Wednesday, May 27, 2009

Masih Tukik Disayang, Sudah Besar Jangan Dilepas

Siapa sangka reptil lucu, seperti kura- kura Brasil (Trachemys scripta) ternyata juga harus dicermati sebagai spesies asing invasif. Kura-kura jenis ini tergolong bersama virus malaria, jamur chytrid yang sekarang menjadi musuh populer bangsa kodok, eceng gondok, pohon lamtoro gung, keong mas, bekicot, ikan nila, dan monyet ekor panjang dalam daftar 100 spesies yang sangat membahayakan di muka bumi ini.
Kura-kura Brasil ketika masih tukik memang memiliki karapas hijau terang dan garis-garis kuning serta merah dari mata sampai gendang telinga. Tapi warna- warna menarik itu ketika dewasa berubah menjadi hijau gelap dan berpotensi membosankan. “Dan kalau sudah bosan, para pemilik biasanya akan melepaskannya ke alam,” ujar Mumpuni, peneliti bidang zoologi di Pusat Penelitian Biologi, LIPI.
Kura-kura jenis ini diimpor dari habitat alaminya di Amerika Serikat, dari Sungai Mississippi ke selatan sampai Texas dan Teluk Meksiko, berupa tukik karena pada usia itulah warnanya menarik. Kini, mereka yang dewasa diyakini sudah menetap dan berkembang biak di perairan umum di berbagai negara, terutama di Asia, termasuk Indonesia.

Memang belum ada laporan mengenai dampak negatif dari kura-kura Brasil terhadap jenis-jenis flora maupun fauna asli Indonesia. Namun, Mumpuni mengungkapkan, beberapa ekor sudah sering ditemui di perairan umum di beberapa daerah di Jawa, Sumatera, Kalimantan, bahkan Papua. “Di sana hidup pula fauna perairan asli,” kata Mumpuni.

Sebagai catatan saja, kura-kura Brasil ini tergolong tangguh karena dapat hidup pada berbagai habitat perairan, seperti kolam, danau, sungai, rawa, maupun bendungan. Mereka yang bisa berusia sampai 30 tahun mengusung strategi berendam dalam lumpur setiap menembus musim dingin. Kura kura ini hidup dengan memangsa berbagai macam binatang dan tumbuhan atau omnivora, di antaranya ikan, udang, keong, ketam, berudu, cacing, serangga air, dan berbagai jenis tumbuhan air.

Yang juga harus diingat, Mumpuni menambahkan, “Anakan kura-kura ini, meskipun populer sebagai peliharaan, kadang membawa penyakit yang dapat ditularkan pada manusia, yakni salmonella.” (Koran Tempo, 26/05/2009)

Sunday, May 24, 2009

Kembali ke Gajayana


Usai sholat Ashar, segera saya pacu Supra-X Honda menuju ke kawasan jalan Semeru. Tampaknya hujan sempat menguyur sebagian kota Malang sore itu. Jalanan basah.

