Wednesday, July 25, 2012

Saya Dan DIMPA, Chapter Three

"Selalu Ada Pahlawan pada Waktu yang Tepat"

Badan saya serasa melayang ketika berusaha menembus udara subuh pagi ini. Udara yang menggigit seolah berusaha untuk meruntuhkan iman saya untuk jihad melaksanakan tugas saya selaku pegawai negara. Beruntung tak berapa lama menunggu di halte, bis Restu Panda bertuliskan Imelda melihat keberadaan saya dan mengangkut saya ke terminal. Tak lama saya sudah terlelap kembali di bangku sebelah kiri dengan mendekap hangat tas punggung saya. Saking terlelapnya kondektur tak mampu membangunkan saya, akhirnya saya bayar belakangan.

Wednesday, July 18, 2012

SAYA DAN DIMPA, Chapter Two

"Memiliki Kegentingan Masing-Masing"

Pika, masih menunjukkan wajah melasnya di depan meja depan sekretariat. Alasan-alasan ia utarakan sejelas-jelas mungkin dihadapan saya, logat acehnya terasa kental di setiap kata yang meluncur dari mulutnya. Tak jauh dari kondisi kuliahnya yang amburadul. Itu alasan yang sangat khas untuk anak DIMPA, tapi tak cukup mumpuni untuk masuk ke telinga saya. Di sebelah saya duduk sejawatnya dalam pengurus harian inti yang masa jabatannya segera usai. Godhil. Saya lupa nama aslinya. Putera Rawamangun Jaktim itu, terdiam juga. Tak banyak kata yang ingin ia luncurkan, sebagai pembelaan untuk Pika ataupun untuk menjatuhkan Pika. Wajahnya tenang, berbeda dengan Pika yang menunjukkan kegentingan dirautnya. Apakah kehadiran saya siang itu di sekretariat, mendadak membuat mereka sedikit "tidak enak", tapi itu bukan maksud saya datang ke sekret siang itu. Wiwid, yang arek malang tulen itu, hanya duduk di barisan belakang bangku tempat duduk Pika. Ia merasa aman sekali, selain ia menginjak semester 9, pembawaannya yang arema itu turut mempengaruhi juga karena saya sendiri juga berasal dari Malang.

 

Copyright 2010 halaman agus.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.