Friday, January 30, 2009

Workshop

Saya bersyukur sekali, Alhamdulillah, akhirnya kegiatan workshop mengenai penanganan perdagangan nuri dan kakatua di Jawa Timur telah berjalan dengan cukup baik kemarin (29-01-2009). Kerja tim kecil yang saya ketua-i akhirnya dapat menyelenggarakan kegiatan tersebut walaupun dengan waktu persiapan yang sempit. Kegiatan yang bekerjasama dengan Profauna Indonesia dan BBKSDA Jatim tersebut mengundang beberapa pembicara seperti dari BBKSDA Jatim, Profauna, Ditreskrim Polda Jatim, dan LASA tersebut cukup mendapat apresiasi dari peserta. Terbukti banyak pertanyaan, pendapat, dan usul dalam sesi diskusi. Kegiatan ini akhirnya merumuskan langkah-langkah yang perlu diambil untuk mencegah perdagangan secara illegal dan meluas terhadap Nuri dan Kakatua.
Semalam, saya sangat menikmati tidur saya, terbalas sudah stres-stres yang menghinggap dalam diri saya dalam masa persiapan workshop ini. Bayangkan, tim kecil ini hanya beranggotakan 5 orang, sehingga kami harus saling menutupi persiapan-persiapan yang masih belum terpenuhi. Alhamdulillah seluruh anggota tim solid untuk menyelesaikan pekerjaan yang dibebankan diluar tugas sehari-hari di kantor.
Terima Kasih ya.. Alloh ya..Karim...

Thursday, January 29, 2009

Singo Edan Siap Bertarung di Liga Super

MALANG - Akhirnya Arema mendapat tambahan tiga pemain asing setelah menggelar seleksi sejak November tahun lalu. Tiga pemain asing baru ini diharapkan dapat mendongkrak performa Singo Edan pada putaran kedua Djarum Indonesia Super League 2008. Jebloknya performa Arema ditandai dengan tersingkirnya juara Copa Dji Sam Soe 2005 dan 2006 itu dari ajang serupa pada 26 November 2008. Arema kalah agregat gol 3-4 oleh Persibo Bojonegoro.
Muhammad Taufan, juru bicara merangkap manajer sementara Arema, mengatakan, sebagai pembuktian awal, ketiga pemain tersebut diharapkan berkontribusi besar saat Arema menjamu Persik Kediri di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, dalam partai perdana putaran kedua Liga Super, 2 Februari mendatang.
Bekas wartawan itu mengatakan pemain asing ketiga yang resmi dikontrak adalah Boubakar Kieta, pemain berdarah Guinea. "Dia (Boubakar Kieta) telah resmi kami kontrak hari ini sampai putaran kedua berakhir atau enam bulan," kata Taufan kepada Tempo, Senin lalu. Taufan menolak menyebut nilai kontrak Boubakar. Boubakar sebenarnya sempat mengikuti seleksi seminggu di Malang pada pertengahan Desember 2008. Namun, Boubakar dipulangkan karena kualitasnya dianggap tidak istimewa oleh Gusnul Yakin, sang pelatih. Bekas pemain Pahang Football Club, Malaysia, itu dipanggil lagi karena Gusnul tak juga mendapatkan palang pintu yang benar-benar tangguh. Apalagi stopper asal Kamerun, Marcellin Gaha Djiadeu, yang diharap-harap justru tak kunjung muncul di markas Arema meski antara manajemen dan Gaha sudah mencapai kesepakatan soal harga dan masa kontrak.
Sebelumnya, manajemen lebih dulu mengontrak playmaker berpaspor Rumania, Leo Chitescu, sekitar sepekan lalu. Namun, tanpa mengecilkan peran Leo, publik penggila Arema (Aremania) justru sangat antusias menyambut kedatangan sang playmaker pujaan dari Cile, Patricio Morales alias Pato. Leo dan Pato juga dikontrak enam bulan.
Dengan tambahan tiga pemain asing, berarti Arema kini memiliki lima pemain asing sesuai dengan kuota yang diberikan Badan Liga Indonesia. Dua pemain asing lagi adalah Souleymane Traore (Guinea) dan Emaleu Serge (Kamerun). Traore dan Serge sudah bermain sejak putaran pertama. (Koran Tempo)

Wednesday, January 28, 2009

Taman Nasional Lorentz

Taman Nasional Lorentz merupakan perwakilan dari ekosistem terlengkap untuk keanekaragaman hayati di Asia Tenggara dan Pasifik. Kawasan ini juga merupakan salah satu diantara tiga kawasan di dunia yang mempunyai gletser di daerah tropis. Membentang dari puncak gunung yang diselimuti salju (5.030 meter dpl), hingga membujur ke perairan pesisir pantai dengan hutan bakau dan batas tepi perairan Laut Arafura. Dalam bentangan ini, terdapat spektrum ekologis menakjubkan dari kawasan vegetasi alpin, sub-alpin, montana, sub-montana, dataran rendah, dan lahan basah.
Taman nasional ini ditunjuk sebagai taman nasional oleh Menteri Kehutanan tahun 1997 melalui SK No. 154/Kpts-II/1997 dengan luas 2.505.600 ha. Secara administratif pemerintahan berada pada wilayah Kabupaten Paniai, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Fak-fak dan Kabupaten Merauke, Propinsi Papua. Terletak di ketinggian tempat 0 – 5.000 meter dpl., Letak geografis 3°41’ - 5°30’ LS, 136°56’ - 139°09’ BT., Temperatur udara 29° - 32° C di dataran rendah, dan Curah hujan 3.700 – 10.000 mm/tahun.
Sebanyak 34 tipe vegetasi diantaranya hutan rawa, hutan tepi sungai, hutan sagu, hutan gambut, pantai pasir karang, hutan hujan lahan datar/lereng, hutan hujan pada bukit, hutan kerangas, hutan pegunungan, padang rumput, dan lumut kerak. Jenis-jenis flora yang ada dalam kawasan antara lain Nypa fructicans, Rhizophora apiculata, Terminalia canaliculata, Nauclea coadunata, Casuarina equisetifolia, Calophyllum inophyllum, Ficu, Podocarpus, Symplocos cochinchinensis, Rhododendron culminicolum, Poa nicicola dan lain-lain.
Jenis-jenis satwa yang sudah diidentifikasi di Taman Nasional Lorentz sebanyak 630 jenis burung (± 70 % dari burung yang ada di Papua) dan 123 jenis mamalia. Jenis burung yang menjadi ciri khas taman nasional ini ada dua jenis kasuari, empat megapoda, 31 jenis dara/merpati, 30 jenis kakatua, 13 jenis burung udang, 29 jenis burung madu, dan 20 jenis endemik diantaranya cendrawasih ekor panjang (Paradigalla caruneulata) dan puyuh salju (Anurophasis monorthonyx). Satwa mamalia tercatat antara lain babi duri moncong panjang (Zaglossus bruijnii), babi duri moncong pendek (Tachyglossus aculeatus), 4 jenis kuskus, walabi, kucing hutan, dan kanguru pohon.
Sebagian besar Taman Nasional Lorentz terdiri atas lembah-lembah dengan lereng curam dan terjal, dengan ketinggian tempat antara 2.000 - 6.000 m dpl. Yaitu puncak tertinggi adalah Puncak Jaya. Selain memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, terdapat pula beberapa kekhasan dan keunikan adanya gletser di Puncak Jaya dan sungai yang menghilang beberapa kilometer ke dalam tanah di Lembah Balliem.
Taman nasional ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan ditunjang keanekaragaman budaya yang mengagumkan. Diperkirakan kebudayaan tersebut berumur 30.000 tahun dan merupakan tempat kediaman suku Nduga, Dani Barat, Amungme, Sempan dan Asmat. Kemungkinan masih ada lagi masyarakat yang hidup terpencil di hutan belantara ini yang belum mengadakan hubungan dengan manusia modern.
Dari tahun 2003 hingga kini, WWF-Indonesia Region Sahul Papua sedang melakukan pemetaan wilayah adat dalam kawasan Taman Nasional Lorentz. Tahun 2003- 2006, WWF telah melakukan pemetaan di Wilayah Taman Nasional Lorentz yang berada di Distrik (Kecamatan) Kurima Kabupaten Yahukimo, dan Tahun 2006-2007 ini pemetaan dilakukan di Distrik Sawaerma Kabupaten Asmat.
Cara mencapai lokasi yakni dari kota Timika ke bagian Utara Taman Nasional Lorentz menggunakan penerbangan perintis dan ke bagian Selatan menggunakan kapal laut melalui Pelabuhan Sawa Erma, dilanjutkan dengan jalan setapak ke beberapa lokasi.
Pada 1999 taman nasional ini diterima sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. (dari berbagai sumber)

Friday, January 23, 2009

SU'UD

Bagi orang awam, nama Su'ud mungkin tidak terlalu dikenal, paling-paling juga Su'ud Rusli yang sedang menunggu hukuman mati di Penjara Medaeng Surabaya karena membunuh seorang pengusaha di Jakarta. Seorang Marinir yang terlatih sehingga sangat sulit ditangkap dan ditahan, karena bolak-balik kabur dari penjara. hebat euy
Tapi nama Su'ud yang ini lebih dikenal dikalangan penggiat arung jeram di kota Malang, setidaknya di era saya, era 90-an. Namanya diabadikan pada sebuah jeram di sungai Brantas, karena di jeram itulah ia menemui ajalnya. Sebenarnya bukan hanya Su'ud yang mengalami kecelakaan di jeram ini, setidaknya ada 2 orang lagi, tapi saya lupa namanya.


Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan pegunungan rendah, hutan bakau, hutan pantai, savana, dan hutan rawa air tawar di Sulawesi. Vegetasi savana di taman nasional ini memiliki ciri khas dan keunikan, karena merupakan asosiasi antara padang rumput dengan tumbuhan agel, lontar dan bambu duri serta semak belukar, juga tumbuhan di sepanjang sungai-sungai yang mengalir di padang savana tersebut.
Keanekaragaman tumbuhan di dalam kawasan ini sangat menonjol yaitu setidaknya tercatat 89 famili, 257 genus dan 323 spesies tumbuhan, diantaranya lara (Metrosideros petiolata), sisio (Cratoxylum formosum), kalapi (Callicarpa celebica), tongke (Bruguiera gimnorrhiza), lontar (Borassus flabellifer), dan bunga teratai.
Kawasan ini juga menjadi habitat berbagai jenis burung, tercatat 155 jenis burung ada di dalamnya, 32 jenis diantaranya tergolong langka dan 37 jenis tergolong endemik. Burung-burung tersebut antara lain maleo (Macrocephalon maleo), bangau tong-tong (Leptoptilos javanicus), bangau sandang lawe (Ciconia episcopus episcopus), raja udang kalung putih (Halcyon chloris chloris), kakatua putih besar (Cacatua galerita triton), elang-alap dada-merah (Accipiter rhodogaster rhodogaster), merpati hitam Sulawesi (Turacoena manadensis), dan punai emas (Caloena nicobarica), Terdapat satu jenis burung endemik di Sulawesi Tenggara yaitu kacamata Sulawesi (Zosterops consobrinorum). Burung tersebut tidak pernah terlihat selama puluhan tahun yang lalu, namun saat ini terlihat ada di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai.
Jenis primata yang ada yaitu tangkasi/podi (Tarsius spectrum spectrum) dan monyet hitam (Macaca nigra nigra). Satwa langka dan dilindungi lainnya seperti anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis), anoa pegunungan (B. quarlesi), soa-soa (Hydrosaurus amboinensis), kuskus kerdil (Strigocuscus celebensis celebensis), rusa (Cervus timorensis djonga), babirusa (Babyrousa babyrussa celebensis), dan musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii musschenbroekii).

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
Pulau Harapan II. Terletak di tengah-tengah Rawa Aopa untuk melihat panorama alam rawa, burung air yang sedang mengintai ikan, dan bersampan.
Pantai Lanowulu. Bersampan di sepanjang sungai menuju pantai, hutan bakau, berenang, dan wisata bahari.
Gunung Watumohai. Pendakian dan berkemah. Di lereng gunung tersebut terdapat padang savana untuk melihat ratusan ekor rusa yang sedang merumput, burung-burung, dan satwa lainnya.
Atraksi budaya di luar taman nasional yaitu Festival Tolaki pada bulan Desember di Kendari.
Musim kunjungan terbaik: bulan Juni s/d Oktober setiap tahunnya.
Cara pencapaian lokasi: Kendari-Punggaluku-Tinanggea-Lanowulu (+ 120 km) dengan waktu dua jam 30 menit, atau Kendari-Motaha-Tinanggea-Lanowulu (± 130 km) selama tiga jam, dan Kendari-Lambuya-Aopa-Lanowulu berjarak + 145 km dengan waktu tempuh sekitar empat jam menggunakan mobil.

Thursday, January 22, 2009

Malang

Malang is about 90 km south of Surabaya, about 2-3 hours by road. There are several options to go to Malang. First, you can take a direct flight from Jakarta to Malang (Abdulrahman Saleh Military Airport) which take approximately 2 hours. Second, you can take a flight from Jakarta to Surabaya (Juanda International Airport) and then take bus, taxi or car charter to go to Malang which take at least 2.5 hours via Surabaya-Gempol highway. Especially for bus, you can take bus from Bungurasih bus station, which is the biggest bus station in East Java to Malang (Arjosari bus station). It is a suggestion to take "PATAS" (fast and limited) bus rather than regular bus. Last, you can take train from Surabaya to Malang (Kota Baru train station). There are regular service for train and executive class. If you need to cater a car from Airport to Malang VV, go around for sight seeing, an AC transport will be provided. There are frequent bus services from Surabaya's Bungarasih bus terminal. Overnight train services link Malang and Jakarta. There are several train services a day to Surabaya in 'ekonomi' and executive class from Gubeng station at Surabaya. One advantage to arriving in Malang by train is that the station is much more central than the long-distance bus terminals.
You can catch public transportation (angkot/mikrolet), a blue van that will take you around the city. It charges you Rp 2.000,00. We suggest if you need comfort travelling to have sight seeing completely with full service inside, the better is to contact travel bureau.

Wednesday, January 21, 2009

Sehari Menjadi Kurir

Selasa, 20 Januari 2008 Pukul 07.30 WIB, tempat ruangan kantorku, menyiapkan undangan-undangan dan lembar ekspedisi untuk kegiatan workshop. Undangan di bagi dua map, maksud dan tujuannya agar cepat selesai penyebarannya. Satu map aku taruh ke meja teman untuk disebarin, satu map saya bawa untuk disebarin juga.
"Gun, ayo euy kita keliling Surabaya nyebarin undangan neh, aku siapin mobilnya dulu, soalnya jatah kita yang jauh-jauh neh, di Tanjung Perak dan sekitarnya," kantor kita disisi selatan surabaya. "hayu, pak koyo diajak nya.." sahut agun dengan logat sunda medoknya, ia berlari-lari kecil ceile ke ruangan pak koyo.
Mobilpun meluncur ke Tanjung Perak lewat tol, biar cepet. Sambil ngobrol-ngobrol, kita agak bingung juga, "euy kantor KPLP dimana ya?" gak lama pertanyaan menguap lewat didepan kita mobil KPLP warna putih dengan tulisan gede disampingnya, KPLP. cie. Kejar deh tuh mobil, eh ngisi bensin, "buruan gun, tanya, kantor bapak dimana, hehehe, daripada nyasar." Si Agun bersama pak Koyo dengan sigap loncat dari Strada Ijo, gak lama tau deh kita jawabannya. Setelah menyebarkan juga ke beberapa kantor yang diundang di seputaran Tanjung Perak, kita meluncur ke Polwiltabes. ya dengan sedikit bertanya ke kang Mamat penguasa Tanjung Perak dimana letak Polwiltabes.
Weh ... selesai juga tugas kita, jam 10 kita balik menuju kantor, tapi makan dulu, soalnya belum sarapan neh. Yap, warung nasi padang yang deket perumahan Keuangan di Ahmad Yani. Sekalian pulang trus gak terlalu mahal. mmmm emang ada ya nasi padang yang murah?
Pukul 10.30 WIB, sampai kembali ke kantor. Sambil ketawa ketiwi kita bertiga masuk kantor karena selesai dah urusan. Gak berapa lama saya ketemu si markeceng, idih undangan yang satu map belum dianter, waduh berabe nih, kan acaranya minggu depan, kalau gak masuk sekarang gimana donk nasib acaranya nanti? Aku ajak Agun dan pak Koyo masuk mobil lagi.
Pukul 11.30 WIB, kita nyasar-nyasar di seputaran Pagesangan, soalnya si Agun gak inget dimana kantor Dinas PKPPK. "pokoknya teh jalannya sempit trus warnanya ijo temboknya..", wedew si agun ancer-ancernya gitu, meneketehe donk. Ya, udah akhirnya kita tanya satpam perumahan yang deket Masjid Al-Akbasr yang super gede itu. Dengan perjuangan melewati jalan di bawah tol yang sempit, trus juga ngelewatin tempat rombengan barang bekas dengan beberapakali belokan sempit, "nah itu dia kantor cet ijo, pasti eta tah kantor PKPPK.." teriak agun dengan girang. idih kalau sekarang mah udah ketemu gun.
Yang bikin keki, kita harus kembali ke Tanjung Perak lagi yang nun jauh di utara, karena ada satu surat, setelah diselidiki ternyata beralamat di Tanjung Perak. Si Agun akhirnya ketiduran kena AC mobil yang adem dan udara di jalan tol yang panas. Untungnya ada pak Koyo yang ikut, jadi kadang kalau kita males cerita, dia nyahutin apa aja yang ada di jalan tol, yang ada mobil strada item nyaingi kitalah, yang kolam item sebelum tanjung perak yang mulai dibersihin-lah, sampai ngomentarin agun yang ngorok. idih orang ngorok aja dikomentari.
Pukul 13.20 WIB, Strada Ijo kembali masuk lingkungan kantor kita lagi. Setengah berteriak histeris si agun ngomong "beres tuntas, sehari jadi kurir euy", hehehe. Ah.. yang penting undangan sudah kekirim semua, jadi gak ada tanggungan lagi.