Melewati kawasan stasiun kota baru, belok kanan ke arah balai kota, waduh ... arah jalan dialihkan ke Suropati, ada arak-arakan marching band yang dilepas dari depan balai kota. Saya baru teringat, kalau sejak hari Kamis ada kegiatan Malang Tempo Doeloe IV. Dan sore ini memasuki hari ketiga, rencananya hari minggu besok akan ditutup. Ya, kegiatan dimana sepanjang jalan Ijen yang menjadi ikon kota Malang ditutup dan dijadikan arena ala tempo dulu, ya mulai bangunan, makanan, pakaian, hingga suasananya disulap ala tempo dulu atau jaman penjajah.
Saya sempat mengerutu abis, kurang dari setengah jam lagi sepakbola bakal dimulai di Stadion Gajayana, dan saya sudah niat abis untuk menontonnya, bukan pertandingannya yang saya cari, tapi suasananya di dalam stadion yang bikin saya kangen abis. Dengan dialihkannya tuh arah lalu lintas, otomatis saya harus menembus kemacetan yang ditimbulkan arak-arakan marchingband itu melalui Pattimura, Jagung Suprapto, belok kanan kearah oro-oro dowo, belok kiri ke arah Arjuno, nyelonong ke kanan dan sampai di parkiran dadakan Gajayana.
Baru celingukan cari tempat parkir yang oke, udah didatangin calo tiket.
- Saya yang lagi celingukan : " piro ?" (berapa harga tiketnya?) idiih panjang banget artinya.
- Calo tiket yang sok akrab : "podo ae bos, sepuluh ewu" (sama saja dengan loket, sepuluh ribu aje) hii artinya kok tetep panjang.
Saya sempet ngelirik ama harga tiket yang tertera didalamnya, memang sepuluh ribu rupiah. Ya maklum, ini yang tanding Persema bukan Arema, jangan harap harga tiket sama kalau Arema yang main. Tapi sejak Super Liga, home base Arema pindah ke Stadion Kanjuruhan yang kapasitasnya super besar, 40 - 50 ribu, bandingkan dengan Gajayana setelah renovasi yang sekitar 25 ribu aja.
Setelah parkir, secepatnya saya masuki Stadion Gajayana. Syukur alhamdulillah belum mulai, dan penonton belum banyak, ya maklum sekali lagi, yang tanding bukan Arema. Saya ambil posisi di tribun utara yang baru direnovasi dan lebih tinggi, enak lihat pertandingannya, tinggi. Saya bersyukur abis, akhirnya terkabul bisa ke stadion ini lagi, ya diitung-itung 3 tahu lebih saya tidak masuk stadion ini, ya sejak nikah. Kangen abiss. Kangen merasakan aura gemuruh aremania bernyanyi, berloncat bersama-sama, memaki bebas, meluapkan kegembiraan ketika gol terjadi, fuuuh benar-benar membuat rindu selalu kembali ke stadion ini.
Tapi, sore itu, aura itu tidak saya dapat, ya karena yang bertanding bukan Arema tapi Persema. Tapi setidaknya saya mendapatkan suasana khas Gajayana. Makian penonton ke pemain yang salah oper, celetukkan penonton yang bikin kita nyengir.
- Penonton gemuk : " j****k, iku mbom mbom ket mau gak iso nguasai bal, yok opo rek, koyok wong pelo.." ("kata makian khas jatim, itu mbom mbom (pemain persema) dari tadi kok tidak bisa menguasai bola dengan baik, gimana sih, seperti orang step aje).
- Penonton berkumis : " iyo i, wah amsli, pasti dek e iku ono masalah, mangkane gak dong, dadi yo gak iso konsen dang pertandingan, wis yakin aku arek e ono masalah abot" (iya, wah asli nih dia pasti punya masalah, makanya tidak bisa konsentrasi, sudahlah yakin saya, dia punya masalah berat).
atau ndengarin celetukan iseng pedagang asongan.
- Pedagang asongan nasi kuning : " nasi, nasi, seribu rupiah saja. gratis sendok stainless cina!"
- Penonton yang sering ke Gajayana dan sering mendengarnya : " sendok stainless cina opo? plastik ngono"
Asiknya nonton bola di Gajayana, kita bisa nonton sambil ngopi, merokok, atau bahkan makan. Mau makan apa? mau minum apa? kopi? minuman suplemen? Wah beragam abis, jualan nasi mulai yang seharga seribu rupiah sampai tiga ribu ada, kopi seribu aja, mau nescafe atau torabika. Atau sekedar nyamil, mulai krupuk upil, krupuk pasir, rambak, bak pao, tahu, lumpia sampai ales-ales, dijamin gak kelaparan di dalam.m Atau mau mbontot makanan sendiri dari rumah. Di Malang, nonton sepakbola sudah bukan lagi makanan suporter tapi penonton yang menganggapnya rekreasi sudah banyak. Seru. Nah suasana itu yang bikin saya selalu rindu untuk hadir di tengah-tengah pertandingan di dalam stadion. Mau sore atau malam.
Dan jangan berpikiran kita akan mendukung abis Persema sore itu, tidak saudara. Babak kedua mulai menyebalkan ketika Persema bermain jelek dan seolah-olah mengulur-ulur waktu, memang mereka unggul 1 gol. Tapi kami penonton butuh permainan yang bagus. Yang terjadi justru di menit-menit terakhir penonton (khususnya di tribun tempat saya duduk) justru mendukung tim tamu yakni PSPS Pekanbaru. Begitu PSPS dapat menyamakan kedudukan 1-1, bukan main tepuk tangan yang menggema. Saya semakin yakin, warga Malang sudah sangat dewasa dalam menonton bola. Dan sangat kecil kemungkinan ada kerusuhan karena sepak bola di Malang, dan saya belum pernah mengalaminya.
hmmmm ... Stadion Gajayana, akhirnya ada waktu juga bagiku untuk merasakan suasanamu kembali.

