Wednesday, April 23, 2014

Bahagia Itu Sederhana



Hujan yang membasahi Kota Malang malam itu, benar-benar tak mau kompromi. Meski sudah tidak deras lagi, tapi curahannya bak memberi arti bahwa ia tak habis malam ini. Pikirku, takkan kunanti hujan ini hingga berhenti. Akhirnya, saya terjang juga hujan ini, meninggalkan Kampung Ledok di Lingkungan Madyatama - Blimbing, yang hanya berjarak sekilo saja dari rumah. Jalanan mulai sepi, waktu terus merambat melampui pukul 10 malam.

* * *


Bahagia itu memang sederhana. Sesederhana bertemu kawan-kawan. Berbagi segelas kopi. Berbagi sebatang rokok. Dan berbagi tawa dengan saling menukar cerita masing-masing.

Bahagia itu sederhana jalannya. Sesederhana saya mendapatkan senyum istri saya saat menikmati makan malam. Menikmati setiap suap masakannya.Menikmati setiap waktu saat mendengar seluruh ceritanya hari ini.

Bahagia itu sederhana sekali. Sesederhana saya mengintip kamar tidur anak-anak, dan mendapatkan mereka tidur dengan nyenyak. Merasakan setiap tarik nafas mereka dalam selimut mimpi-mimpinya.


Bahagia itu sederhana adanya. Sesederhana mendapatkan teriakan anak-anak bermain di ruang tivi, memuntahkan suara-suara tembakan dari mainan, mengumbar seluruh kegelian yang diperlihatkan.

Bahagia itu teramat sederhana. Sesederhana sambutan Daffa saat saya pulang kerja. Mendapati wajah merajuknya dalam meminta smartphone saya. Menyaksikan kegirangannya sambil berlari kecil dan melengkingkan kata "hape...hape...!!!"

Bahagia itu sederhana rasanya. Sesederhana merasakan dekat orang tua. Hanya 10 menit berkendara sudah dapat melihat senyumnya. Melihat gerbang rumahnya, dan sambutan hangat beliau.

Bahagia itu memang sederhana. Sesederhana saya berangkat kerja. Berjumpa orang yang berbeda setiap harinya di jalan. Menjumpai kawan-kawan seperjuangan di kantor. Dan menikmati segelas kopi penghantar kerja saat kantor masih sepi.

Bahagia itu sederhana kok. Meski awalnya tak sederhana, tapi bahagia masih dapat menjalankan ibadah sholat, berpuasa, bersedekah, merupakan kebahagiaan tersendiri. Sederhana sekali, mendengarkan adzan kemudian sholat. Seperti itulah Kebahagiaan. Tak perlu mencari-cari alasan untuk tidak berbahagia. Karena bahagia itu datang setiap saat, di waktu hati kita dapat merasakan kehadirannya. Di kala kita dapat mensyukuri akan alasan apapun yang membuat kita bahagia.


1 comment:

noerdblog said...

Anak-anak memang luar biasa. Walaupun kita sedang capek, namun ketika kita melihat senyum dan tingkah manjanya, selalu membuat kita bahagia. Sukses selalu Kang...

 

Copyright 2010 halaman agus.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.