Thursday, August 28, 2008

DONY

Saya pertama kenal teman satu ini ketika sekolah di SMA Negeri 5 Malang. Wajahnya yang dipenuhi jerawat dan bentuk muka yang oval telur yang kemudian menjadikan namanya tertutup oleh nama panggilannya "mendhol". Kalau berjalan agak sedikit mentul-mentul, mungkin karena rasa percaya dirinya cukup tinggi. Dikemudian hari, teman saya satu ini menjadi sangat dekat dengan saya dan seperti saudara. Bersama-sama beberapa pentolan di kelas satu, Tarjo, Daim, Bendhil, Kunam, kita membangun kelas kami dan memberi nama kelas kami "MALSEF" yang kepanjangan dari Masyarakat Solidaritas Satu Ef.
Dony sangat menonjol di dalam kel`s, gayanya yang ceria, supel, dan cara bicaranya yang dapat mempengaruhi lawan bicara, membuat dia sangat di"gemari", terutama untuk beberapa cewek. Saya kadang sangat iri dengan dony saat itu, betapa tidak untuk cepat dekat dengan teman cewek, dia begitu mudah untuk memulai pembicaraan. Okelah, untuk selama setahun di kelas satu, saya menganggap dia gagal guna membuktikan dirinya "playboy". Yang ada juga ditolakin cewek-cewek. Tapi ketika kami duduk di kelas dua dan tiga, fuih ... jangan tanya. Di tahun inilah dia mengawali legenda cinta-nya, dengan "menaklukkan" hati seorang cewek yang dulu adik kelasnya ketika SMP. Devi namanya, dan ternyata rumahnya tidak terlalu jauh dengan rumahku, lalu kami secara tidak sengaja menyebut keluarga Devi dengan sebutan "Keluarga Wahidin" karena rumahnya di jalan Wahidin. Di kemudian hari, rumah ini menjadi satu tempat aku bertengger kalau gundah.
Dony sangat pandai mengolah kata, kadang saya ketika itu meniru caranya untuk mendekati cewek yang saya incar, ya ... ada yang berhasil tapi tidak sedikit yang gagal total. hehehe. Tapi itu semua di tangan seorang Dony, 100% berhasil. Saya masih ingat sekali bagaimana Devi akhirnya menerima cinta Dony. Setelah pendekatan yang tidak mengenal lelah sekian waktu, suatu sore hari Dony ke rumah Devi dengan wajah kucel kecapaian dan menenteng tas besar berisi pakaian, karena Dony dari rumah neneknya di Blitar. Dan saat itulah Dony "menembak" Devi. Entah apa yang diucapkan Dony, tapi yang jelas Devi begitu terharu dan luluhlah hatinya.
Kisah Cinta Dony dan Devi bagi saya cukup melegenda di kalangan kami, karena betapa naik turunnya suhu hubungan mereka berdua yang sering melibatkan kami teman-temannya. Mungkin karena Dony sudah sangat dekat dengan saya, saya diperbolehkan membaca banyak surat-surat cintanya, baik dari Devi maupun dari para adik kelas. Saya bilang para karena lebih dari satu. Ada sebuah surat yang cukup panjang dan isinya sangat menyentuh hati, surat dari Devi yang berisi kegundahan hatinya dan cemburunya terhadap seorang adik kelas yang sangat dekat dengan Doni. Ini karena Devi bersekolah di sekolah yang berbeda dengan kami. Saking terinspirasinya saya dengan surat itu sampai-sampai saya berusaha untuk membuat cerpen. Tapi ya karena kemampuan menulis saya yang cekak, tuh cerpen tidak pernah jadi. Walau cukup melegenda kisah cinta mereka, tapi toh jodoh tetap Alloh yang mengatur. Dan akhirnya Devi menikah terlebih dahulu, Dony juga cukup gentleman untuk hadir di pernikahan tersebut,. Ya kami, teman yang hadir saat itu jadi tegang juga, karena kehadiran Dony saat itu cukup membuat suasana jadi tegang. Mungkin ada baiknya juga kalau mantan nikah, kita gak hadir. Dan akhirnya kisah cinta legenda cukup fair berpindah ke Tarjo dan Ciwuk (keduanya teman kami) yang kisah cinta mereka dilanjutkan ke pernikahan.
Selain pandai "mengolah kata", Dony juga cuek, ya setidaknya cuek terhadap pertumbuhan jerawatnya yang cukup subur. Padahal ia tumbuh di sebuah keluarga dokter. Karena bapaknya Dony dokter, saya kadang numpang nanya ke Dony tentang sakit saya ketika main ke rumahnya di kawasan Bandulan. Seperti ketika tenggorokan saya saki, eh tiba-tiba dia menyodorkan saya obat kumur dalam sebuah kemasan botol beling. Jelas saja saya terperanjat, ".. hei yang aku butuhin resep obat dokter, duduk soko awakmu". Dengan santai dia jawab, ".. apa sih bedanya resep dokter dengan resep anaknya dokter...".
Dony adalah pelopor, setidaknya pelopor untuk menikah. Diantara kami berlima (Dony, Tarjo, Daim, Bendhil, dan saya) hanya Dony-lah yang tinggal di luar Jawa Timur. Tapi begitu pulang ke Malang, Dony juga yang pelopor untuk mengumpulkan kami berlima, ya sekedar reuni kecil-kecilan.
Dony is solidarnosch, solider abis. Waktu aku ada masalah, dan terpaksa kabur dari rumah, dia juga yang nampung dan ngasih makan selama waktu "bertapa" itu. Jika diantara kami juga sedang berseteru, tidak jarang kami menyelesaikannya dengan bertemu, ngopi, lihat lampu-lampu kendaraan sambil membicarakan apa saja sehingga kami melupakan perseteruan kami. Kecuali perseteruannya cukup dalem, sehingga melibatkan beberapa teman kami, mungkin juga Tarjo yang paling bijaksana di antara kami. Tapi ya itu, tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan bagi kami.
Satu hal yang saya kurang sukai dari seorang Dony, ngaret dan mungkin pikun akan janjinya, karena cukup sering juga kita janjian bertemu eh dony gak nongol-nongol. Katanya lupa. Ada satu benda pemberian Dony sejak kami masih SMA dulu sampai saat ini masih tersimpan di saya, sebuah cermin lipat. Entah apa maksudnya dia memberi saya cermin tersebut? Saya pikir mungkin saya sebagai seorang individu untuk sering bercermin, siapa kita dan apa kita, sehingga tidak perlu kita menyakiti orang lain jika kita dapat merasakan jika kita juga sakit jika mengalami hal tersebut.

