penangkapan lagi. Segera kuhabisi baris demi baris, kolom demi kolom berita tersebut.
Bis baru berangkat, dan sosok wanita duduk disampingku. Tapi kekesalan telah tumbuh di hatiku. Kesal sekali. (Lagi-lagi) Anggota DPR yang terhormat Korupsi, ya dalam berita menerima suap, tapi ya Korupsilah itu namanya, karena dia melakukan pengaturan tender lalu sebagai rasa "terima kasih" dari perusahaan pemenang tender diberilah duit se-Milyar. SE-MILYAR SAUDARA-SAUDARA...! Bayangin uang segitu bisa untuk membangun gedung-gedung sekolah gratis agar masyarakat miskin bisa sekolah, puskesmas-puskesmas agar masyarakat bisa berobat dengan murah. Tapi ini ... se-milyar untuk dia sendiri sambil ketawa ketiwi hasil menggunakan kekuasaannya.
Bus masuk jalan tol, sepanjang tol saya arahkan pandanganku keluar jendela. Saya masih kesal sekali, dia (tuh anggota DPR), dipilih oleh rakyat untuk menjadi penyambung lidah dan hidup rakyat, tapi dia gunakan untuk memperkaya diri sendiri. Cuih ... muak sekali saya. Tapi saya berusaha menenangkan diri, tenang .. tenang .. tenang. Sesekali saya meng-amini pilihan saya, untung hingga kini partai yang saya salurkan suara satu saya itu tidak ada kadernya yang melakukan korupsi. Kalau terkena juga, mungkin benar-benar saya akan ikuti pilihan istri saya, tidak menggunakan hak pilihnya dalam pemilu. Alasannya' " saya menilai belum ada partai yang baik bagi saya".
Ah... sudahlah, saya rasa kita harus benar-benar berhati-hati dalam memilih caleg-caleg yang tumbuh dimana-mana kaya jamur panu di kulit. Semua pamer muka, pamer poster, tempel poster seenaknya, paku sana paku sini, sampai-sampai di pohonpun dipaku. Beh ... masih caleg saja sudah tidak menghormati hukum dan etika, bagaimana nanti kalau sudah jadi anggota dewan, jangan-jangan jadi juga dia keparat negara.

