Thursday, March 31, 2011

Arogan


Hujan rintik-rintik tampak semakin merata ketika minibus Elf ini meninggalkan kawasan pool bis Restu di Singosari sebelah utara. Dari kaca buramnya dapat kulihat bayang-bayang lampu toko-toko dipinggir jalan mulai terbentuk oleh genangan air, putih, oranye, jingga. Saya tersenyum, sedikit kecut, pulang kantor kok bisa begini jadinya, terdampar di pool Bis. Tapi tak apalah, jika tidak ada kejadian tadi sore, pasti saya tak punya cerita.

***
Senyum sumringah saya tebarkan, ketika tiba di jalur bis antar kota tujuan Malang. Betapa tidak, sore hari itu yang hangat ada bis Restu Panda (Bis Restu ekonomi tapi ber-AC dan bersih, pada badan bis bergambar hewan Panda) menuju ke jalur antrian. Tidak biasanya, yang ada juga biasanya Restu Bumel (ekonomi tidak AC pula). Tidak menyinyiakan waktu, segera kunaiki bis Restu Panda tersebut dan mengambil tempat duduk sebelah kiri urutan kedua dari depan dekat jendela. Hmmm betapa nyaman, sudah ber-AC, jok-nya berbahan kain flanel layaknya bis Patas, ekonomi pula bayarnya.

Rasanya bis sudah melaju lebih dari 20 menit keluar Terminal bungurasih dan sudah melaju di jalur tol Sidoarjo – Porong, kok kondektur bis yang sedikit tambun dan tua itu belum juga sampai di barisanku untuk menarik ongkos. Belum hilang kegundahanku, tak berapa lama kondektur tersebut tiba-tiba datang ke arah supir bis. Dari pandangan matanya dapa dibaca kegundahan dan ketakutan, ia terlibat pembicaraan dengan supir dalam bahasa Madura. Walau saya tidak paham bahasa Madura tapi dapat ditangkap bahwa ada tentara yang berulah dengan tidak mau membayar ongkos bis. Penumpang mulai gaduh dan saling berbisik-bisik dan melemparkan pandangan untuk mencuri pandang mana tentara yang dimaksud.

Belum usai adrenalin di dada bergemuruh karena aroma ketegangan begitu menyeruak dalam ruangan bis, kondektur menyuruh supir untuk berhenti dan segera keluar bis dan bis-pun dilaju dengan cepat. Ketika bis masih di jalan Tol. Sesaat kemudian, majulah seorang Marinir bertubuh tinggi dan berbadan kekar. Dari kata-kata yang keluar daru mulutnya bisa kita ambil kesimpulan bahwa dia seorang yang sangat arogan. Pandangan tak suka dari penumpangpun dapat dilihat. Di pintu tol, marinir itu turun untuk menghadang jika kondektur tadi muncul menumpang kendaraan lain. Bis-pun berhenti di Siring, di pinggir jalan tanggul Lumpur Lapindo Porong. Bis tidak berani melanjutkan perjalanan karena tidak ada kondektur, dan kamipun terlantar hanya karena ulah seorang marinir bodoh.

***

Diluar kaca bis, hujan tampak begitu deras. Saya selonjoran sendiri, bis Restu Panda ini tinggal beberapa orang saja, karena yang lain sudah pindah bis, sedangkan kami yang tersisa akhirnya diangkut oleh bis yang sama ke Malang, tetapi tentu ke Pool Restu, tanpa ditarik bayaran, karena supir takut kena sanksi, sebab status perjalanan sekarang adalah terpal. Tapi kenyataannya, sang kernet diam-diam meminta ongkos secara diam-diam tanpa sepengetahuan supir dan tanpa tanda bukti. Kamipun maklum.

***

Ceritapun bergulir terus, akhir cerita tampaknya semakin seru saja kejadiannya. Tampaknya marinir tadi tidak mau menambah uang ongkos bis, karena ini Bis ekonomi AC Panda, dimana diskon untuk TNI Polri tidak berlaku. Karena kurang seribu, kondektur meminta sisanya, tetap marinir itu tak bergeming. Ya daripada ia kena hukum oleh kontrol bis yang sewaktu-waktu mengecek, akhirnya lebih baik marinir itu tidak membayar ongkos sama sekali, sambil kondektur mengembalikan uang lima ribuan darinya. Karena jika ada kontrol dari petugas, kondektur dapat membela diri bahwa marinir tidak mau membayar ongkos.

