Monday, January 7, 2013

Nasib Gajah Sumatera

Sumber Foto

Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan mamalia besar kebanggan nasional. Satwa ini telah dilindungi sejak tahun 1931, yaitu melalui Peraturan Perlindungan Binatang-binatang Liar 1931. Gajah Sumatera merupakan salah satu dari tiga anak jenis gajah yang hidup di Benua Asia, yaitu yang berukuran besar (Elephas maximus maximus), hidup di Sri Lanka, India, Nepal, Buthan, dan Bangladesh; berukuran sedang (Elephas maximus) hidup di Myanmar, Vietnam, dan Malaysia; dan yang terkecil adalah Gajah Sumatera. Gajah Sumatera ini hidup di hutan pegunungan maupun daerah pamah, baik hutan primer maupun sekunder.


Pada musim kemarau, gerombolan gajah terdiri dari 20-60 ekor biasanya bergerak mengikuti jalur jelajah alaminya untuk mencari pakan dari hutan-hutan dataran tinggi menuju hutan-hutan dataran rend`h. Pergerakan sebaliknya dilakukan pada musim hujan. pada tahun 1985 populasi Gajah Sumatera mencapai 2.500 hingga 4.500 ekor. Kawanan ini hidup di kawasan konservasi, hutan produksi, dan hutan-hutan lindung. Jumlah populasi ini terbesar berturut-turut terdapat di Riau, Lampung, D.I. Aceh, Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Barat.

Seekor gajah dewasa memerlukan areal hutan seluas 400 ha untuk bertahan hidup selama setahun. Walaupun makanan alaminya adalah bambu-bambuan, tepus, pisang hutan, alang-alang muda, dan sebagainya; gajah sangat menyukai tanaman-tanaman pertanian yang bernilai tinggi, seperti kelapa hibrida, kelapa sawit, dan tebu.

Konflik manusia dengan gajah ini telah mencuata ke permukaan pada tahun 1980. Kemudian pada tahun 1982, suatu operasi penghalauan kawanan gajah, yang disebut Operasi Ganesha, dilakukan dari daerah transmigrasi rawa gambut Air Sugihan Sumatera Selatan, ke Padang Sugihan yang berjarak lebih dari 50 kilometer. Sebanyak 200 ekor gajah berhasil dihalau dan masuk ke area hutan seluas 40.000 ha.

Upaya-upaya yang saat ini telah berhasil dilakukan Ditjen Perlindungan dan Konservasi Alam (PKA), Departemen Kehutanan adalah pembangunan enam Pusat Pelatihan Gajah di seluruh sumatera dengan dukungan dana APBN sebesar 10,8 miliar untuk jangka lima tahun. Sejak tahun 1986 gajah yang telah berhasil ditangkap berjumlah 2.392 ekor, 414 ekor diantaranya telah berhasil di pusat-pusat pelatihan gajah (PLG) yang ada.

Masalah baru yang muncul kemudian adalah bagaimana mendayagunakan gajah-gajah yang telah terlatih tersebut untuk kepentingan pembangunan kehbutanan dan pendidikan lingkungan yang lebih luas.

Sumber : Dicukil dari "Berkaca di Cermin Retak, Refleksi Konservasi dan Implikasi Bagi Pengelolaan Taman Nasional", oleh Wiratno, dkk. Jakarta. The Gibbon Foundation Indonesia, PILI-NGO Movement. 2004.

No comments:

 

Copyright 2010 halaman agus.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.