Saat Hutan Memperbaiki Diri

by - January 14, 2021



Usai memindahkan sebuah camera trap, kamipun memutuskan untuk kembali ke Teluk Semut melalui jalur yang berbeda dengan jalur patroli biasanya. Menurut Hari, sang kepala resort, jalur yang dimaksud merupakan jalur lama yang kondisi jalan setapaknya melebar sehingga nyaris tunas-tunas pohon tak dapat hidup karena tanah mengeras.

Itu semua akibat gelombang kunjungan illegal ke dalam kawasan konservasi. Ya, illegal.! Kunjungan yang sangat masif dalam jumlah besar selama bertahun-tahun, sehingga membuat beberapa lokasi cagar alam rusak dan perubahan terhadap perilaku Monyet ekor-panjang.

Sejak akhir 2017, secara masif pula petugas BBKSDA Jatim melakukan berbagai tindakan untuk mengeluarkan pelaku-pelaku wisata di dalam cagar alam. Hingga jalur yang telah rusak ditutup agar harapannya hutan dapat memperbaiki dirinya. Agar lantai hutan dapat kembali dihiasi tunas-tunas muda.

Setelah bertahun-tahun, jalur lama ini hampir benar-benar tertutup. Pada beberapa tempat kami harus menerobos semak dan ranting-ranting pohon yang tumbuh menghalangi langkah. Pegangan kami hanya peta jalur dari View Ranger.

Tak jarang harus jatuh bangun terpleset, karena lantai hutan sudah dipenuhi dedaunan sehingga licin. Sempat juga berjumpa cangkang telur ular yang baru saja menetas. Sempat begidik, namun saya buang jauh-jauh pikiran bakal dihadang ular. Tak berapa lama, benar saja, seekor ular pucuk tiba-tiba melintas diatas kepala kami.

Sore itu, kami senang sekali. Tampaknya hutan mulai menyembuhkan dirinya sendiri. Namun, ia tidak begitu saja dapat memperbaiki diri tanpa bantuan dari kita. Setidaknya tidak merusaknya. Tidak mengunjunginya. Karena Cagar Alam Pulau Sempu bukan tempat wisata.

You May Also Like

0 komentar