Nampaknya marinir tidak mau menerimanya, ia malah memberi bogem mentah dan tendangan ke arah kondektur. Tidak itu saja, ia pun mengeluarkan sangkurnya. Sebenarnya ketika kejadian ada 3 (tiga) orang tentara juga, seorang dari TNI-AD dan 2 (dua) orang dari TNI AL (bukan marinir), mereka melerai kejadian itu, tetapi sang marinir ini tadi begitu arogannya dan balik mengancam kepada tentara yang lain untuk tidak ikut-ikut.

***
Suparlan, kondektur reling bis restu yang numpang pulang dan pada saat kejadian ia berada di belakang dimana kejadian itu terjadi, tampak masih memonyong-monyongkan bibirnya bercerita kronologis yang telah terjadi. “jenenge handoko, omahe nang Lawang....”, ujarnya menjelaskan.

Tuesday, March 29, 2011

Bis Penuh Cinta


Sore itu mendung gelap menggelayut. Dengan cepat saya pacu vespa strada biru ini meninggalkan kawasan Juanda menuju Terminal bungurasih. Sial, hujan sempat membelaiku sejenak, basah jaket parasut biru ini. Lengan seragamkupun basah, celana ataspun tak kalah basah. Tak berapa lama aku sudah asyik duduk disebuah kursi deret kedua dari pintu belakang bis, tepatnyanya sebelah kiri dan tempat favoritku, dekat jendela.

Sepasang muda-mudi membuyarkan senyum kecilku yang menunggu bis ini dijalankan. Mereka duduk tepat didepanku. Yang cewek berjilbab abu-abu dan yang cowok kurus berambut ikal serta berkacamata minus. Belakangan aku sedikit risih (atau iri ya) atas tingkah mereka berdua, yang cewek kuintip berwajah sedikit keras dengan rahang sedikit kotak dan kokoh, tetapi cara bicaranya manja, atau dimanja-manjain tepatnya. Ya biasalah orang pacaran. Sedangkan si cowok sok jaim, memandang lurus kedepan, walaupun si cewek berlagak manja ke dia.jaim yang gak macho.

Saya sedikit beruntung, atau tepatnya hujan badai ini membuat saya sedikit beruntung, karena hujan yang luar biasa deras sore ini, bis lengang, sedikit sekali penumpang yang naik. Jadi saya bisa dengan enak tidur selonjoran di kursi saya. Begitu pula ketika bis melewati ruas jalan porong yang terkenal macet karena adanya “bencana” Lumpur Lapindo, lancar, lenggang kangkung.

Ketika bis akan meninggalkan Pandaan, sepasang muda-mudi kembali naik. Kalau yang satu ini “masuk”lah, serasi. Sang cewek berwajah manis dan sedikit chubi, berkasual santai, berjilbab abu-abu gelap, jaket kaos putih, celana jins model pensil dan menenteng helm. Satu yang terakhir itu memang agak aneh. Si cowok, oke juga, model rambut ala penyanyi Armada atau wali, mata sedikit sayu, apa biar kelihatan cool ya, memakai celana selutut abu-abu, dan menenteng daypack hitam berbungkus parasut pelindung tas dari hujan. Ketika bangku didepannya ditinggal turun penunggu sebelumnya, merekapun segera “menguasai”nya. Si cewek langsung saja merebahkan kepalanya ke pundak si cowok. Mimik mereka berdua asli bkin ngiri, penuh senyum manis, aura pembicaraan yang hangat. Sedangkan saya, duduk sendiri kedinginan, hedeehh. Bikin ngiri, jealous.

Jadi pingin mengulangi lagi perjalanan berdua bersama istri saya dulu dari Malang ke jakarta menaiki bis malam Kramatjati. Bukan main, rasanya bis milik kita berdua. Banyak cerita yang kita bagikan bersama, mulai cerita tentang kita sendiri, teman, pemandangan malam di setiap kota yang kami lalui, hingga cerita-cerita horor. Hahhh.... dengan terjebaknya kita di dalam bis semalaman, tentu tak ada pilihan lain yang menyenangkan selain berbagai cerita, memegang hangat tangan pasangan kita, dan tertidur di pundaknya.