Tuesday, March 3, 2009

Kalau Raja Kehilangan Hutan

PEKANBARU - Sudah sebulan ini Asmadi trauma. Setiap pagi saat ia hendak berangkat mengurus kebun sawitnya atau sekadar menyadap getah pohon karet yang sudah dirawatnya sejak lama, bayang-bayang harimau menghantui dari balik punggungnya.
Wajar saja, petani berusia 43 tahun asal Desa Sungaigelam, Kabupaten Muarojambi, Jambi, itu takut karena tujuh orang dimangsa hewan penguasa hutan itu sepanjang Februari lalu. Enam di antaranya tewas. "Kami benar-benar trauma, takut menjadi korban berikutnya," kata Asmadi pekan lalu.
Konflik manusia dengan harimau si raja hutan memang senantiasa terjadi. Bukan cuma Februari ini dan tidak sebatas di Jambi. "Tapi, enam korban tewas manusia dan dua ekor di pihak harimau dalam sebulan ini sudah tergolong luar biasa sehingga mendapat perhatian besar," kata juru bicara WWF Indonesia, Desmarita Murni, kemarin.
Harimau sumatera di Jambi memang sedang gelisah. Hutan yang semakin terkotak-kotak kecil dan semakin berkurangnya mangsa alami berupa rusa dan babi hutan diduga kuat membuat harimau melampiaskan nafsu dan amarahnya kepada manusia. "Bagaimana harimau tidak marah kalau habitat mereka yang semula hutan berubah hanya tinggal semak," kata Osmantri, staf lapangan WWF Indonesia di Riau, memberi contoh.
Osmantri ini pula yang memberi catatan kalau aksi saling berbalas di antara dua spesies ini semakin cepat saja. Menurut dia, ada mekanisme pelaporan kepada dirinya atau anggota tim lain dari Balai Konservasi dan sumber daya alam setempat setiap kali ada insiden serangan harimau. "Belakangan ini masyarakat langsung bertindak sendiri menjerat dan membunuh harimau," katanya seraya mengungkapkan kekhawatirannya akan adanya kepentingan pemburu yang menumpang dalam aksi balasan itu.
Korban tewas pertama di Jambi pada Februari lalu adalah Khoiri, 20 tahun. Jasad utuh penebang kayu liar ini belum kunjung ditemukan sampai akhir pekan kemarin. Tempat kejadian perkara Khoiri di areal hutan produksi Sungaigelam berjarak sekitar 2 kilometer dari kejadian yang menimpa Mat Ali, 50 tahun, dan Nana bin Mat Ali, 17 tahun. Kedua warga Desa Masuji, Lampung, itu tewas diterkam sang raja hutan pada Jumat lalu.
Tiga korban tewas terakhir juga pelaku pembalakan di Hutan Paal VII Sungaigelam, tempat terdapat praktek pembalakan secara besar-besaran karena di tempat itu ditemukan berbagai jenis kayu yang sudah digergaji maupun kayu bulat habis ditebang. "Kami menemukan ada 10 pondok yang dihuni sekitar 60 orang di lokasi itu," Didy Wurdjanto, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, mengungkapkan.
Didy menyebutkan bahwa pembukaan hutan, baik karena pembalakan, konversi menjadi perkebunan, maupun konversi untuk menyuplai bahan baku pabrik bubur kertas, menjadi penyebab utama konflik antara manusia dan satwa liar seperti gajah dan harimau. Dalam hal ini data WWF-Indonesia menunjukkan bahwa pada 1985 sampai 2007, tutupan hutan di Sumatera telah berkurang 12 juta hektare atau sebesar 48 persen.
"Tewasnya enam orang akibat diterkam harimau di Jambi dalam satu bulan terakhir merupakan sinyal peringatan akan pentingnya upaya serius dari berbagai pihak untuk segera menghentikan pembukaan hutan alam dan memberikan tempat yang cukup bagi harimau untuk hidup," kata Didy.
Untuk kepentingan itu, pemerintah pusat lewat Departemen Kehutanan sebenarnya sudah memiliki dokumen tentang strategi dan rencana aksi konservasi harimau sumatera 2007-2017. Dokumen itu disusun dengan melibatkan berbagai organisasi penggiat konservasi dan juga industri pengguna produk hutan. "Saya berharap kejadian Februari lalu mendorong segera dibentuknya tim tanggap cepat dalam mendeteksi wilayah 'kekuasaan' harimau demi bisa mencegah konflik dengan manusia," kata Osmantri yang selama ini lebih banyak mengandalkan keampuhan penyuluhan.
Sementara itu, Didy meminta peran aktif Dinas Kehutanan dan polisi dalam merazia praktek pembalakan. "Kawasan hutan di sekitar tempat kejadian serangan merupakan habitat binatang buas tersebut yang telah banyak dibuka menjadi kawasan perkebunan masyarakat dan perusahaan swasta serta praktek pembalakan liar," ujarnya.