Kuliah Kerja Nyata

Saya kurang tahu, apa kuliah sekarang juga ada KKN alias Kuliah Kerja Nyata, itu tuh kegiatan mahasiswa di sebuah desa yang intinya kita menularkan kemampuan mahasiswa ke masyarakat desa tersebut. Tapi ada juga yang memplesetkan KKN dengan Kisah Kasih Nyata huh tewew.
Ini foto saya pas KKN di sebuah desa di sebelah utara Singosari - Malang tepatnya sebelah selatannya kebun teh Wonosari, atau kalau dari malang ke utara dulu hehehe cape deh mikirinnya. Aku termasuk apes pas KKN, sebelum KKN dimulai saya kena DBD dan dirawat di rumah sakit selama seminggu. Jadi pas KKN masih lemes dan kalau jalan persis kayak nenek-nenek.
Di KKN kita banyak kegiatan atau mbanyak-banyakin kegiatan, ada ngajar ngaji anak-anak TPQ setempat yang ada juga kita kalah jago ngajinya, ngadain diklat guru ngaji kerjasama ama ponpes setempat, membuat alat penggiling padi, dan bla - bla yang penting disana gak nganggur malu atuh ama almamater.
Dan kegiatan tambahan lainnya, Kisah Kasih Nyata. Wah urusan ruwet kalau ini mah. Asli ruwet. Yang sudah tunangan ada juga yang hancur gara-gara tunangannya "kesangkut" pas KKN, apalagi yang baru pacaran wah deh, gak jaminan deh. Ujung-ujungnya bikin ngiri juga kita-kita yang gak ada nyangkut barang sebiji hehehe. Tapi ada juga yang lucu, teman saya yang pegang trofi berani "nembung" atau pasnya minta ke orang tua seorang gadis setempat. Itu mah belum hebat euy, yang bikin kita ternbelalak matanya adalah gadis yang ditembung masih kelas 6 SD. wedew. Wah - wah, benar-benar nekat atau apa ya, gak abis pikir deh. hihihihi.
Tapi, emang asyik KKN itu, soalnya kita hidup bersosialisasi dengan lingkungan yang beda dengan kehidupan kita sehari-hari bersama teman-teman yang baru juga, kan lain fakultas. Kenal-kenal juga paling satu dua orang saja. Tentang ada cerita lain dibalik KKN itu, wah itu tergantung kondisi dan anginnya wedew apa maksudnya tuh.

Tuesday, January 20, 2009

Diare = Reaksi Alami

Boleh dibilang hampir semua orang pernah merasakan derita akibat buang air besar berkali-kali alias diare. Biasanya, yang terpikir dalam benak setiap orang adalah obat untuk memampatkannya alias yang beraksi stop diare. Solusi seperti itu diperkuat oleh tayangan komersial yang menyarankan untuk menghentikan gejala tersebut dengan cara menelan obat pemampat. Pada orang dewasa, kondisi ini sudah bisa membuat orang menderita, apalagi pada anak-anak. Lazimnya, jalan keluarnya pun sama.
Saat ini, ada sederet obat diare untuk anak yang kerap diberikan kepada para bocah. Sebut saja kaolin, smectite (Smecta), LactoB, atau obat jamur dan antibiotik. Bertolak belakang dengan saran iklan di layer televisi, obat stop diare justru tidak diperlukan. Dr Zakiudin Munasi, SpA(K) menyebutkan diare adalah reaksi alami ketika ada "benda asing" yang masuk ke tubuh. Ia menjelaskan, ketika ada racun menerobos ke dalam tubuh, otomatis ada respons dari tubuh. Nah, aksi yang muncul adalah mengeluarkan racun tersebut dengan cara buang air besar. Sering kali harus berkali-kali.
Spesialis anak dari Divisi Alergi Imunologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ini menjelaskan bahwa hal tersebut natural dan tak perlu distop dengan obat-obatan. "Dengan menelan obat pemampat, racunnya berarti tak keluar alias mengendap dalam tubuh," ia menuturkan beberapa waktu lalu dalam peluncuran sebuah produk susu untuk anak. Hal senada juga dilontarkan oleh spesialis anak lain, dr Purnamawati Sujud Pujiarto, dalam kesempatan terpisah. Dokter Wati, demikian biasa ia disapa, menyatakan bahkan dalam SOP, diare dengan atau tanpa muntah hanyalah gejala, bukan penyakit.
Karena itu, yang terpenting adalah mencari penyebabnya.
Wati menyebutkan penyebab utama diare adalah infeksi virus, maka obatnya adalah cairan rehidrasi oral (oralit) dan air susu ibu (ASI) untuk mencegah dehidrasi. Orang, terutama yang tinggal di kota-kota besar, saat ini sudah menganggap remeh peran oralit. Dianggapnya sebagai obat kampung. Padahal, di dunia medis, jelas-jelas bahwa diare akan sembuh dengan sendirinya setelah beberapa hari. "Tidak ada obat yang diperlukan selain cairan dehidrasi oral," Wati menegaskan. Walhasil, Wati menyebutkan, ketika terserang diare, konsultasi ke dokter pun tak perlu berakhir dengan secarik kertas resep, apalagi dengan catatan nan panjang. "Pemberian obat-obat tersebut tidak ada SOP tata laksana diare dan muntah, juga tidak ada evidence-nya," ia menegaskan. Ia pun menjelaskan satu per satu obat yang disebut sebagai "penyembuh" diare itu. Misal, kaolin.
Dalam informasi di situs Badan Kesehatan Dunia (WHO), tidak ditemukan soal obat ini. "Obat ini memang tidak dipakai di negeri lain," ujarnya.
Bahkan, Wati menyebutkan produsen obat ini menyatakan dengan jelas bahwa obat ini justru tidak boleh diberikan pada infeksi E coli, salmonella, shigella, juga diare plus darah serta bila ada kecurigaan obstruksi usus dan berbagai kasus bedah lain. Ia mengingatkan, kaolin dapat menimbulkan efek samping yang disebut toxic megacolon, yakni terkumpul dan terperangkapnya tinja di usus besar sehingga racun-racun yang seharusnya dikeluarkan tubuh akan meracuni tubuh. "Selain itu, ada warning untuk tidak memberikan Kaopectate karena ada kandung aspirin di dalamnya," ujarnya.
Diare pada orang normal tidak memerlukan antijamur. "Obat antijamur justru dapat menimbulkan gangguan pencernaan karena obat tersebut membunuh jamur 'baik' yang ada dalam usus kita," kata Wati. Perlukah antibiotik? Ia menyebutkan hanya diare akibat parasit yang umumnya ditandai darah dalam tinja yang perlu antibiotik. Memang hanya jenis diare plus darah ini yang harus dikonsultasikan dengan dokter. Namun, bila disebabkan kuman tidak perlu obat jenis itu karena pemberian antibiotik akan mengganggu flora normal di usus hingga memicu gangguan pencernaan termasuk diare berkepanjangan.
Wati memaparkan bahwa antibiotik juga menyebabkan kolitis pseudomembranosa, yaitu suatu kondisi ketika usus besar dilapisi selaput akibat banyaknya kuman--yang aslinya bukan kuman jahat--sehingga proses penyerapan air di usus besar terganggu dan terjadilah diare berkepanjangan.
Bila balita mengalami diare plus muntah, dokter pun sering meresepkan antimuntah. Wati menjelaskan, muntah ada dua jenis, yakni karena kelainan usus yang memerlukan pembedahan dan muntah karena infeksi. "Sebagian besar muntah pada bayi dan anak disebabkan oleh virus gastroenteritis," ujarnya. Walhasil pemberian obat muntah sangat melawan proses fisiologis tubuh untuk membuang racun. Pada kasus muntah yang perlu tindakan bedah pun, pemberian antimuntah bisa menyesatkan. "Belum lagi antimuntah juga menimbulkan efek samping," Wati mewanti-wanti. (Koran Tempo)

Monday, January 19, 2009

Stress

"kamu setres itu sayang, sudahlah dinikmati saja pekerjaannya, jangan terlalu dipikirin ya..", cerocos mesra istriku dari seberang selular huawei milikku yang tipis dan murahan ini. hihihihi. Huh, jangan-jangan dia benar, aku terlalu stres, sampai-sampai weekend juga tetap kepikiran, sampai-sampai susah buang air besar, padahal jum'at malem kemarin aku sikat vegeta herbal, paginya ya bekerja, tapi tidak sedahsyat yang biasanya. Dan subuh tadi, aku tetap gak bisa buang air besar, padahal kemarin makanku buanyak banget. Sudah gitu tadi subuh berangkat kerja kena tarif bis patas 15.000 perak, kan biasanya kalau subuh malang surabaya 10.000, iya kalau siang hari. Dongkol deh, sambil berjanji dengan kuat gak bakal deh naik bus dengan merk Laksana Anda lagi, mending restu atau tentrem.
Pusing banget, sudah udara dingin gini kepalaku mudah tertembus suhu dingin yang buat kepala jadi cenut-cenut, waktu pelaksanaan yang sudah dekat, jadi pesimis banget, apalagi ngeliat yang lain nyante aja, wadaw... kayaknya omongan istriku ilang dan menguap dari otak.
Dari pada pusing-pusing terus, aku minum aja Lo Han, obat cina buat flu dan sejenisnya. Tuh obat berbentuk kotak, harus disedu air panas dulu. Efeknya, hehehe, teler deh, ngantuk-ngantuk gitu, sambil nunggu adzan Ashar, trus pulang, tidur di bis, pasti enak.

Informasi SAMSAT MALANG, mengecewakan ...