Friday, May 22, 2009

Dilarang Masuk! Khusus Maleo

Kelompok konservasi Amerika Serikat membeli sebuah pantai tempat maleo bertelur di Sulawesi Utara untuk melindungi habitat burung dilindungi itu.
JAKARTA --Entah siapa yang lebih dulu menemukan pantai berpasir lembut yang selalu bermandikan cahaya matahari itu, tapi Pantai Binerean tak ubahnya sebagai "rumah bersalin" bagi maleo dan penyu laut. Burung maleo (Macrocephalon maleo), misalnya, rutin menggali dan mengubur telurnya di pantai tersebut setiap musim bertelur. Pantai yang terletak di Tanjung Binerean itu juga dikenal sebagai tempat bertelur favorit bagi penyu hijau, penyu belimbing dan penyu lekang.
Reputasi Pantai Binerean sebagai nesting ground atau tempat bertelur bagi beberapa jenis binatang, khususnya maleo, itulah yang membuat beberapa lembaga konservasi tertarik menjadikan kawasan tersebut sebagai pantai pribadi maleo. Pantai berpasir putih sepanjang 2,7 kilometer itu terletak sekitar 300 kilometer dari Manado, Sulawesi Utara.
Kini pantai seluas 14 hektare itu dimiliki oleh Pelestari Alam Liar dan Satwa (PALS), sebuah lembaga swadaya masyarakat setempat yang bekerja sama dengan Wildlife Conservation Society (WCS) untuk melestarikan satwa liar di Sulawesi. Mereka sengaja membeli pantai di desa Mataindo, Kecamatan Pinolosian Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, itu untuk melindungi habitat maleo.
WCS, lembaga konservasi yang berbasis di Amerika Serikat, mengatakan pantai yang berada sekitar 100 kilometer dari Tambun Nesting Ground di Kecamatan Dumoga Timur, Bolaang Mongondow, itu dipilih karena di dalamnya terdapat sekitar 40 sarang maleo. "Melindungi pantai ini hanyalah tahap pertama dari proyek konservasi komprehensif untuk melestarikan maleo," kata Noviar Andayani, direktur program Indonesia WCS. "Dari seluruh daerah jelajah burung tersebut, hanya sedikit tempat bertelur yang masih ada, kurang dari 100 situs sehingga setiap sarang amat berarti."
Kelompok lingkungan tersebut mengumpulkan uang sebesar US$ 12.500 atau sekitar Rp 129,6 juta untuk membeli pantai yang terletak di kawasan terpencil Sulawesi Utara itu. Dana itu didonasikan oleh Lis Hudson Memorial Fund dan perusahaan Quvat Management dari Singapura. Proyek itu juga memperoleh dukungan melalui Van Tienhoven Foundation dari Belanda. "Kawasan perlindungan itu telah membangkitkan kesadaran tentang burung tersebut," kata John Tasirin, koordinator program WCS di Sulawesi.
John menyatakan selain berpasir putih, pantai itu tempat yang menyenangkan untuk berenang dan menyelam dengan temperatur air yang tak pernah turun di bawah 25 derajat Celsius. Di balik perkebunan kelapa terdapat hutan lindung seluas 100 hektare. Walaupun tak terlampau luas, kawasan hutan itu adalah koridor yang penting bagi maleo untuk mencapai hutan lebat.
Hutan itu juga membuka kesempatan bagi maleo untuk bergabung dengan populasi maleo lain di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone yang berjarak 12 kilometer dari hutan tersebut. Namun, hingga saat ini belum diketahui apakah populasi burung maleo yang bertelur di pasir pantai ini bercampur dengan kelompok maleo yang bertelur di tanah vulkanis di dalam hutan.
Meski pantai Binerean cukup terpencil, bukan berarti kawasan itu steril dari aktivitas manusia karena ada tak jauh dari pantai terdapat perkebunan kelapa penduduk. "Tetapi, tanah di sekitarnya belum banyak ditanami," kata John.