Tuesday, August 26, 2008

Sahabat dan Saudara

Saya sangat bersyukur sekali mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Univ. Muhammadiyah Malang. Di kampus inilah saya mengenal sebuah tempat yang kemudian membukakan mata saya dalam memaknai arti persahabatan. Di sebuah organisasi yang bernama DIMPA. Sebuah organisasi pecinta alam yang sistem keanggotaannya seumur hidup. Banyak manusia unik dan beraneka ragam yang saya jumpai. Mulai Indonesia barat hingga timur. Banyak pergulatan yang melibatkan banyak emosi dan cinta dalam menghabiskan waktu kami bersama. Kadang kami menjadi "musuh", kadang kami menjadi "sekutu". Terkadang kami sampai membanting meja dalam sebuah rapat ketika tensi rapat naik, kadang kami saling berpelukan sambil mengurai air mata. Kami benar-benar digulung dalam permainan emosi yang membuat kami semakin paham arti persahabatan.

Monday, August 25, 2008

Harga Elpiji Naik, LAGI..!!!

Siang ini usai Sholat Dhuhur, saya menuju warung bu Rusmani di belakang kantor, untuk makan. Sayur lodeh dan beberapa gorengan menjadi menu pilihan saya. Saya begitu lahap menikmati makan siang ini, tapi kelahapan saya tersebut terganggu ketika Liputan 6 Siang SCTV memberitakan kenaikan harga elpiji 12 kg menjadi Rp. 69.000,- dan akan terus naik hingga menjadi Rp. 140.000,-. Dengan alih - alih menghapus subsidi. Spontan mulut saya mengeluarkan kata-kata kotor makian. Betapa tidak, belum genap 2 bulan elpiji harganya dinaikkan, eh sekarang dinaikkan kembali, dan dalam waktu tak terlalu lama akan naik terus tiap bulannya hingga harga"edan" itu.

Kemarin-kemarin, pemerintah mengeluarkan kebijakan konversi minyak tanah ke elpiji yang berakibat sekarang bukan main sulitnya kita mendapatkan mitan tersebut. Lalu datanglah badai kenaikan elpiji ini, yang membuat saya semakin emosi tadi, kita sudah tidak punya pilihan bahan bakar untuk memasak selain elpiji. Elpiji mahal, mitan susah didapat.