Dibalik prestasinya dan pelayanan SAMSAT Malang yang terkenal baik, cepat, dan memuaskan, ternyata ditemui pelayanannya yang bikin dongkol dan kecewa sekali. Saya mendatangi kantor Samsat yang terletak di Kepuh - Malang ini pada hari sabtu kemarin sabtu (17/01) dengan tujuan mencari informasi tentang alur dan tata cara mengurus Balik nama sepeda motor. Dan tujuan saya tentu ke meja informasi, saya ditemuai oleh seorang wanita berambut hitam disemir pirang, berdandan menor. Dari tata bicaranya saya tahu akan mengalami hal yang tidak enak. Saya bertanya baik-baik tentang cara membalik nama sepeda motor saya. Dia menerangkan dengan cepat dengan ekspresi tidak suka, kemudian saya ingin minta kertas dan pinjam pulpen untuk mencatat apa yang dia katakan tadi, tapi dia memberi saya brosur. "ngapain mencatat segala..!" ujarnya dengan nada tinggi.
Kemudian saya baca brosur, dan kembali bertanya beberapa hal yang belum tercantum di brosur, seperti jumlah rangkap fotocopy masing-masing berkas. Dengan ketus dia menjawab " ya dibaca disitu pak!" setengah berteriak sambil matanya menunjuk ke brosur, kemudian saya menjawab," kalau ada di brosur ya saya tidak akan tanya..". Emosi saya sudah hampir terpancing, tapi saya masih menghormati ibu berjilbab yang berdiri disampingnya yang sedari tadi masih tetap tersenyum untuk menenangkan suasana.
Sebelum saya pergi saya sempat bicara ke penjaga informasi berambut pirang itu, " anda ini duduk di informasi kok ucapannya seperti itu, payah ..", hampir saja kata makian yang keluar dari bibir ini. eh si pirang itu gak kalah keras menjawab,"..ya bapak ini yang payah!" ujarnya sambil melotot dengan pandangan yang merendahkan saya. Astaghfirulloh ...
Semoga saja, para petinggi SAMSAT Malang melek internet ya, dan mau memperbaiki pegawainya yang seperti itu. Sayang sekali kan, selama ini SAMSAT Malang terkenal pelayanannya yang baik, ramah, dan cepat, harus ternoda oleh segelintir pegawai yang belum paham akan tugasnya.

Friday, January 16, 2009

Pemilik 2 Harimau Sumatera dan Pemilik 258 Ekor Trenggiling Telah Divonis

SIARAN PERS
Nomor: S.26/PIK-1/2009
PEMILIK 2 HARIMAU SUMATERA DAN PEMILIK 258 EKOR TRENGGILING TELAH DIVONIS
Pada tanggal 3 November 2008, Pengadilan Negeri Medan telah menjatuhkan hukuman pidana penjara selama 2 tahun 10 bulan dan denda sebesar Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) kepada Denti Halawa selaku pemilik 2 (dua) ekor Harimau Sumatera yang ditangkap pada tanggal 2 Juni 2008 di Jl. SMP Negeri 1 Desa Kuta Kec. Namorambe, Kab. Deli Serdang.
Sedangkan dalam kasus pemilikan 258 ekor trenggiling yang tertangkap pada tanggal 21 Februari 2008 oleh Kepolisian Resort KP 3 Belawan, Pengadilan Negeri Medan telah menjatuhkan vonis pidana penjara pada tanggal 10 November 2008 kepada :
  1. Anwar Hartono alias Ahua divonis 2 (dua) tahun penjara, denda Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah) subsider 1 bulan kurungan.
  2. Ahu selaku pemilik gudang divonis 2 (dua) tahun penjara, denda Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah) subsider 1 bulan kurungan.
  3. Ahi selaku pekerja gudang divonis 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan penjara, denda Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah) subsdier 1 bulan kurungan.
Pemberian vonis pidana penjara kepada pemilik 2 Harimau Sumatera dan pemilik 258 ekor Trenggiling tersebut merupakan salah satu keberhasilan Departemen Kehutanan dari berbagai upaya menegakkan hukum terhadap pelaku kejahatan di bidang Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL). Departemen Kehutanan memiliki komitmen yang kuat untuk terus memberantas segala kejahatan di bidang TSL dengan memberikan tindakan tegas kepada semua pihak yang terlibat.
Jakarta, 14 Januari 2009
Kepala Pusat Informasi Kehutanan,
ttd.
M a s y h u d
NIP. 080062808

Note : Maju terus Kehutanan..!!!

Taman Nasional Kerinci Seblat, habitat primata misteri

Dalam sejarah pembentukannya, Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan penyatuan dari kawasan-kawasan Cagar Alam Inderapura dan Bukit Tapan, Suaka Margasatwa Rawasa Huku Lakitan-Bukit Kayu Embun dan Gedang Seblat, hutan lindung dan hutan produksi terbatas di sekitarnya yang berfungsi hidro-orologis yang sangat vital bagi wilayah sekitarnya. Taman Nasional Kerinci Seblat (hasil tata batas) ditetapkan seluas 1.368.000 ha dengan perincian 353.780 ha (25,86%) terletak di Provinsi Sumatera Barat, 443.699,87 ha (30,86%) terletak di Provinsi Jambi, 310.910 ha (22,73%) terletak di Provinsi Bengkulu, dan 281.120 ha (20,55%) terletak di Provinsi Sumatera Selatan.
Kelompok hutan tersebut merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS) utama, yaitu DAS Batanghari, DAS Musi, dan DAS wilayah pesisir bagian barat. DAS tersebut sangat vital peranannya terutama untuk memenuhi kebutuhan air bagi kehidupan jutaan orang yang tinggal di daerah tersebut. Mengingat pentingnya peranan kelompok hutan tersebut, maka pada tanggal 4 Oktober 1982, bertepatan dengan Konggres Taman Nasional Sedunia di Bali, gabungan kawasan tersebut diumumkan sebagai Taman Nasional Kerinci Seblat.
Taman Nasional Kerinci Seblat ditetapkan Menteri Kehutanan dan Perkebunan, dengan SK.No.901/Kpts-II/1999 tanggal 14 Oktober 1999 dengan luas wilayah ± 1.389.509,87 ha. Memiliki karakteristik hutan yang sangat unik dan khas serta terbagi ke dalam delapan tipe ekosistem hutan yaitu hutan dataran rendah (low land forest), hutan bukit (hill forest), hutan sub - montana (sub-montane forest), hutan montana rendah (lower montane forest), hutan montana sedang (mid – montane forest), hutan montana tinggi (sub-alpine thicket), padang rumput sub – alpine, dan lahan basah lain pada wilayah berawa, danau, dan sungai besar.
Hutan Taman Nasional Kerinci Seblat memiliki 4000 jenis tumbuhan yang didominasi oleh famili Dipterocarpaceae, dengan flora yang langka dan endemik yaitu pinus kerinci (Pinus merkusii strain Kerinci), kayu pacat (Harpulia arborea), bunga rafflesia (Rafflesia arnoldi), dan bunga bangkai (Amorphophallus titanium dan A. decussilvae).
Beberapa jenis tanaman obat antara lain paku gajah, akar tik ulat, akar kepuh, pinang, kunyit, akar sepakis, ubi itam dan lain-lain. Anggrek antara lain Spathoglotis plicata, Pholodita articulata, Calanthe triplicata, C. plava, Coelogyne pandura, C. suiphorea, Dendrobium crumenatum, Dianela ensifolia, Diplocaulobium, Phaleonopsis sp dan renanthera sp.
Sedangkan fauna yang tedapat di Taman Nasional Kerinci Seblat yaitu mamalia dengan jenis mamalia langka dan terancam punah antara lain harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), tapir (Tapirus indicus), gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), beruang madu (Helarctos malayanus) dan kucing emas (Felis temminckii) yang misterius.
Dari jenis burung antara lain elang alap besar (Accipiter virgatus), elang kelelawar (Macheiramphus alcinus), elang gunung (Spitazatus alboniger), cekakak batu (Lacedo pulchella), belibis kembang
(Dendrocygna arcuata), wallet (Colloalia spp), enggang jambul (Aceros comatus), kangkareng hitam (Anthracoceros malayahus), rangkong papan (Buceros bicornis), peragam gunung (Ducula bargia), poksai mantel (Garrulax palliatus), tiong emas (Gracula religosa), rangkong (Buceros rhinoceros), dan julang (Aceros undulates). Di tempat tertentu sering terdengar suara tawa histeri burung gading (Buceros vigil).
Misteri yang belum terpecahkan di kawasan ini yaitu tentang sejenis primata yang berjalan tegak dan cepat sekali menghilang di antara pohon. Satwa misterius itu oleh masyarakat setempat dinamakan orang pendek.
Pada umumnya topografi Taman Nasional Kerinci Seblat bergelombang, berlereng curam, dan tajam dengan ketinggian antara 200 sampai dengan 3.805 mdpl. Topografi yang relatif datar dengan
ketinggian 800 mdpl terdapat di daerah enclave Kabupaten Kerinci.
Secara umum curah hujan di kawasan ini cukup tinggi dan merata. Rata-rata curah hujan tahunan berkisar antara 3.000 mm. Musim hujan berlangsung dari bulan September - Februari dengan puncak musim hujan pada bulan Desember. Sedangkan musim kemarau berlangsung dari bulan April - Agustus. Suhu udara rata-rata bervariasi yaitu 28° C di dataran rendah, 20° C di Lembah Kerinci dan 9° C di Puncak Gunung Kerinci. Kelembaban 80-100%.
Obyek Wisata Alam dan Fenomena Alam yang ada di Taman Nasional ini di antaranya Gunung Kerinci (3.805 mdpl) yang merupakan gunung tertinggi di Sumatera yang masih aktif, Danau Gunung Tujuh (1.996 mdpl) yang merupakan kawah mati berisi air tawar seluas 1.000 ha (panjang 4,5 km dan lebar 3 km), dikelilingi oleh tujuh gunung dan merupakan danau air tawar tertinggi di Asia. (
Rina, http://www.beritabumi.or.id)

Thursday, January 15, 2009

Mendayung

Kesannya seh seperti foto jadul banget, tetapi sebenarnya foto ini diambil ketika saya masih kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang. Saya, sengaja menggunakan jenis film hitam putih, biar seperti kuno.
Saya kurang ingat apa penyebab sekretariat DIMPA kelompok mapala kampusku kosong, yang jelas ada kegiatan sehingga seluruh anggota habis dan menyisakan saya dan Iwan Betet yang mengambil gambar ini di sekretariat untuk jaga sekret.