John menyatakan kawasan perlindungan itu amat signifikan karena manusia adalah ancaman terbesar bagi pelestarian burung yang terancam punah itu. Penduduk desa kerap menggali lubang dan mengambil telur maleo untuk dimasak atau dijual. Telur maleo sering menjadi incaran penduduk karena ukurannya yang beberapa kali lipat telur ayam sehingga harganya tinggi, bahkan setara dengan satu kilogram beras.
"Populasi maleo terus menurun," kata Martin Fowlie dari BirdLife International. "Sehingga upaya perlindungan seperti apa pun akan amat berguna."
Walaupun pantai yang dibeli lumayan luas, WCS sama sekali tak menemui kendala dalam negosiasi jual-beli pantai dan kebun kelapa itu dari penduduk desa Mataindo. Salah seorang pemilik tanah, Papa Bakrie, memang ingin menjual tanah itu karena lahan itu terpencil dan putranya tewas tenggelam di rawa dekat tempat maleo bertelur. "Pemilik tanah lainnya juga punya alasan bagus untuk menjual propertinya seperti hendak bercerai dan pindah ke daerah lain," kata John.
Program ini mendapat banyak dukungan dari penduduk maupun pejabat setempat. Upacara adat desa yang digelar tim WCS pada 4 Mei lalu dihadiri puluhan pemuka desa dan tokoh agama, termasuk Kepala Desa Mataindo dan camat Pinolosian Timur. Perayaan peluncuran Program Konservasi Maleo sekaligus status baru pantai itu sebagai kawasan perlindungan maleo ditandai dengan pelepasan empat ekor anak maleo yang baru menetas.
Pada kesempatan itu mereka juga melepas 98 tukik penyu lekang, penyu hijau dan penyu belimbing, yang menetas sehari sebelumnya, ke laut. Selain melindungi sarang maleo, tim WCS turut menjaga sarang penyu, yang musim kali ini menghasilkan 500 tukik.
Untuk menjaga pantai tersebut dari tangan jahil manusia, WCS melatih seorang penduduk setempat. "Dahulu dia adalah pengumpul telur sehingga ahli dalam mencari telur kini dia melindungi sarang maleo," kata John. "Setiap hari dia harus memonitor kedatangan maleo dewasa, kapan mereka bertelur dan kapan telur itu menetas. Berbeda dengan nesting ground lain, telur maleo di Binerean tetap dibiarkan di dalam pasir."
Penjaga sarang maleo itu juga bertugas mengurus kebun kelapa yang ada di situs tersebut. Kebun itu menghasilkan lebih dari 10 ribu butir kelapa per tahun. "Uang hasil panen kelapa nantinya dipakai untuk mengupah petugas yang menjaga pantai itu," kata John.
John mencatat, dalam musim bertelur tahun lalu, pada 1 November-31 Desember, mereka menemukan 43 butir telur. Sebanyak 90 pasang maleo terlihat di daerah itu. "Jika diasumsikan bahwa pasangan maleo bertelur dalam interval dua bulan, telur yang dihasilkan amat banyak," katanya.
Sayangnya, masa maleo bertelur di Binerean berbeda dengan tiga nesting ground yang dikelola WCS di Tambun dan Muara Pusian di Bolaang Mongondow dan Hungayono di Gorontalo. Bila di ketiga tempat itu hampir sepanjang tahun bisa ditemukan anak maleo yang menetas dari dalam tanah, masa maleo bertelur di Binerean hanya terjadi pada November-Mei, sedangkan antara Juni dan Oktober hampir tidak ada maleo yang bertelur.
Pantai pribadi maleo ini bukanlah proyek pertama WCS di Indonesia. Sejak 2004 lalu, lembaga konservasi itu aktif melindungi sarang maleo, terutama mencegah para pemburu mengambil telur secara ilegal. Tahun ini, para staff WCS di Indonesia akan merayakan pelepasan 5.000 anak maleo sebagai bagian dari rencana pemulihan spesies terancam punah itu.