Harimau Sumatera

Hewan ini memang superior. Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Harimau Sumatera 2007-2017 menempatkannya di puncak piramida ekosistem hutan di seantero Sumatera. Tapi, bukan itu yang membuat harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) penting.
Harimau mungil--panjang tubuh 220-240 cm dan berat 90-120 kg (paling kecil di antara jenis-jenis harimau yang ada di dunia)--ini adalah satu-satunya subspesies harimau yang tersisa di Indonesia. Dua saudaranya yang lain, harimau bali (Panthera tigris balica) dan harimau jawa (Panthera tigirs sondaica) sudah lebih dulu punah di era 1940-an dan 1980-an.
Harimau sumatera pun kini sudah dilingkari oleh IUCN sebagai jenis hewan yang sudah sangat terancam punah. Habitat yang terfragmentasi dan terisolasi satu sama lain sukses menekan populasinya hingga diduga tidak lebih dari 300 ekor saja. Jika tidak hati-hati, bahaya konflik dan ancaman perburuan yang terus mengintai bisa membuatnya menyusul punah.
Hasil analisis terkini menetapkan 12 bentang alam konservasi harimau di Sumatera dan hanya dua yang dikategorikan sebagai prioritas global yakni bentang alam Kerinci Seblat dan Bukit Tigapuluh. Saat ini populasi harimau sumatera diestimasi ada setidaknya di 18 kawasan konservasi dan kawasan hutan lainnya yang berstatus hutan lindung ataupun hutan produksi yang terpisah satu sama lain.
Sama seperti subspesies harimau lainnya, harimau sumatera umumnya bisa hidup di mana saja, asalkan tersedia cukup air dan mangsa. Di Sumatera, mereka menguasai hutan dataran rendah sampai pegunungan. Mereka juga menghuni berbagai jenis habitat, dari hutan primer sampai hutan rawa gambut, hutan pantai, dan hutan tebangan.
Kajian yang sudah dilakukan menunjukkan daerah jelajah harimau sumatera betina berkisar 40-70 kilometer persegi. Sedangkan yang jantan lebih bervariasi, yakni 180 kilometer persegi di dataran rendah hingga 380 kilometer persegi pada ketinggian lebih dari 1.700 meter di atas muka laut.
Boleh dibilang daerah jelajah seekor harimau sumatera jantan setara daerah jelajah dua ekor harimau sumatera betina. Faktor utama yang mempengaruhi luas daerah kekuasaan itu jelas keberadaan mangsa. (Koran Tempo, 02/03/09)

Monday, March 2, 2009

Pemanasan Global Ancam 900 Spesies Terumbu Karang

Jakarta (ANTARA News) - Pemanasan global akan mengancam keberlangsungan hidup 900 spesies terumbu karang di segitiga terumbu karang terbesar di dunia. "Ini bukan masalah parah lautnya, kalau kena `global warming` suhu air laut akan naik dan terumbu karang bisa mati," kata Ketua Panitia Nasional World Ocean Conference 2009, Indroyono Soesilo, di Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan keberlangsungan segitiga terumbu karang terbesar dunia alias "coral triangle" merupakan hal penting, mengingat lokasi ini dapat dikatakan sebagai Hutan Amazon dasar laut terbesar di dunia.
Badan-badan dunia dan LSM dunia pun menyadari bahwa inisiasi Indonesia untuk menyelenggarakan WOC 2009 pada 11-15 Mei di Manado mendatang merupakan event penting.
Bahkan United Nations Environmental Program (UNEP) akan mengawal pelaksanaan konfrensi kelautan pertama di dunia tersebut hingga berhasil menghasilkan draft kebijakan terkait kelautan.
"UNEP bahkan akan membuat `Ocean Day` pada Pertemuan Tingkat Tinggi terkait Pemanasan Global, Teknologi, dan Penghijauan di Copenhagen bulan September 2009," ujar dia.
Matinya terumbu karang di kawasan segitiga terumbu karang terbesar di dunia, yakni yang berada di Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Timor Leste, dan Kepulauan Solomon, akan mengancam sumber daya ikan dunia.
Karena itu, WOC 2009 yang mengambil tema "Ocean and Climate Change" dengan topik "Ocean Impact to Climate Change and The Role of Ocean to Climate Change" diharapkan mampu menghasilkan rancangan strategi yang akan tertuang dalam "Manado Ocean Declaration" (MOD).
Hasil dari WOC 2009 akan ditindaklanjuti dengan Rencana Aksi dan Implementasi, yang akan diusulkan pembentukan "World Ocean Forum".(*)

