Friday, December 11, 2015

Ke Masakambing, Menyebar Virus Konservasi Bagi Anak Pulau

Pantai Ketapang, sisi Utara Pulau Masakambing, 2 jam perjalanan laut ke utara dari Pulau Masalembu

Hanya sekitar 20 menit saja perahu yang kami tumpangi dari Masalembu akan merapat ke Ketapang, di sisi Utara Pualau Masakambing. Tetapi gelombang ombak yang menghadang semakin tinggi dan menghantam haluan kapal. Para pelajar yang berdiri di haluan kapal tampak basah kuyub. Dan, jantung sayapun semakin kencang berdetak, adrenalinpun terasa naik keatas.

* * *

Berdiskusi, menjelaskan penyebaran Kakatua dan tehnik pengamatan


Aat, anggota kelompok pecinta alam “Kawali” SMA Negeri Masalembu, mencoba mengimbangi langkah-langkah saya yang lebar. Jam di tangan hampir menyentuh pukul 6 petang. Di Masakambing, matahari telah pulang ke peraduannya. Aat merupakan 1 dari 10 pelajar yang hari itu ikut bergabung dengan Tim Monitoring Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea abbotti).

Bagi kami, tim monitoring, bergabungnya Aat dan rekan-rekannya tentu memiliki arti tersendiri. Setidaknya para pemuda Masalembu mulai tertarik dengan kegiatan konservasi terhadap Kakatua jenis ini. Tentu hal ini tidak terlepas dari peran guru pembinanya, Pak Satriya, serta Usman Daeng Mangung, penduduk Masakambing yang sejak awal ikut bergabung dalam program ini. Bagi para pelajar seperti Aat, Pak Usman bukan sekedar warga biasa, tetapi juga mentor bagi mereka dalam konservasi Kakatua.

* * *

Cacatua sulphurea abbotti


Tak Sekedar Angka Populasi
Berbicara Pulau Masakambing saat ini, bagi kami bukanlah lagi sekedar menghitung populasi Kakatua semata. Di tahun yang ke 4, sebenarnya banyak hal yang ingin kami perbuat. Menularkan pengetahuan konservasi kami kepada penduduk setempat, berbagi pengalaman, bahkan memberikan tambahan pola pengajaran kepada guru-guru sekolah dasar.

Tak jarang, usai Sholat Jum’at atau acara Tahlilan menjadi waktu bagi kami untuk membicarakan apa saja. Mulai sekedar memperkenalkan diri, penyuluhan tentang satwa liar, hingga diskusi hangat mengenai hal-hal lain yang terjadi di Masakambing.

Tak puas dengan waktu yang tersedia, kadang diskusi akan berlanjut di Pos Tim monitoring yang bertempat di rumah Pak Usman. Rumah yang kental dengan gaya Bugis, lengkap dengan bale-bale di depan rumah, membuat diskusi seolah lupa waktu. Bahkan melampaui batas waktu listrik menyala di pulau ini, 22.30 WPM (Waktu Pulau Masakambing).

Masakambing, tak lagi sekedar angka-angka jumlah Kakatua. Karena ada hal lain yang menjadi perhatian di pulau ini. Tentang bagaimana pohon-pohon Randu yang menjadi sarang Kakatua terus menyusut jumlahnya. Pun begitu dengan pohon Kelapa yang menjadi tempat bermain dan pohon tidur mereka. Belum ancaman penebangan pohon-pohon Bakau yang juga tempat si Beka (panggilan warga lokal untuk burung kakatua) makan, tidur hingga bertelur.

Menurut Pak Abbas, mantan Kepala Desa yang mengeluarkan peraturan desa tentang perlindungan terhadap Beka, bahwa sebenarnya pohon-pohon Randu dahulu sengaja di tanam di Masakambing, selain kapuknya dapat dipergunakan untuk alas tidur, juga dapat dijual. Tapi saat ini, ketika pilihan bahan tempat tidur lebih beragam, kapuk mulai dilupakan. Warga lebih memilih memanfaatkan batang Randu untuk dijadikan bahan papan perahu. Sama nasibnya dengan batang pohon Kelapa yang diangkut dan dijual ke Pulau Jawa.

* * *

Hutan Mangrove di sisi Timur Pulau


Mangrove Terancam
Meski perekonomian masyarakat Masakambing tidak sedikit yang bertumpu pada hasil laut dan mangrove, seperti ikan dan kepiting, bukan berarti kondisi mangrove di pulau ini menjadi aman. Penebangan pohon-pohon dari berbagai jenis mangrove terus berlangsung, bahkan pada hutan mangrove yang letaknya jauh dari pemukiman. Dari bekas-bekasnya dapat disimpulkan bahwa pemotongan menggunakan gergaji mesin, dan batang-batang pohon langsung di potong-potong di tempat menjadi papan. Jelas ini tantangan berat menghadang bagi kelestarian hutan mangrove di pulau ini.

Tentu akan dibutuhkan lebih dari sekedar pahlawan-pahlawan mangrove macam Pak Syafei di Bawean atau Pak Ali Mansur di Jenu – Tuban. Karena Masakambing jauh letaknya dari pusat perekonomian. Bahkan untuk mencapainya saja diperlukan waktu 16-18 jam perjalanan laut dai ibukota Kabupaten Sumenep.

* * *

Ahh. Andai saja Pulau Masakambing dapat dijadikan Kawasan Ekosistem Esensial, tentu akan banyak kegiatan konservasi yang terpadu di pulau ini. Akan ada kegiatan penyelamatan ekosistem mangrove, yang juga akan turut membantu selamatnya habitat Kakatua.

Akan ada kegiatan penghijauan secara masif, menanami pulau dengan jenis-jenis pohon Randu, kelapa, dan Kedondong yang menjadi tempat favorit si Beka. Tentu juga ada pola pemberdayaan masyarakat lokal untuk meningkatkan perekonomian mereka. Ya, seperti pemanfaatan buah-buah mangrove untuk bahan sirup contohnya. Atau diversifikasi tanaman pangan di pulau, cabe contohnya. Jadi, orang yang memiliki warung makan seperti bu Usman tak perlu lagi bingung saat musim angin timur, sebab tak ada orang yang berani melaut untuk “kulakan” cabe ke Masalembu.

Ahhh. Andai saja, tentu kegiatan monitoring Kakatua tidak lagi berjalan dengan satu kaki. 

Agus Irwanto, anggota Tim Monitoring Kakatua Kecil Jambul kuning, 2013-2014

2 comments:

Faisal Usman said...

Udah mulai jarang posting juga pakde?

Agus Irwanto said...

eh masih hidup? kirain sudah ditelan waktu..

 

Copyright 2010 halaman agus.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.