Ngopi Kembali di Rumah Ambon
Udara Kota Malang malam ini cukup segar, meski tidak terlalu dingin. Ya, walaupun ramalan cuaca di televisi mengatakan perkiraan Godzilla El Nino akan dimulai bulan April ini.
Tak lama sejak kutinggalkan kediaman Ambon, kujumpai deretan sepeda motor terparkir di sekitar mulut gang. Rupanya menjadi rezeki tersendiri bagi warga Satria baru dan lama, Gereja terdekat sedang mengadakan misa menyambut Paskah esok hari.
Rupanya, lama sekali saya tidak nyeruput kopi di tempat tinggal Ambon. Nama panggilan Arif. Sahabat saya sejak tergabung dalam kelompok mahasiswa pecinta alam, DIMPA, tahun 1993 silam. Tahun ini menjadi meme bocil sekarang di media sosial seperti tik tok sebagai tahun purbakala.
Saya sempat nyletuk ke Ambon, gimana jadinya kita kalau jadi mapala di era sekarang, mungkin sakit hati. Melihat gunung-gunung dipenuhi anak-anak fomo. Naik gunung cuman buat konten, pamer outfit, atau tek tok. Huh.
Dan obrolan kami yang ngalor ngidul hingga kopi di gelas tandas, habis. Diujung obrolan kami sepakat, sehebat-hebatnya generasi sekarang, mereka belum tentu punya foto berada di puncak Mahameru. Karena saking lamanya pendakian ke Gunung Semeru dibatasi hingga Kalimati atau Ranu Kumbolo saja.
Tak banyak, rekan segenerasi X (baca sepuluh) yang masih bisa diajak ngopi malam-malam gini. Selain Ambon, ada juga Novi yang sebenarnya lokasi tempat tinggalnya tak jauh. Namun, biasanya justru malam begini dia sibuk keliling Kota Malang.
Sisanya, DIMPA X tersebar di berbagai provinsi, dan hanya menyisakan beberapa orang saja di Malang Raya.
Aah .. ngobrol seperti ini kadang bisa mengobati rasa rindu dengan masa lalu kami. Masa dimana lebih banyak obrolan bertatap wajah dibanding melalui gawai. Banyak tawa di warung belakang kampus, hingga melantunkan lagu-lagu di depan sekretariat. Tentunya diiringi petikan gitar Erfan.
Malang, 2 April 2026,
Saat malam semakin menua, namun jalan masih penuh dengan semut-semut aspal
Foto Koleksi Novi Rujiandaru


Comments
Post a Comment