Friday, February 27, 2009

Pesta Kapurung

Hari Sabtu adalah hari libur bagi orang kantoran lainnya. Tapi sebenarnya tidak juga sih buat aku, karena kalau hari Sabtu ama Minggu, aku harus nagnaterin istriku bekerja, ya maklum kerja di perusahaan swasta yang jenis retail otomatis hari libur adalah hari ramai. Jadinya, ya gitu deh, pukul 8 pagi saya sudah menyalakan Honda Supra x milik istri saya, tidak lama kami sudah meluncur membelah padatnya jalan Ahmad Yani kota Malang. 

Ada sekitar 6 lampu merah yang harus kami lewatin sebelum sampai ke tempat kerja istriku. Setelah mengantar istri saya, kalau tidak ada kegiatan biasanya saya akan mampir ke rumah orang tua saya di sisi lain kota Malang, sekedar mengetahui keadaan beliau berdua dan mencicipi masakan ibu. 

Kebetulan, hari itu ibu saya memasak Kapurung atau apogalu. Sebuah masakan yang berbahan dasar dari sagu untuk menu utamanya. Sagu itu di rebus kemudian dibuat bulat-bulat. Pelengkapnya ada sayur yang bening yang terdiri atas beberapa jenis sayuran yang dimasak dengan bumbu tertentu. Kemudian juga ada ikan yang dimasak dan diambil dagingnya saja lalu ditempatkan dalam sebuah mangkok. Tidak lupa tersaji sambal yang didalamnya ada teri. hmmm... benar membangkitkan selera.


Tapi ketika saya datang itu semua dalam proses pemasakan. "gus, nanti istrimu ajak kesini pulang dari kantor, kan ini sabtu masuk setengah hari sajakan." Ujar ibuku membuyarkan lamunanku akan sedapnya apogalu itu nanti. "tadi ibu sudah telpon dia untuk ke rumah pulang dari kantor". Ujar ibuku untuk lebih mengingatkan aku.


Hari Sabtu dan Minggu memang istriku bekerja setengah hari, karena dia hanya boleh libur dihari lain selain hari Sabtu dan Minggu. Dan biasanya kalau sudah siang hari sekitar jam satu saya akan meluncur kembali ke kantor istriku di sekitar Stadion Gajayana Malang. Jalanan sekitar stadion ini akan saya hindari jika ada pertandingan sepak bola, karena pasti jalan disekitar stadion akan penuh oleh supporter yang berjalan kaki dan tentu menjadi tempat parkiran dadakan.

Jam di hape saya menunjukkan pukul 13.25 WIB, sesaat kemudian istriku berlari-lari kecil mendekati sepeda motor ini. Dengan cepat diraihnya helm yang kusodorkan, kemudian dikenakannya dan langsung nangkring dibelakang ku. "Ayo cepet-cepet ke rumah ibu, ibu masak kapurung neh..", katanya dengan penuh semangat. "Jangan sampai telat entar kalah deh ama rina, dia kan sabtu ya setengah hari juga kerjanya", ujarnya lagi sambil memeluk erat pinggangku. Tidak kalah semangat aku juga memacu sepeda motor ini menuju ke rumah ibu diseputaran rampal.


Uihhh.. benar saja, Rina sudah nangkring di meja makan, " mas, mbak ayo bergabung, ibu masak kapurung nih." Tidak menunggu lama kamipun bergabung dengan Rina, langsung memakan apogalu yang tersedia. Mmmmm... sedap dan segar. Wah jarang-jarang neh masak kapurung seperti ini. Paling agak sering waktu Rina hamil, ngidamnya makan kapurung terus. Idih ngidam apa suka tuh ...