Melindungi Telur Maleo dari Penggorengan

Induk maleo kini tak perlu khawatir lagi meninggalkan telurnya terkubur dalam lubang pasir yang hangat. Sarang-sarang maleo yang tersebar di sepanjang Pantai Binerean kini aman dari pencurian dan penjarahan sejak kawasan itu ditetapkan sebagai pantai pribadi maleo.
Sepanjang hari telur-telur mereka akan dijaga oleh seorang petugas. Lembaga konservasi Wildlife Conservation Society (WCS) dan Pelestari Alam Liar dan Satwa (PALS) bekerja bahu-membahu melindungi kawasan yang diperkirakan berisi 40 sarang maleo itu.
Biasanya, maleo akan menggali lubang lebih dari setengah meter untuk menyembunyikan telurnya dari binatang predator. Sekitar 60 hari kemudian, telur itu akan menetas. Istimewanya, begitu keluar dari telurnya, anak-anak maleo langsung bisa terbang dan mencari makanan sendiri.
Berbeda dengan anak unggas lain yang masih berbulu halus dan perlu berhari-hari untuk berganti bulu, sayap anak maleo telah tumbuh sempurna. Kecepatannya berlari dan terbangnya juga sudah semahir unggas dewasa. Itu semua berkat nutrisi dalam telur maleo yang bisa lima kali lipat dari ukuran telur ayam, tapi membuat telur itu juga diincar manusia untuk dijual maupun dikonsumsi.
John Tasirin, koordinator program WCS di Sulawesi, amat optimistis status baru pantai di Tanjung Binerean itu bisa menjamin kelangsungan hidup burung yang menjadi simbol kekayaan sumber daya hayati di Sulawesi tersebut. Mereka juga membangun sebuah stasiun riset sederhana di lahan itu.
"Tanah itu terisolasi, tak ada jalan yang menghubungkannya ke jalan besar sehingga amat menguntungkan bagi upaya konservasi yang kami lakukan," katanya. "Untuk mencapai tanjung tersebut, orang harus berjalan kaki dari Desa Mataindo dengan menyeberangi anak sungai dan sebuah sungai besar.
Binerean, kata John, adalah lokasi yang amat potensial untuk menyelamatkan sarang tempat maleo bertelur. Burung seukuran ayam dengan dahi yang seolah sedang memakai helm hitam itu memang amat pemilih. Dia tidak bisa bertelur di sembarang tempat.
Satwa endemik Sulawesi itu hanya mau bertelur di tempat yang memiliki sumber panas bumi atau di pantai berpasir yang hangat. Salah satu tempat bertelur maleo yang masih tergolong bagus ada di Tambun, di dalam kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Bolaang Mongondow. Letaknya tak jauh dari Gunung Ambang yang masih aktif sehingga banyak sumber air panas ditemukan di sana. Sumber air panas inilah yang dimanfaatkan maleo untuk menghangatkan tanah tempat telur terkubur.
Burung hitam dengan perut merah jambu dan bermuka kuning itu kini jumlahnya di alam diperkirakan tinggal 5.000 hingga 10 ribu ekor. Populasi burung famili Megapodidae atau berkaki besar ini terus menurun sehingga masuk kategori Endangered atau terancam punah dalam IUCN Red List 2009.
Menurut situs BirdLife, dari 142 lahan tempat bertelur yang masih ada atau sempat diketahui, 48 di antaranya telah ditinggalkan, 51 sangat terancam, dan 32 lainnya masuk kategori terancam. Hanya empat nesting ground yang bisa dibilang belum terancam sedangkan status tujuh situs lainnya tidak diketahui. Jumlah telur di setiap situs bertelur pun semakin sedikit.
Di Tambun Nesting Ground, misalnya, jumlah telur yang ditemukan maksimal lima butir per hari, itu pun pada musim bertelur antara Januari-April. Sebelum 1990, telur maleo yang ditemukan di lokasi bertelur bisa mencapai 40 butir setiap hari. Koran Tempo - 22/05/2009.