Karies Berakhir Kronis

Data terkini Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007 Departemen Kesehatan yang dirilis Desember 2008 oleh Menteri Siti Fadilah Supari, mengungkapkan bahwa 72,1 persen penduduk negeri ini mempunyai pengalaman gigi bolong (karies) dan 46,5 persen di antaranya merupakan karies aktif yang belum dirawat. Bandingkan dengan negara Asia lain seperti India yang hanya 36 persen, Malaysia 55 persen, dan Sri Lanka 55 persen. "Padahal, secara ekonomi, Sri Lanka jauh di bawah kita," ujar Zaura.
Menurut Zaura, jumlah gigi orang Indonesia yang berlubang itu jauh di atas target Badan Kesehatan Dunia (WHO), yang mencanangkan tiga gigi berlubang secara global pada 2010. Sedangkan di negeri ini, rata-rata lima dari susunan gigi tetap orang dewasa yang berjumlah 32 itu bolong. Kemudian, dalam hal kebiasaan menggosok gigi, riset mencatat, 91,1 persen penduduk usia 10 tahun ke atas telah melakukannya setiap hari. Namun, cuma 7,3 persen yang menggosok gigi secara benar, yaitu setelah sarapan dan sebelum tidur malam. Data tersebut adalah bukti tidak terawatnya kondisi gigi dan mulut masyarakat Indonesia.
Drg Paulus Januar menambahkan, masyarakat tidak boleh lengah dengan karies gigi. Sebab, kuman penyakit yang bersarang di gigi bisa menyebabkan infeksi di bagian tubuh lain. "Infeksi gigi itu mengandung bakteri. Karena letak infeksinya sangat dekat dengan pembuluh darah, bakteri bisa terbawa ke seluruh tubuh," katanya. Kasus yang pernah terjadi, kata dia, bakteri masuk ke pembuluh darah, lalu menempel pada timbunan lemak di pembuluh arteri jantung dan membuatnya beku.
Yang terjadi adalah aliran darah ke jantung terhambat karena ada gumpalan lemak yang mengeras. Zaura menambahkan, hati-hati juga dengan ibu hamil yang memiliki gigi berlubang karena kondisi itu membuat si ibu berisiko memiliki bayi prematur. "Peradangan gigi membuat zat berbahaya dilepaskan ke aliran darah sehingga mempengaruhi berat tubuh bayi," ia menjelaskan.
Lalu, bagaimana kriteria gigi sehat? Ahli kesehatan gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia ini menyebutkan, yang pertama adalah bersih dari plak, lalu gusi merah dan tidak berdarah. dan tentunya gigi tidak bolong. Adapun mengenai warna gigi, tergantung warna kulit. Kulit putih umumnya bergigi keabu-abuan, lalu kulit hitam giginya cenderung putih. Sedangkan kulit sawo matang, kata Zaura, giginya biasanya berwarna kuning. Soal pasta gigi, tak perlu repot. "Pasta gigi, baik yang mengandung detergen ataupun tidak, sama amannya," ucapnya. Yang penting mengandung zat aktif fluorida yang pelindung gigi dan gusi dari pembusukan.
Para dokter gigi ini saat ini miris juga dengan rendahnya isu kesehatan gigi ketimbang HIV/AIDS, flu burung, dan demam berdarah. Padahal, gigi merupakan gerbang utama proses pencernaan manusia. Menilik krusialnya peran gigi pada kesehatan, Zaura menyarankan, jagalah masa transisi gigi pada anak usia 6 tahun. Di antaranya dengan mengurangi makanan cokelat, permen, dan makanan manis lain. Kemudian, menggosok gigi minimal dua kali sehari, pagi setelah sarapan dan malam hari menjelang tidur. "Umur 6 tahun, gigi permanen mulai tumbuh menggantikan gigi susu," ujarnya. HERU TRIYONO
Hindari Gigi Berlubang
# Kurangi makanan manis, seperti cokelat dan permen.
# Gosok gigi dua kali sehari, pagi usai sarapan, dan malam menjelang tidur.
# Gunakan permukaan sikat gigi yang lembut.
# Berkumur dulu sebelum gosok gigi untuk melembabkan gusi.
# Bila perlu gunakan benang gigi buat menjangkau daerah yang sulit dibersihkan.
# Periksa gigi setiap 6 bulan. (Koran Tempo, 15/01/09)

Wednesday, January 14, 2009

Elang Jawa Sang Lambang Negara

Elang Jawa atau dalam nama ilmiahnya Spizaetus bartelsi adalah salah satu spesies elang berukuran sedang yang endemik di Pulau Jawa. Satwa ini dianggap identik dengan lambang negara Republik Indonesia, yaitu Garuda. Dan sejak 1992, burung ini ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia
Elang yang bertubuh sedang sampai besar, langsing, dengan panjang tubuh antara 60-70 cm (dari ujung paruh hingga ujung ekor). Kepala berwarna coklat kemerahan (kadru), dengan jambul yang tinggi menonjol (2-4 bulu, panjang hingga 12 cm) dan tengkuk yang coklat kekuningan (kadang nampak keemasan bila terkena sinar matahari). Jambul hitam dengan ujung putih; mahkota dan kumis berwarna hitam, sedangkan punggung dan sayap coklat gelap. Kerongkongan keputihan dengan garis (sebetulnya garis-garis) hitam membujur di tengahnya. Ke bawah, ke arah dada, coret-coret hitam menyebar di atas warna kuning kecoklatan pucat, yang pada akhirnya di sebelah bawah lagi berubah menjadi pola garis (coret-coret) rapat melintang merah sawomatang sampai kecoklatan di atas warna pucat keputihan bulu-bulu perut dan kaki. Bulu pada kaki menutup tungkai hingga dekat ke pangkal jari. Ekor kecoklatan dengan empat garis gelap dan lebar melintang yang nampak jelas di sisi bawah, ujung ekor bergaris putih tipis. Betina berwarna serupa, sedikit lebih besar. Iris mata kuning atau kecoklatan; paruh kehitaman; sera (daging di pangkal paruh) kekuningan; kaki (jari) kekuningan. Burung muda dengan kepala, leher dan sisi bawah tubuh berwarna coklat kayu manis terang, tanpa coretan atau garis-garis.
Ketika terbang, elang Jawa serupa dengan elang brontok (Spizaetus cirrhatus) bentuk terang, namun cenderung nampak lebih kecoklatan, dengan perut terlihat lebih gelap, serta berukuran sedikit lebih kecil.
Bunyi nyaring tinggi, berulang-ulang, klii-iiw atau ii-iiiw, bervariasi antara satu hingga tiga suku kata. Atau bunyi bernada tinggi dan cepat kli-kli-kli-kli-kli. Sedikit banyak, suaranya ini mirip dengan suara elang brontok meski perbedaannya cukup jelas dalam nadanya.
Sebaran elang ini terbatas di Pulau Jawa, dari ujung barat (Taman Nasional Ujung Kulon) hingga ujung timur di Semenanjung Blambangan Purwo. Namun demikian penyebarannya kini terbatas di wilayah-wilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan pada peralihan dataran rendah dengan pegunungan. Sebagian besar ditemukan di separuh belahan selatan Pulau Jawa. Agaknya burung ini hidup berspesialisasi pada wilayah berlereng.

Elang Jawa menyukai ekosistem hutan hujan tropika yang selalu hijau, di dataran rendah maupun pada tempat-tempat yang lebih tinggi. Mulai dari wilayah dekat pantai seperti di Ujung Kulon dan Meru Betiri, sampai ke hutan-hutan pegunungan bawah dan atas hingga ketinggian 2.200 m dan kadang-kadang 3.000 m dpl.
Pada umumnya tempat tinggal elang jawa sukar untuk dicapai, meski tidak selalu jauh dari lokasi aktifitas manusia. Agaknya burung ini sangat tergantung pada keberadaan hutan primer sebagai tempat hidupnya.
Walaupun ditemukan elang yang menggunakan hutan sekunder sebagai tempat berburu dan bersarang, akan tetapi letaknya berdekatan dengan hutan primer yang luas.
Burung pemangsa ini berburu dari tempat bertenggernya di pohon-pohon tinggi dalam hutan. Dengan sigap dan tangkas menyergap aneka mangsanya yang berada di dahan pohon maupun yang di atas tanah, seperti pelbagai jenis reptil, burung-burung sejenis walik, punai, dan bahkan ayam kampung. Juga mamalia berukuran kecil sampai sedang seperti tupai dan bajing, kalong, musang, sampai dengan anak monyet.

