Friday, July 17, 2009

Digampar ...

Usai apel saya menjajari langkah mbakyu Sakini. Pantatnya yang over montok, megal-megol seenaknya, kali kalau ada truk tronton lewat kena angin megolnya pasti terbalik. Bedaknya tebal serta mengkilat, dan yang menarik perhatian saya adalah bibir tebalnya yang super duper merah.
Saya : "Wah... Yu Kini habis bertengkar ya dengan suami?" ( tampang serius *mode on*)
Yu Kini : "Weh yo ora toh gus" ( weh enggak gus)
Yu Kini : "Lha kok iso awakmu nyimpulno ngono?" (lha kok kamu bisa menimpulkan begitu?)
Saya : "Weh... saya kira mulut Yu Kini habis digamparin suami sampai jontor dan merah gitu", ujarku sambil mempercepat langkah ...
Yu Kini : " Oooo.. pancene arek semprul... *%#^&%@@..!!!"

Monday, July 6, 2009

SBI (Sekolah Bikin Illfeel)

Musim Penerimaan Siswa Baru alias PSB baru aja digeber. Ada yang online ada juga yang manual alias langsung daftar ke sekolahannya. Termasuk seorang sepupuku yang baru aja mau masuk SMA. Saya diceritain ama Rina (adik kandung saya yang kini tinggal di Madura), bahwa NEM-nya bagus, rata-rata 8. "edan moncer poll otaknya, delok en (lihatlah) nilai matematikanya 10, opo ora edan toh", lanjut rina bercerita dengan semangat api-apinya.
Saya : " wah masuk sekolah negeri donk.."
Rina : " gak, swasta.."
Saya : " lho kok bisa begitu..?" tanya saya tambah bingung.
Ibu saya : " Lha gimana, Sekolah negeri sekarang uang gedungnya aja minimal 6 jutaan".
Rina : " iyo mas, SMA 5 Malang almamatermu dulu, yang dulu katamu bangunannya juelek dan kacanya pecah-pecah itu, uang gedungnya tahun kemarin aja 7 jutaan".
Saya : " lho kok bisa sih, kan sekolah negeri?"
Ibu saya : " itu loh katanya udah SBI - SBI gitu.., apaan sih itu, status ya?"
Saya : "Sekolah Berstandar Internasional kali..."
Masih Saya : " Jadinya dimasukkan swasta toh?"
Lagi-lagi Ibu saya : " Iya, tuh yang deket rumah, Akreditasi A juga kok, uang gedungnya 1 juta, itu udah termasuk seragam, buku, dan lain-lain, grupnya Taman Siswa.."
.........
Percakapan akhir pekan lalu itu masih menganggu saya, membuat saya kesel abis. Gimana enggak, ditengah-tengah jargon-jargon yang diiklanin di tipi setiap hari tentang sekolah gratis. Lagi pula, saya dulu milih sekolah negeri dengan alasan ya biayanya murah dengan kualitas yang cukup mumpuni.
Tapi, sekarang, keluarga sepupu saya udah grogi abis dengan uang gedungnya yang gede, dengan embel-embel tuh sekolahan SBI. BIKIN ILFIL banget.
Apa semua sekolah sekarang berlomba menjadi SBI untuk jadi alasan utama untuk mendongkrak biaya yang hendak diperas ke siswa baru ya... benar-benar harga pendidikan kita semakin meng-eksklusifkan diri dari rakyat seperti kita yang pas-pasan. Perasaan, petinggi-petinggi negeri kita ini dulu sekolahnya ya disekolah rakyat yang tidak berstandar internasional.
Jadi mana yang lebih penting donk, sekolah-sekolah di Indonesia banyak yang berstandar internasional termasuk sekolah negeri yang notabene sekolah rakyat, atau pendidikan merata bagi seluruh rakyat bangsa ini?
 

Copyright 2010 halaman agus.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.