Monday, May 4, 2009

evakuasi satwa

Fajar masih mecucu aja mulutnya sambil diisep tuh LA lights dimulutnya yang sedari tadi mancung terus. sedangkan saya sibuk nyetir disampingnya menembus padatnya jalanan Surabaya, panas dan sweat abis. Gimana gak mecucu tuh fajar, kita evakuasi satwa pake mobil Kijang yang AC-nya udah panas, otomatis dimatiin aja dan dipaksain deh kita merasakan angin panas Surabaya hari itu.
Setelah belok sana belok sini plus tanya ke si pemilik satwa dimanakah letak rumahnya itu, sampai juga kita di sisi timur Surabaya yang merupakan daerah rawa dan deket pantai, makin panaslah kita. Udahlah, saya lepas aja seragam ini, dengan kaos kutung tanpa lengan aku asyik nyetir ke lokasi itu.
" Lho pak fajar, katanya petugasnya dua, kok sendirian?" sambut seorang ibu setengah baya dan punya rambut ala Tika Bisono itu. Saya yang dengar cuma bisa senyum kecut, asem tenan, gara-gara seragam saya lepas dikira sopir deh. "Itu juga petugas bu, cuma nyamar aja", jawab fajar sekenanya sambil ngelirik saya.
Kita lihat tuh monyet yang mau diserahkan ke negara (taela...), jenis Macaca fasicularis, gak dilindungi sih, tapi mau gimana si ibu udah beberapa hari neror telepon ke si fajar, udah takut melihara tuh monyet karena tambah serem aja tingkahnya. Lagian si ibu pelihara monyet, pelihara ayam kek, kan lumayan bisa nelor en dagingnya bisa di jadiin opor kan sedep. " Iya deh pak, bawa aja dengan kandangnya", rajuk si ibu. Bujubune batinku, kandang segede gitu mana bisa diangkut pake mobil kijang kayak gini. Fajar tersenyum gak enak ke arahku, "iye deh, ganti mobil..", gerutuku. "pinjem mobil pick up patrolinya kantor seksi Surabaya aja, kamu tunggu deh disini ama tuh monyet, aku ambil mobil di kutisari..", tambahku sambil ngeloyor pergi. Kembali menyeruak padatnya jalanan Surabaya yang panas. Persis dah kayak lagunya Franky..".. berjalan di lorong pertokoan di Surabaya yang panas...", bener deh tuh lagu emang puanas neh Surabaya.
Untungnya, nih mobil patroli AC-nya caem dah, mana dikasih duit cepek ama kasi buat tuh solar patroli, tambah adem ati ini, tararengkyu...!
"Grrrrr...", tuh monyet menunjukkan kekuasaannya ke kita. Sial nih monyet, kayaknya mau ngasih perlawanan ama kita. Saya puter-puter deh otakku, gimana neh naklukin monyet ini, pake kekerasan gak mungkin lah, gak sesuai dengan pedoman animal welfare, bisa-bisa kena HAM-nya satwa kita. Alah gini aja, kita pakai perang psikologi aja, pikirku nih monyet sudah hidup solitair jadi kalau dia kalah "sangar" biasanya bakal nurut. Terpaksa deh, aku keluarin muka sangarku dan menggertak seolah aku tuh jauh lebih sangar dibanding taringnya yang sedari tadi dipamerkan, sambil aku tarik-tarik rantainya. Huehehehe... ternyata keder juga tuh monyet.Takut. Nah kalo gini gampanglah kita mindahin kandangnya ke atas bak mobil. Fajar sempet keder liat tuh monyet melototin dia terus, "udah deh jar, kamu sebelah sini, biar aku yang disisi situ, biar monyetnya gak macem-macem ke kamu, saya takut ntar kamu diperkosa lagi ama tuh monyet, hehehe.."
Gak diduga, monyet itu kita evakuasi tanpa perlawanan, walau awalnya kita sempet grogi juga lihat taringnya yang udah panjang.
Lepas dhuhur, kita sudah meluncur ke kantor untuk memindahkan monyet itu ke kandang transit dan melepaskan semua rantai yang mengikat di perutnya. Tugas selesai, fajar seneng, saya seneng, monyet juga seneng, hehehe ....

 

Copyright 2010 halaman agus.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.