Tuesday, January 13, 2009

Mungkin ini Ketagihan SMS Paling Parah

(ANTARA News, 13/01/09) - Mungkin sudah biasa jika ada orang termasuk ABG (anak baru gede) yang gemar berkirim SMS. Tapi, kadar ketagihan Reina (13) yang tinggal di California, AS, membuat orang tuanya kaget.
Seperti dilaporkan nypost.com. Reina dalam satu bulan mengirim SMS sebanyak 14.528 kali. Awalnya, Greg Hardesty, ayah dan orang tua tunggal Reina, "iseng" ingin tahu berapa SMS yang dikirim anaknya yang selalu sibuk memencet tombol telefon seluler.
"Omong-omong, siapa sih yang kamu kirimi SMS? seluruh anak di sekolah?," kata Hardesty (45) suatu saat. Si Ayah lalu memeriksa jumlah SMS anaknya secara "online" ke operator AT&T.
Begitu muncul rincian sebanyak 440 halaman untuk 14.528 SMS itu, Hardesty tertawa. "Gila, ini tidak mungkin . Saya langsung ambil kalkulator untuk menghitung apakah ini mungkin untuk manusia."
Menurut hitungan yang muncul, anaknya dalam satu hari mengirim 484 SMS yang berarti satu SMS setiap semenit atau dua menit di luar jam tidur.
"Lalu saya pikir AT&T salah," kata Hardesty yang wartawan Orange County Register itu.
Hardesty, warga Silverado Canyon, itu lalu menanyai anaknya soal kebiasaan meng-SMS itu. Pertanyaannya dikirim lewat SMS.
Jawaban dari Reina adalah "Wah, banyak temanku yang berlangganan SMS tanpa batas. Saya kirimi mereka SMS lumayan banyak setiap saat."
Empat rekannya yang "obsesif SMS" berumur 12 hingga 13 tahun.
Saat pesta ulang tahunnya, Reina sibuk ber-SMS-an dengan teman baiknya yang duduk di sebelah, padahal saat itu orang-orang sedang menyanyi.
Dia bahkan langsung "ngerumpi" lewat SMS dengan teman-temannya soal jumlah SMS yang luar biasa itu pada saat orangtuanya baru tahu tentang hal tersebut.
Alasan Reina bahwa SMS-nya melonjak tinggi bulan lalu adalah "waktu itu libur musim dingin dan saya sedang bosan."
Untungnya, Hardesty berlangganan SMS tanpa batas dengan bayaran 30 dolar perbulan (sekitar Rp330 ribu). Jika tidak, dia harus mengeluarkan biaya 2.950,60 dolar (Hampir Rp30 juta) ke AT&T untuk tiap SMS yang tarifnya 20 sen per kirim itu.
Menurut lembaga survay Nielsen, ABG umur 13 hingga 17 tahun rata-rata ber-SMS 1.742 kali selama sebulan.
Hardesty sendiri mengaku dirinya mengirim sekitar 900 SMS per bulan, sedangkan hasil survay menyebutkan untuk kelompok usia seperti dia rata-rata hanya ber-SMS 200 kali per bulan.
Hardesty dan bekas istrinya lalu sepakat membatasi telefon seluler untuk Reina yaitu hanya boleh dipakai setelah makan malam.

303 Cikajang - Garut

Masa kecil saya yang paling berkesan adalah ketika saya hidup di sebuah kota kecil di selatan Garut, yakni Cikajang. Saya tinggal bersama orang tua ketika itu sedang bertugas di Batalyon 303 Cikajang. kalau gak salah sih. Dari pusat kota mungkin sekitar 15 menit naik angkot ke arah Papandayan. Disini saya sekolah SDN Cibuluh, karena ada pembangunan SD Inpres baru yang kemudian diberi nama SDN Setya Budi, ini juga kalau gak salah, saya termasuk rombongan yang dipindah ke SDN Setya Budi ini, karena kondisi SDN Cibuluh yang sudah terlalu penuh.
Kembali ke Asrama Batalyon 303 ini, saya banyak menghabiskan masa kecil saya dengan bermain sepak bola atau berenang bersama teman-teman di sungai Cimanuk. Huh benar-benar alam pedesaan plus pegunungan, airnya dingin, jernih, dan tidak dalam. Sering kami berenang ketika pulang sekolah dan sorenya kami bermain sepak bola. Mungkin karena terinspirasi sepakbola Indonesia saat itu sedang bagus-bagusnya, gak kayak sekarang coy, dalam satu asrama itu bisa tumbuh klub sepakbola anak-anak hingga 4 klub. perhatian, klub disini bukan berarti ada pelatihnya, tapi sekedar perkumpulan bermain sepak bola antara kami. Dan namanya pun disesuaikan yang lagi trend saat itu. Contohnya, karena lagi tren film Golok Setan, maka klubnya bernama PS. Golok Setan hihihihi. Dan kami memiliki seragam kaos juga, kami urunan duit setelah terkumpul baru kami belikan kaos sejumlah anggota klub kami di Pasar cikajang. Dan memberi nama klub cukup dengan spidol di bagian dada kaos tersebut. hiihihi lucu dan kreatif.
Seangkatan saya yang masih saya ingat itu ada anaknya Komandan si Andri, ketika tahun 2002 saya sempat ke Tasikmalaya, saya sempat mencari rumahnya lewat nomor telepon orang tuanya yang ngetop itu, dan ketemu. Orangtuanya sangat ingat dengan saya, tapi sayang si Andri gak ingat hihihihi, payah, tapi kakaknya Indra ingat ke saya karena dulu kami sering latihan beladiri bersama, Kung Fu, yang melatih pak Gatot. hehehe. Kemudian ada Hendrik dan Iwan. Seingat saya Iwan ini bertubuh gendut dan cukup besar, asli Bandung, kalau sehabis dari Bandung dia selalu cerita tentang ilmu tenaga dalam yang baru ia dapatkan selama berlibur di Bandung, dan itu menurut ceritanya sangat berbahaya kalau dipergunakan.Tetapi, untuk yang difoto diatas itu, sebenarnya adalah saya berfoto dengan para adik kelas saya, yang tinggal satu asrama juga. Yang saya ingat hanya dua orang yang berada disisi kanan, yakni kinoi yang berbaju putih dan agus berkaos merah. Saya juga lupa dalam rangka apa saya berfoto bersama. Mungkin iseng aja, hihihihi. Seingat saya kami berfoto di depan rumah si Agus berbaju merah itu, bukan Agus saya, hehehe.

Letak asrama kami memang di ketinggian sekitar 900 mdpl. Jadi dingin sekali udaranya, oleh karena itu orang-oarang yang tinggal di asrama maupun penduduk sekitar asrama suka berolahraga. Ini bisa dilihat jika sore hari lapangan sepakbola asrama selalu ramai orang yang sedang berolah raga, entah itu sepakbola, volley ball, atau sekedar berjogging. Begitu juga jika minggu subuh, jalan yang menghubungkan antara Cibuluh ke kota Cikajang, ramai dengan orang yang berlari pagi, kebanyakan ketika itu sih anak-anak kecil seperti kami dan remaja.
Terakhir kali saya mengunjungi kota ini adalah ketika saya masih pendidikan Jagawana tahun 2000. Saya sempat melihat kebun teh samping asrama yang sudah hilang menjadi blok baru perumahan di asrama 303 tersebut. Padahal dulu kami sering bermain di kebun teh itu, ya sekedar main kemping-kempingan atau perang-perangan. Saya juga sempat berkunjung ke guru SD saya ketika itu, Pak Undang namanya. Alhamdulillah, beliau masih sangat ingat saya. Karena waktu SD dulu saya termasuk siswa yang nakal tapi sering masuk rangking juga, hehehehe agus agus. Beliau masih juga membujang sejak kematian istri beliau ketika melahirkan putrinya dulu. Dan sekarang putrinya sudah besar, saya terkagum-kagum, wah cinta mati neh, padahal saat putrinya lahir jika tidak salah saya masih duduk kelas 5 SD. Tapi, yang jelas, keinginan saya untuk kembali mengunjungi kota dimana masa kecil saya banyak saya habiskan terpenuhi juga.
Note : Tulisan berwarna hijau adalah celotehan saya.

Survei di TNUK Hanya Temukan 50 Tapak Badak

BANDUNG, SENIN - Hasil survei terakhir populasi Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, kurang menggembirakan.
"Hasil rhino track count yang dilaksanakan tanggal 10-14 Desember 2008, hanya ditemukan 50 tapak badak," kata Ketua Pengurus Yayasan Badak Indonesia (YABI) Widodo Ramono, di Bandung, Senin (12/1).
Ia mengatakan, proses rhino track count sendiri, dilaksanakan di 14 transek yang masing-masing transek berjarak 2 km. Dari 14 transek tersebut, didapatkan temuan atau hasil bahwa distribusi populasi badak yang ada di TNUK tidak merata.
Dikatakannya, ada beberapa penyebab dari pendistribusian populasi badak menjadi tidak merata. Banyaknya wilayah yang belum tercover oleh peneliti, perubahaan keadaan alam (habibat) serta kerusakan yang ditimbulkan oleh manusia di TNUK menjadi sebab pendistribusian populasi badak tidak merata.
Menurutnya, jumlah badak Jawa pada tahun 2007 di Taman Nasional Ujung Kolun diperkirakan hanya ada 59 hingga 69 ekor. Ia juga mengatakan, keadaan alam di wilayah konservasi badak jawa saat ini, sudah tidak cocok untuk dijadikan habitat badak jawa.
"Habitat yang paling cocok untuk badak ialah padang savana. Sedangkan kalau melihat habibat badak jawa sekarang, keadaan bukan padang savana tapi hutan tropis yang rindang oleh pepohonan yang tinggi," katanya.
Menurut mantan Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) itu, hutan yang ditumbuhi pepohonan tinggi tidak cocok untuk habitat badak Jawa.(Antara 12/11/09)