Apakah kebijakan pemerintah sekarang dalam rangka menekan laju pertumbuhan jumlah penduduk? Sehingga secara sistematis "membunuh" rakyatnya dengan harga-harga elpiji dan mitan selangit, yang kemudian membuat rakyatnya kelaparan karena diikuti naiknya harga barang-barang yang lain. Satu kata sajalah, hebat pemerintah sekarang, bisanya menaikkan harga-harga tanpa mencari jalan keluar yang lain. Kalau standarnya "pokoknya bisa naikkan haraga", tidak perlulah presiden dan menteri-menterinya minimal dari S1, cukuplah SMP sudah mampu untuk naikkan harga-harga.

Wednesday, August 20, 2008

Terima Kasih Alloh ...

Terima kasih ya Alloh, terima kasih atas umur yang Kau beri kembali hingga tahun ini aku dapat bersyukur atas semua hidayah yang Kau berikan padaku. Terima kasih atas kesehatan, Rejeki, dan lindungan-Mu selalu. Terima Kasih atas keluarga kecilku yang indah, Istriku yang cantik dan anakku yang elok. Terima Kasih ya Alloh.

Terima kasih ya Rabb, sehingga pada 21 Agustus tahun ini aku dapat menikmati umur 33 tahunku. Sebuah umur yang selalu belajar menuju proses dalam kematangan berpikir dan berbuat.

Wednesday, August 13, 2008

Saya dan Vespa

Hidup saya tidak jauh dari sebuah kendaraan bernama Vespa! Sejak kecil saya sudah terbiasa diajak berkeliling oleh bapak saya dengan naik Vespa. Jenis Vespa yang dimiliki bapak saya saat itu adalah Super 150 tahun 1978 berwarna Coklat krem. Dan ketika saya menduduki SMA kelas 3, kendaraan "semok" itu menjadi teman setiaku yang mengantarkanku ke sekolah mengganti sepeda gunungku yang sudah 2 tahun lebih dahulu menjadi tumpanganku ke sekolah.

Ketika saya mulai kuliah di Univ. Muhammadiyah Malang, Vespa ini juga yang menemaniku beraktifitas. Dan catnya-pun saya rubah menjadi kuning dan berhias gambaran pemandangan hasil karya tanganku sendiri di bagian pantat kanan kirinya.

Saking identiknya saya dengan Vespa satu itu, saudara-saudara saya di Keluarga Pecinta Alam "DIMPA" memberikan nama pada Vespa saya tersebut, "Belalang Tempur". Karena sering juga saya bawa jika ada kegiatan di hutan dan gunung, asalkan ada jalan setapak berarti dapat saya lewati bersama si Belalang Tempur. Mulai kegiatan Diklatsar, Caving, hingga rafting, dia setia menemaniku. Hingga aku bekerja, si Belalang Tempur sering saya ajak mengangkut perahu kayak inflatable milikku untuk menuju camp sebelum pengarungan di Sungai Brantas - Kendal Payak - Malang. Lebih asyik sendirian, untuk menikmati sebuah kesendirian saat itu.

Ada juga Vespa jenis PS 150 Strada tahun 1987 yang juga menemani saya ketika bekerja. Mulai saya di Surabaya hingga ke tempat "pertapaan" saya di Bojonegoro. Vespa yang awalnya berwarna biru abau-abu kemudian tahun 2001 saya cat menjadi biru dongker. Bahkan tahun 2004 saya lengkapi dengan boks di bagian belakangnya. tambah lucu dan gagah. Vespa ini sering saya ajak berkendara jarak jauh, yang paling sering adalah ke rumah nenek saya di Trenggalek. Bahkan pernah saya ajak nyekar ke saudara seperjuangan kami di DIMPA, dari Malang ke Ponorogo via Trenggalek. Seru! apalagi kalau pakai ngadat di tengah jalan.

Vespa memang tidak pernah jauh dari darah keluarga kami. Istri saya juga sering bepergian di Jakarta dengan menggunakan Vespa bersama kakeknya. Kadang waktu-waktu tertentu saya dan istri saya berkeliling kota Malang dengan Vespa, sekedar cari angin dan melepaskan rindu akan masa-masa kuliah kami dulu. hihihi.