Thursday, February 26, 2009

Najiboen

Beberapa hari ini saya seperti mati ide. binyun deh. Padahal kadang ide menumpuk disaat yang kurang tepat. Ide sering hinggap ketika saya di dalam bis pulang ke Malang sore hari. Diiringi teriakan fals tukang kacang ama pengamen yang bersaing memerdukan suara, dan suara hujan deras diluar bis dengan kilat yang saling menyambar. Clink... tiba-tiba ide nongol begitu aja. Tapi, mau posting dari mana kalau sudah begitu, yang ada juga asyik ngelamun dengan ide-ide tadi.
Pagi, pagi sekali, tapatnya jam baru pukul 06.10 WIB aku sudah nongol dikantor. Gile gak abis pikir sepagi ini sudah nongol dikantor, berangkat dari Malang habis sholat Subuh, tujuan utama biar gak kepanasan di bis yang sesak bersaing dengan buruh-buruh pabrik rokok Sukorejo. Beh..
Langsung ke ruang Tata Usaha untuk nyomot alias nyolek tombol biru menyala dengan jempolku. Tit tut.. suara nyaringnya bertanda jempolku diterima dengan baik. Biasa presensi pagi, entar pulang juga nyolek tuh tombol, mending kalo seksi enak nyoleknya. Secepatnya saya langkahi tangga menuju ruangan kerjaku di lantai dua, masih sepi, pak Rus yang bagian ngepel juga belum ke lantai ini. Komputer aku nyalakan dan langsung cek email dan facebook. Gak dinyana, ada permintaan berteman dari seseorang bernama Saleh. Mukanya sih mirip dengan teman saya dulu pas dulu kelas satu es em a. Tapi, kami semua "the malsef" biasa memanggilnya Najiboen, karena dia keturunan arab. Putih, cakep, suka nyengir, gak tinggi, en suka celana dengan karet kolor. Aneh.
Saya konfirmasi tuh saleh, apa dia najiboen, tapi gimana juga ajakan pertemanannya saya terima, tidak lupa saya lihatlah beberapa fotonya di profile. Saya semakin yakin seyakin-yakinnya kalo itu najiboen ya walaupun lebih gemuk. Yang bikin saya ragu dua orang anak yang digendongnya, kok cina semua. husss..kalo dibaca entar disangka SARA lagi, maaf kok keturunan tiongkok ya. Tapi sudahlah ...
Agak siang ada sms masuk ke hape motorola E398 ku, bunyinya menanyakan kabarku dan memberitahukan kalau dia najiboen. Weh gembira sekali, akhirnya kita sms-an deh, kayak abg lagi chatting.
Hari itu saya benar-benar terkenang ama najiboen, sampai-sampai di bis juga masih ngingetin si najiboen. Ya walaupun dia cuma 1 semester di sekolah saya, tapi karena kelucuan dan keluguannya begitu mengenang. Lain dah dengan anak kebanyakan. Termasuk pilihan jodohnya sekarang, dia membenarkan kalau istrinya itu orang Tiongkok dari marga xi hua hua. hihihihi hidup memang aneh. Padahal pas jaman SMA dulu dia malu banget ama cewek walau sebetulnya ngebet ama si Desi, cewek kelas sebelah. Akhirnya malah sering pandang-pandangan dari teras kelas aja, idih kayak filemnya rano karno ama yessi gusman, hwa..hwa..hwa.
Tapi saya salut juga ama dia, karena dia mau pindah ke Mojokerto, akhirnya dia beranikan diri untuk mendatangi desi untuk berpamit dan memberikan sapu tangannya yang telah ia tulisi. Wah ... sok dramatis. Selain itu sempet-sempetnya dia pamitan malem-malem ke rumahku en ke beberapa rumah temennya. Lucu banget. Kata temen-temen Malsef, maksud hati pindah ke Malang biar dapet sekolah favorit eh malah ketrimanya di SMAN 5 Malang yang waktu itu masih jauh dari favorit. hehehe ... najiboen najiboen...
 

Copyright 2010 halaman agus.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.