Monday, January 12, 2009

Tarif Baru Listrik Diumumkan Hari Ini

JAKARTA — Pemerintah berencana mengumumkan tarif dasar listrik yang baru pada hari ini. Direktur Jenderal Listrik Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral J. Purwono mengatakan hasil kajian sejumlah alternatif besaran penurunan tarif listrik rencananya dibawa ke sidang kabinet hari ini. “Ini lagi dihitung-hitung bermacam- macam komponennya,” katanya saat dihubungi kemarin, “menghitung listrik kan agak rumit.”
Dia menolak menjelaskan alternatif tarif baru yang diusulkan Departemen Energi dengan alasan belum disepakati. "PLN sedang melakukan perhitungan konsolidasi," ujarnya. "Tunggu saja alternatif mana yang akan dipilih."
Meski begitu, ia mengisyaratkan penurunan tarif juga akan berlaku untuk pelanggan industri. "Ada upaya-upaya ke sana untuk stimulus ekonomi," katanya.
Pelaksana Tugas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sri Mulyani Indrawati, Jumat lalu, mengatakan, selain memutuskan penurunan harga bahan bakar minyak, rapat kabinet hari ini akan membahas penurunan tarif listrik.
Menurut Sri Mulyani, ada kemungkinan penurunan tarif listrik terkait dengan turunnya harga bahan bakar. "Kami melihat struktur biaya PLN dan aspek-aspek efisiensi yang bisa dilakukan," katanya.
Wakil Direktur PLN Rudiantara tidak bersedia menjelaskan angka penurunan tarif listrik. Menurut dia, kebijakan tarif merupakan kewenangan pemerintah. "Kami tidak berhak memutuskan angka tersebut," ujarnya.
Yang jelas, kata Rudiantara, jika tarif diturunkan, konsekuensinya akan menaikkan biaya subsidi. Sebaliknya, jika tarif naik, subsidi turun. "PLN memang tidak didesain untuk untung," ujarnya.
Dia juga mengungkapkan naik-turunnya biaya ini bergantung pada harga minyak. Dia mencontohkan, sebelumnya PLN disubsidi Rp 60 triliun. Tapi, karena harga minyak naik, subsidi membengkak menjadi Rp 80 triliun.
Selain itu, Rudiantara melanjutkan, parameter penting dalam perhitungan tarif adalah angka pertumbuhan. Semula PLN memperkirakan pertumbuhan konsumsi sepanjang tahun lalu hanya 1,9 persen. Namun, perkiraan itu meleset. Pertumbuhan mencapai 5,6 persen. (Koran Tempo 12/01/2009)

Note : Semoga tidak hanya sekedar dibahas, tapi benar-benar dilaksanakan, tidak sekedar mau Pemilu, tapi karena pemerintah ingat rakyatnya yang sedang susah.

Friday, January 9, 2009

1.349 Penyu Mendarat di Pantai Jember


Jember (ANTARA News) - Sebanyak 1.349 ekor penyu dari berbagai jenis mendarat di Pantai Sukamade Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) Jember, Jatim, selama tahun 2008."Sebagian besar penyu yang mendarat di pantai Sukamade adalah penyu hijau (Chelonia mydas)," kata Kepala Tata Usaha TNMB, Sumarsono, di kantornya di Jember, Rabu.Menurut dia, dari 1.349 ekor penyu yang mendarat, 571 ekor penyu yang bertelur dan menghasilkan telur sebanyak 65.146 butir telur.
"Namun hanya 31.452 butir telur atau 48 persen saja yang menetas dan dilepas ke laut sedangkan sisanya dicuri atau terkendala faktor lain," katanya menambahkan.Ia menjelaskan, jumlah penyu yang naik ke pantai Sukamade tahun 2008 merupakan jumlah tertinggi sejak tahun 1985 (1.411 ekor). Sedangkan jumlah telur yang dihasilkan sebanyak 65.146 butir merupakan jumlah telur tertinggi dalam enam tahun terakhir.
"Saya berharap tahun ini jumlah penyu yang naik dan bertelur semakin bertambah," katanya berharap.Sementara itu, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (KSPTN) Wilayah I Sarongan, TNMB Wiwied Widodo, mengatakan banyaknya penyu yang naik ke pantai Sukamade menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanagera (wisman) maupun wisatawan domestik."Saya yakin pantai Sukamade merupakan habitat penyu yang paling baik dibandingkan pantai lain," katanya menambahkan.Menurut dia, menjaga kelestarian satwa yang dilindungi seperti penyu yang hampir punah diperlukan kerja keras dari petugas TNMB agar tidak ada lagi telur penyu yang dicuri.(*)

Thursday, January 8, 2009

The Malsef

Dari kiri Taufik "dhaem", Dony "Mendhol", saya sendiri, Deny "Tarjho", dan Firman "bun-bun". Kita ceritanya lagi kumpul dulu di rumah kakeknya Mendhol di Kampung Kauman Malang. Mau berangkat ke Sekolah. Kami saat itu masih duduk di kelas 1 SMA Negeri 5 Malang, itu berarti tahun 1990. Hari itu adalah perayaan ulang tahun sekolah, jadi kami bebas dari seragam sekolah.Nah, kata "Malsef", adalah nama kelas kami, yang kepanjangan dari Masyarakat Solidaritas Satu Ef, karena kelas kami adalah kelas 1 F. Bukan kelas 10 seperti saat ini. Sebenarnya saat itu kelas kami juga punya Switer kelas yang berwarna biru, tapi saya tidak punya fotonya. Hingga saat ini saya masih kontak dengan teman-teman The Malsef, karena saat itu kami kompak banget, walaupun ketika kelas 2 dan 3 terpecah penjurusan, A1 untuk Fisika, A2 utnuk Biologi saya masuk kelas ini, dan A3 untuk Sosial Ekonomi. Kecuali Bun-bun, saya tidak tahu dimana rimbanya saat ini.

Tuesday, January 6, 2009

The Flying Boat

Berlokasi di sebuah sungai di wilayah Kabupaten Magelang - Jawa Tengah. Sungai ini bernama Sungai Elo, dan Jeram jeram / riam adalah arus deras sungai yang terbentuk oleh berubahnya dasar sungai yang kami lewati jika saya tidak salah bernama Jeram Mendut, karena letaknya yang dekat dengan Candi Mendut. Menurut saya, foto ini adalah salah satu foto yang berisi saya yang sensasional. Kondisi perahu yang seolah terbang di lempar oleh standing wave. Standing wave adalah gelombang tegak. Saya masih ingat, kegiatan ini adalah pengarungan kami yang tergabung dalam DIMPA (Divisi Mahasiswa Pencinta Alam - Univ. Muhammadiyah Malang) pada tahun 1996, sebelum kami melanjutkan pengarungan kami ke Sungai Serayu di Wonosobo - Jateng. Dan jika saya tidak salah ingat, yang mengambil momen ini adalah teman saya Giri, kebetulan saat itu ia menjabat Ketua PALAPSI - UGM. Selama Pengarungan satu hari itu kami mengarungi Sungai Elo yang berlanjut ke Sungai Progo didampingi oleh rekan-rekan PALAPSI.

Di foto tersebut, yang tampak paling depan adalah saya depan sebelah kiri, Sofi depan sebelah kanan, kedua dari kanan pada foto, Faris Bule duduk dibelakang saya, kedua dari kiri di foto, dan Ronny Blantik duduk dibelakang Sofi, pertama dari kanan di foto. Sebenarnya dalam perahu itu ada 5 orang. Yang duduk paling belakang pada foto tidak tampak karena tertutup air adalah Deny Gajah. Ia sebagai Skipper pada perahu itu atau kapten kapal, dialah yang bertugas mengendalikan arahnya perahu tersebut.


Sebenarnya, ini pengarungan saya yang kedua di Sungai Elo karena setahun sebelumnya saya sempat turun bersama rekan PALAPSI. Thanks buat bantuannya, Iwan Keset dan Giri.

Note : Tulisan bercetak miring dan berwarna hijau adalah keterangan dari kata sebelumnya.

Monday, January 5, 2009

AJAG

Ajag (Cuon alpinus) adalah anjing hutan yang hidup di Asia, terutama di wilayah selatan dan timur. Di wilayah Asia lainnya dan di Amerika serta Eropa, anjing ini dikenal sebagai serigala.
Ajag merupakan anjing asli Nusantara, terdapat di pulau Sumatra dan Jawa, mendiami terutama kawasa pegunungan dan hutan. Anjing kampung dan yang lainnya yang biasa dijadikan peliharaan di Indonesia, sebenarnya merupakan anjing impor yang berasal dari daerah lain. Ajag berperawakan sedang, berwarna coklat kemerahan. Di bagian bawah dagu, leher, hingga ujung perut berwarna putih, sedangkan ekornya tebal kehitaman.

Ajag biasa hidup bergerombol dalam lima hingga dua belas ekor, tergantung lingkungannya. Malah, di Taman Nasional Gunung Leuser, ajag ditemukan hidup soliter.

Owa Jawa di Gunung Kesepian

Sentilan suara hut-hut-huoot itu terdengar lagi. Tirai kabut pagi kemarau tengah tahun lalu sepertinya tertembus lengkingan dari jauh, berbarengan dengan menusuknya sorot matahari di tepian kaki Gunung Pangrango. Wajah beberapa fotografer dan juru kamera pun terkuak puas, sasaran yang ditunggunya makin lama makin jelas sosoknya, diselingi lengking bunyi panggilan atau calling khas owa jawa alias javan gibbon.
Bunyi keras itu kontan disambut dengan hut-hut-huoot delapan ekor owa jawa kandangan. Sebab, bunyi keras owa jawa liar asal kaki Gunung Pangrango itu sepertinya ”suara pernyataan” teritorial kalau kawasan sisa hutan rimbun itu adalah kawasan kekuasaannya, alias home range keluarga owa liar Pangrango.
Jamak kalau kera liar itu amat teritorial mengingat hutan gunung rimbun sepi di sekitaran kaki Gunung Pangrango di batas akhir Taman Nasional Gede-Pangrango dan Taman Safari Indonesia itu memang habitat asli, sekalian juga ”pekarangan” rumahnya untuk hidup, berkembang biak, serta sumber pakan alaminya. Owa tak berekor dengan tubuh langsing berbulu halus lebat kelabu keperakan pol-polan. Mukanya berkulit hitam pekat, macam topeng di kelilingi rambut kehitaman seram tetapi kocak. Gerak akrobatik gelayutan makhluk di pohon tinggi mungkin tak tertandingi makhluk lain di bumi ini, apalagi manusia biasa. Makanya, tak salah kalau Linnaeus, peneliti satwa, menyebutnya ”dewa yang berjalan di pucuk pohon” alias Hylobates moloch.
Si ”dewa” inilah yang disebut owa atau wau-wau, atau javan gibbon—gibon jawa yang memang hidup dan eksis di Pulau Jawa saja. Kemunculan owa moloch yang tidak berbahaya dari gunung sepi itu tiba-tiba menyentak perhatian dunia ilmu pengetahuan, selain petugas Pusat Penangkaran Owa Jawa-Taman Safari Indonesia (PPOJ-TSI) serta pimpinan TSI Jansen Manansang yang di tengah pagi dingin itu sudah siap-siap mau mengintip owa yang sulit dilihat mata telanjang.