Tuesday, August 12, 2008

Saya Benci Sakit

Saya salah satu orang yang paling benci kondisi sakit. Biasanya kalau ada tanda-tanda sakit saya selalu melawannya dengan minum obat atau vitamin. Dalam keluarga saya, sayalah yang paling sering dirawat di Rumah Sakit. Mulai Demam Berdarah, Typhus, sampai kecelakaan yang harus membuat saya terbaring sebulan di rumah sakit. Tapi semua itu, saya pikir adalah takdir dan keharusan yang mungkin harus saya lewati. Dengan saya sakit, Alloh memberikan tandanya bahwa Dia sayang dan perhatian kepada saya. Dengan saya sakit, Alloh juga mungkin memberikan peringatan kepada saya dan orang-orang disekitar saya. Dengan saya sakit, banyak kejadian yang mengharukan, pertemuan yang tidak disangka, dan mukjizat itu bekerja dari Alloh. Dengan saya sakit, saya dipertemukan dengan calon istri saya ketika itu, hehehe.

Saya sakit, sering tidak ada tandanya, tiba-tiba saja ambruk, panas tinggi, dan tak berdaya. Masih ingat ketika saya terserang demam berdarah. Waktu itu saya hampir KKN (Kuliah Kerja Nyata), sore hari seperti biasa saya bersama teman-teman seperjuangan berlatih dayung di kolam kampus, malamnya karena malam minggu masih bisa keliling-keliling ke rumah teman sambil ngopi, dan tidur di kontrakan teman saya Magma di Jalak. Tapi paginya, badan saya demam tinggi, sayapun memutuskan pulang, dan siang harinya saya diangkut ke Rumah Sakit Lavalette. Akhirnya, saya terlambat seminggu untuk menjalankan KKN tadi, dan nilai KKN saya menjadi paling rendah dalam satu kelompok. hehehe.

Tapi bagaimanapun, kondisi sakit bukanlah hal yang menyenangkan, bagi saya sangat menyiksa. Itu sebabnya, jika dalam masa pergantian cuaca, jika saya ingat, saya selalu berhati-hati. Karena biasanya di masa itu siklus saya sedang pada rendah-rendahnya. Jadi, ya sering sakit juga, walau sekedar terserang flu berat.

Friday, August 1, 2008

VEGETARIAN

Saya ingat seorang teman bernama Jalu, dia aktivis pecinta alam di kota malang dari Universitas Merdeka. Suatu ketika kami bertemu di sebuah acara, saya sudah lupa acara apa itu, yang jelas ada acara makan-makannya. Tiba-tiba Jalu mendekati saya sambil menenteng piring berisi makanan, sambil berbisik ia berkata," ..sori wek (nama panggilan saya 'tuwek'), iki daging pitik kanggo awakmu ae yo", sambil keheranan dan sedikit senang (hehehe) saya terima ayam goreng itu sambil bertanya," kenapa, Lu?". "Sori lagi, aku vegeterian". Weh ... jarang-jarang saya jumpai orang vegetarian selama ini. Mungkin baru Jalu saja saat itu.

Dan memang, sejak saat itu setiap saya bertemu Jalu dan saya perhatikan memang dia seorang vegetarian, ini terlihat dari jenis makanan yang ia makan tidak terbuat dari bahan hewani.

Beberapa tahun yang lalu saya sempat menjalani gaya hidup ini, mungkin saat itu saya merasa bosan dengan jalan hidup saya dan memerlukan suatu perubahan yang membuat hidup saya menjadi sedikit menarik, ya saya pikir vegetarian lah, sekalian membuat badan lebih sehat.

Tapi bukan hal yang mudah menjadi seorang vegetarian itu, karena makanan yang hendak kita makan harus lebih selektif, bukan makanan yang yang terbuat dari hewani alias berbahan dari sayur-sayuran. Masih untung di Indonesia ini kita mengenal tempe dan tahu serta varian turunannya seperti menjes, mendol, lento dan lainnya. Sehingga dalam masalah lauk yang berprotein, kita bisa mendapatkannya.

Yang bikin susah, kalau kita ditraktir orang dan makanan yang ada membuat kita serba bingung, ditolak nanti tersinggung, dimakan berarti gak vegetarian. Seperti waktu saya makan dengan mantan pacar saya (sekarang jadi istri saya), ketika itu dia mentraktir saya makan spageti. Taukan spageti? Mie ala itali yang ada campuran cincangan daging itu. Terpaksa deh saya pilah-pilah sedikit demi sedikit. Melihat itu, mantan pacar saya itu hanya tertawa geli.

Hingga saat ini, setiap saya teringat vegetarian, saya selalu teringat Jalu teman saya dan meyakini bahwa betapa sulitnya gaya hidup tersebut, karena kita menghadapi berbagai pantangan dalam hal makananan.
 

Copyright 2010 halaman agus.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.