Lamunanku buyar, ketika adzan maghrib terdengar disela-sela kemacetan di tanjakan Purwodadi, kendaraan berbaris macet menunggu giliran lewat karena ada sebuah kejadian entah kecelakaan ataupun ulah sopir ngantuk dan ugal-ugalan yang mengakibatkan mobilnya selip. Tak perlu menunggu waktu lama, akupun mulai menenggak air putih dari botol minuman yang kubawa. Tidak lupa sepotong kue dan nogosari pemberian dian polhut di ruang UP ketika aku beranjak menuju parkiran kantor. Alhamdulillah..... terima kasih Tuhan, atas hari indah dari-Mu.

Monday, March 21, 2011

NIKMATI SAJA HIDUP INI

Nikmati saja hidupmu, wahai sahabat… Usahlah engkau bersedih dan mengeluh, engkau di dunia ini tak akan selamanya, esokpun engkau akan berpulang, kembali padaNya... menemuiNya, Usah engkau risaukan duniamu, akhirat yang abadi lebih mulia, bersiaplah engkau untuknya, Tak perlu banyak bicara, lakukan saja yang engkau bisa, ada Dia yang selalu melihatmu, ada Dia yang selalu mendengar doa-doamu, ada Dia yang setia menemanimu.
Yakinlah, engkau tak pernah sendiri lagi, engkau bahagia bersamaNya, bukan? Rasakanlah kehadiranNya yang setiap saat dekat denganmu, bahkan ia lebih dekat dari urat nadimu sekalipun, Lalu...Apalagi alasanmu untuk bersedih? Apa lagi alasanmu untuk dapat menumpahkan keluhmu? Apa lagi alasanmu untuk pamerkan kecengenganmu? Apa lagi alasanmu untuk tidak berbuat, saat kesempatan berbuat begitu luas terbuka? Ia ada untuk engkau isi, kesempatan itu untuk engkau taklukkan.
Jadi jangan pernah ragu lagi, engkau sudah sangat kuat bersamaNya, engkau sangat luar biasa dalam bimbinganNya, engkau mampu taklukkan egomu, engkau mampu runtuhkan kelumu, engkau mampu robohkan karang kesombonganmu itu, engkau mampu berlemah lembut, engkau bisa berkasih sayang, engkau akan selalu memiliki jiwa yang lapang, untuk kembali menerbitkan senyumanmu, senyuman terindah yang engkau miliki.
Yakinlah bahwa engkau mampu, maka engkau benar-benar mampu. Wahai sahabatku… Semangat berjuang! gigih berdoa, jangan pernah engkau lupa, ada Dia bersamamu, Semoga engkau selalu ingat, ada yang mengharapkan kebaikan-kebaikanmu, kenanglah saat-saat engkau menderita, maka engkau akan mampu berbagi di saat bahagiamu. Sumbangkanlah walau sepotong senyumanmu, sampaikanlah walau sebait nasehatmu, bagilah walau satu kata motivasimu hari ini, maka engkau akan bahagia…
Sumber:http://engkaudanaku.wordpress.com/, http://kata2hikmah0fa.wordpress.com/2011/03/18/nikmati-saja-hidup/,
http://kata2-hikmah-ofa.blogspot.com/2011/03/nikmati-saja-hidup-ini.html