Bernasib gawat

Majalah Time edisi 24 Januari 2000, halaman 44, memasang gambar sekaligus teks: Javan Gibbon-Home: Indonesia, population 300 to 400. It hangs on precariously in a handful of national parks on Java, one of the world’s most densely populated islands. Kera tak berekor bernama owa ini katanya bernasib gawat atau genting, precariously. Apalagi, kalau populasinya, sempat dinyatakan tinggal 300 sampai 400 ekor, itu sudah lampu kuning endangered, terancam. Tinggal menanti kerlip nyala lampu merah extinct, punah!
Namun, angka samar-samar sempat terucap dalam lokakarya ”Penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Owa Jawa 2008-2018” bulan September 2008 di Bogor. Katanya, populasi owa jawa masih tersisa di kisaran angka 2.600 hingga 5.304 ekor lagi. Namun, angka itu masih belum pasti, seperti biasalah, karena tercekik dana penelitian yang cekak, hingga menyulitkan lembaga swadaya masyarakat meneliti tuntas di hutan Taman Nasional Ujungkulon, Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGP), Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, serta cagar alam di hutan-hutan Jawa Barat dan Jawa Tengah—khususnya di seputaran Gunung Selamet. Akan tetapi, yang jelas, langkanya owa itu bikin gunung pun kesepian dari hunian makhluk hidupnya.
Indonesia memiliki enam spesies (Hylobates syndactylus, H lar dan H agilis di Sumatera, H klosii di Pulau Mentawai, H moloch di Jawa, dan H muelleri di Kalimantan). Adapun di Asia Tenggara hanya ada tiga spesies dan subspesiesnya, seperti Hylobates hoolock di Myanmar, H concolor di Vietnam dan China, serta H pileatus di Thailand dan Kamboja).
Kera yang kedua tangan panjangnya berukuran 2,5 kali badannya, menurut Jansen, berdasarkan hasil lokakarya temu pakar primata tahun 2000 lalu, paling tidak masih tersisa sekitar 390 ekor lagi yang terobservasi. Primata loveable ini tersebar di 21 lokasi habitatnya di Jawa. ”Dari analisis populasi, diperkirakan owa itu 20 tahun lalu masih hidup sekitar 3.000 ekor,” kata Jansen.
Persebaran owa di Jawa memang terpusat di Jawa Barat. Populasi owa yang tersisa di Jateng mungkin terkonsentrasi di sekitaran Gunung Slamet. Umumnya, owa itu hidup berkelompok dalam suatu keluarga batih atau keluarga ”luas”—induk dan jantan berikut bayi dan anakan belum disapih, rata-rata berpopulasi antara 2 dan 4 ekor.
Jansen merasakan habitat owa kini sudah kian rusak. Habitat idealnya di hutan berketinggian 600-an meter di atas permukaan laut. ”Tidak mustahil owa itu terdesak, lalu hidup di hutan mendekati puncak gunung, misalnya ada kelompok owa di dekat puncak Gunung Gede-Pangrango. Di ketinggian sekitar 1.200 sampai 2.000-an meter,” ucapnya seraya memberi contoh masuknya keluarga owa liar sampai ke perbatasan hutan TSI. ”Mungkin kawasan TSI yang terjaga relatif lebih aman dan lebih sepi dibandingkan di alam liar yang kadang-kadang suka kemasukan penangkap satwa liar.”
Di tengah kegalauan ini, Jansen selaku Presiden South East Asia Zoological Association (SEAZA) masih melihat titik terang. ”Cuma sekitar 100 kilometer dari kota besar ramai Jakarta dan Bogor terbukti masih ada owa liar di habitat aslinya. Ini mengagumkan,” ujarnya yang memperkirakan kemungkinan perubahan perilaku hidup owa. ”Bisa saja mereka tertarik dengan kebisingan suara lengking calling delapan ekor owa PPOJ-TSI.”

Makhluk monogami

Musnah, itu kata yang sering terdengar untuk predikat satwa liar khas Indonesia. Owa sudah masuk kelas satwa liar Jawa yang terancam punah. Kera yang tinggi badan dewasa sekitar 80 sentimeter dalam suatu keluarga monogami rata-rata melahirkan bayi setelah dikandung 220-an hari. Sampai usia 3-4 bulan, bayi owa tetap melekat di perut induknya.
Usia matang seksual owa sekitar 6-7 tahun. Setelah itu owa remaja harus meninggalkan teritori induknya. Pergi mencari teritori baru sekalian cari pacar. Kalau ketemu jodoh, pasangan itu langsung kawin dan hidup sebagai pasutri owa liar dan beranak-pinak seenaknya. Kata peneliti, di kebun binatang, owa sebagai primata menyusui mampu hidup sampai umur 20-an tahun. Di alam bebas, seperti di sisa hutan primer TNGP, tingkat harapan hidupnya cuma belasan tahun, itu pun kalau tidak dibunuh pemangsa buas, termasuk manusia edan.
Sosok, perilaku, dan tata hidup kelompok owa sungguh menarik. Kepiawaiannya bergelayut (brachiating) dari dahan ke dahan di pucuk pohon tinggi serta kemampuannya mengeluarkan bunyi dan suara hut-hut-huoot atau calling membuat owa makin memikat untuk dijadikan bahan kajian konservasi.
Dari jumlah peneliti owa Indonesia yang sedikit itu, Jansen menyebutkan beberapa nama sudah bersepakat membentuk lembaga kajian owa. ”Tahun 1994 populasinya sekitar 400 ekor. Majalah Time menyebutkan antara 300 dan 400 ekor. Saya rasa jumlahnya mungkin sekitar itu. Tetapi, kalau ada peningkatan populasi seperti penelitian terakhir, ya itu mukjizat alami dan dunia konservasi harus senang dan bersyukur. Namun, pusat penangkaran kami tetap berusaha untuk menangkar owa jawa eks-situ secara prosedur ilmiah agar keturunannya dapat perlahan-lahan kami lepasliarkan di hutan gunung sepi di TNGP,” kata Jansen Manansang seraya mengutip rekomendasi lokakarya lalu, kalau owa jawa yang habitatnya sudah ancur-ancuran ini, nasibnya hanya bertahan apabila pemerintah berpihak mempertahankan sisa hutan yang habitat owa itu.
Dari mana awal pangkal upaya konservasi, termasuk aksi penyelamatan owa jawa ini, mungkin bikin bingung banyak orang. Sebab, di zaman ”hura-hura” reformasi dan demokrasi menjelang pemilihan Presiden RI 2009-2014 apakah masih ada segelintir masyarakat dan pejabat, sebagai makhluk nonpolitikus, sempat-sempatnya mikir-mikirin nasib owa yang hanya dianggap monyet. Ya EMP alias emang mereka pikirin. Jadi, biarkanlah binatang hutan itu hidup di alam kesepian kalau dia mampu. Kalau tidak bisa, bisa-bisa binasa. Biasa?
RUDY BADIL Wartawan Senior di Jakarta

Dapur Nenek



Foto diatas diambil ketika saya masih duduk di kelas 1 SD di Tamanan Kabupaten Trenggalek. Kami seperti biasa berkumpul di dapur, untuk sekedar kumpul dan memasak. Dapur, merupakan tempat yang asyik untuk berkumpul, apalagi dapurnya berukuran besar, ada amben tempat duduk dan tiduran / bale yang terbuat dari bambu, meja kayu, kursi panjang, lumbung padi, dan ... kompor dari tanah liat dengan bahan baku kayu bakar. Kebiasaan kami ketika dulu tinggal di rumah nenek, sering berkumpul di dapur, walaupun tidak untuk makan. Dan dapur inilah yang sering saya kangenin. Ketika saya sudah tinggal di Malang setelah pindah dari Trenggalek, kami sempat pindah ke Bandung, Jakarta, Tasikmalaya, Cikajang-Garut, dan akhirnya berlabuh di Malang, saya sering menghabiskan liburan sekolah di kampung nenek. Hal yang sering saya kangenin adalah duduk berlama-lama di depan perapian sambil mengatur kayu-kayu bakar, dan nenek sibuk memasakkan sayur favorit saya, sayur lodeh terong dan tempe trenggalek, mmm... yummy.

Yang ada dalam foto tersebut, yang tertua adalah nenek saya paling kanan, ibu saya memakai kaos pink, paklik Juri dengan training merah, adik saya Rini berbaju warna kuning, Bude Tijem yang baju putih persis di samping ibu saya, dan tentu saya sendiri yang paling depan sedang mlongo.

Note : Tulisan berwarna hijau adalah keterangan dan penjelasan dari saya.
 

Copyright 2010 halaman agus.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.