Monday, March 14, 2011

SPT Pajak


Tahun ini beda ceritanya. Untuk melihat kejadian tahun kemarin silahkan deh baca tulisan “Sudah Setor SPT Belum?” atau klik disini.
Letak bedanya hanya tingkat kelancaran menyetornya dan membuatnya saja. Sebetulnya, saya membuat SPT Pajak ini juga bukanlah hal yang istimewa sekali, karena ingat bulan Maret ya ingat setor SPT Pajak. Bukan juga karena saya ingin di”cap” sebagai warga negara yang baik, hedeh.... gak juga, apalagi kalau melihat kejadian kasus “Gayus” dan rentetannya, serta “enaknya” pegawai Pajak yang menikmati Renumerasi sehingga gaji mereka gede dan gaji orang seperti saya yang jauh dibawah dari gaji mereka karena Kementrian dimana saya bekerja tidak menikmati renumerasi, tentu alasan kuat untuk saya tidak buat SPT. Apalagi dengan logika gampang seperti ini, “sudah gajinya gede masih saja korupsi dan jadi mafia kasus, apa masih kurang tuh gaji? Mau tuker gajinya dengan gajiku...”
Tapi sekali lagi sodara, bukan karena alasan diatas, apalagi dengan buat SPT atau tidak toh gaji kita sudah dipotong pajak sebelumnya, jadi ya gak ngaruh buat kita. Tapi mungkin berpengaruh bagi pegawai pajak. Enak saja, sudah gajinya besar tidak periksa berkas-berkas, makanya saya kirim berkas SPT yang macemnya ada 3-4 lembar itu biar diperiksa sama pegawai pajak, ya biar mereka kerja, hehehehehe.
Toh, tahun ini membuat SPT jauh lebih mudah, karena form A2 sudah dibuatkan kantor sehingga mempermudah pengisian form yang lainnya. It’s so easy. Tinggal serahkan SPT ke drop box, mereka tidak kebanyakan cing cong menerimanya, tidak seperti 2 tahun yang lalu dimana saya sampai harus surat menyurat dengan KPP (Kantor Pelayanan Pajak) karena kekurangan ini itu, macam surat menyurat dengan pacar saja.
Sekantor, sepertinya baru saya yang menyerahkan SPT, umumnya belum dan ada yang tidak pernah buat SPT, dengan alasan “trus kenapa kalau kita tidak buat SPT? Didenda? Toh gaji kita sudah dipotong duluan... malah minta kita laporan, harusnya mereka yang laporan ke kita, kemana larinya duit pajak itu..Sudah memotong pajak dari gaji di depan baru minta laporan dibelakang. Piye toh...”

Thursday, March 10, 2011

5 tahun pernikahan


Bagi saya, tanggal 10 Maret bukanlah tanggal biasa. Bukan sekedar sekumpulan angka satu dan nol. Tapi lebih dari itu. Karena pada tanggal ini saya menyunting seorang wanita bernama Sjam Widiani Kusuma Dewi untuk menjadikan dirinya menjadi bagian dari perjalan hidup saya. Untuk menemani sisa hidup saya, menemani segala kegalauan dalam diri, untuk memberi warna hidup ini, sehingga kami dapat saling mewarnainya dengan tulus.
Pada tanggal satu dan nol itu juga, kami memulai hidup kami berdua dari nol dengan menyatukan dua kepribadian yang berbeda untuk menyusuri sebuah kehidupan yang kami rencanakan bersama. Merencanakan hidup yang penuh makna, sehingga kami dapat saling mengisi, saling memberi, dan saling membenahi sehingga kami dapat lebih mengerti tujuan hidup kami lebih baik.
Bagi saya, membangun rumah tangga ini merupakan hal baru, tentunya bagi semua orang juga. Dan, bukanlah persoalan mudah untuk menyatukan persepsi dan dasar pemikiran kami berdua. Alhamdulillah, selama lima tahun kebersamaan ini, kami dapat menyelesaikan segala batu sandungan yang selalu ada dalam setiap langkah kami.
5 tahun pernikahan kami, kami telah dikaruniai seorang lelaki bernama Agsya Fahiem Manna kila, seorang anak yang saat ini berumur 3,4 tahun. Seorang bocah lelaki yang cerdas seperti umminya dan selalu ingin tahu hal baru seperti abinya. Tentu dia adalah sebuah titipan dari Sang Maha Kuasa kepada kami untuk dijadikan seorang anak yang sholeh dan ahli ibadah kepada-Nya.
Terima kasih Yaa Alloh, Yaa rabb, Sang Maha Pengasih yang telah memberi kami hidup penuh kasih. Terima kasih telah kau berikan kapadaku seorang istri yang tangguh dan kuat, yang mampu meluruskan saya dikala jalanku mulai berbelok dari jalur yang baik, juga atas seorang anak sempurna bagiku. Seorang anak yang juga menjadi guru bagiku untuk selalu belajar dalam membimbingnya.
Buat istriku yang terindah, terima kasih atas yang tiada tara atas seluruh pengorbananmu dalam mendampingi seorang Agus Irwanto. Cintamu sangat berarti bagi diriku. I love you ...
 

Copyright 2010 halaman agus.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.