Domestikasi, Sebuah Cara Mempertahankan Plasma Nutfah

by - May 27, 2021

Ikan Baung

Pernah terpikirkankah dari mana hewan-hewan peliharaan seperti kucing dan anjing ini berasal. Apakah sejak dahulu memang sudah jinak dan menjadi peliharaan manusia ? Nah, ternyata hewan-hewan peliharaan tersebut merupakan hasil domestikasi di zaman kuno.

Menurut Wikipedia, domestikasi atau penjinakan merupakan pengadopsian tumbuhan dan hewan dari kehidupan liar ke dalam lingkungan kehidupan sehari-hari manusia. Dalam arti yang sederhana, domestikasi merupakan proses "penjinakan" yang dilakukan terhadap satwa liar. Domestikasi pada satwa liar ini dilakukan manusia terhadap spesies hewan tertentu secara selektif dan prosesnya dilakukan secara turun-temurun serta memakan waktu yang sangat lama, bisa puluhan ribu tahun.

Domestikasi ternak diperkirakan dilakukan dalam kaitan dengan penyediaan sumber pangan, sandang (kulit, bulu, rambut yang dijadikan bahan pakaian), yang di kemudian hari dijadikan komoditi perdagangan. Namun, kegiatan domestikasi ini bukanlah seperti membalikkan telapak tangan, selain butuh waktu juga syarat atau kondisi yang yang harus dipenuhi.

Menurut ahli biologi Jared Diamond, ada enam kriteria yang harus dipenuhi pada suatu jenis satwa agar dapat dipertimbangkan untuk didomestikasi, seperti pakan yang mudah didapatkan, pertumbuhannya cepat, dapat berkembangbiak dalam penangkaran, tidak agresif, tidak mudah stres, dan memiliki hirarki sosial yang dapat dimodifikasi.

Karena syarat-syarat itulah, kebanyakan domestikasi dilakukan untuk keperluan kesenangan semata sebagai hewan peliharaan (pet). Selain itu domestikasi memerlukan puluhan generasi untuk mendapatkan galur-galur yang benar-benar adaptif dengan lingkungan buatan manusia.

Domestikasi Pada Ikan

Dalam sebuah webinar bertajuk “Domestikasi dan Regulasinya dalam Konservasi Satwa di Indonesia”, yang merupakan hasil kerjasama antara Yayasan Konservasi Elang Indonesia bersama Universitas Palangkaraya, 6 Mei 2021 yang lalu membahas mengenai usaha domestikasi terhadap satwa liar yang dapat dimanfaatkan.

Menurut Dr. Noor Syarifuddin Yusuf, S.Pi, M.Si, domestikasi dapat dijadikan cara untuk mempertahankan keberadaan plasma nutfah ikan-ikan lokal di suatu daerah sehingga dapat terus dimanfaatkan secara berkesinambungan. Ia-pun memberi contoh beberapa jenis ikan yang berhasil didomestikasi, seperti Jelawat, Papuyu, Gurami, Gabus, Patin Jambal, Patin Kunyit, Baung Sepat Siam, Belida, Labi-labi lokal, Udang Galah, Semah, Betutu, Sanggang, dan kelabau.

“Ada sekitar 21 jenis ikan lokar air tawar dari 40 jenis komoditas ikan yang dikembangkan sebagai sumber plasma nutfah untuk kegiatan budidaya”, ujar pria yang juga menjabat Ketua Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian - Universitas Palangkaraya.

Penentuan jenis komoditas, pemilihan teknologi pembenihan yang sesuai, dan pengelolaan kesehatan lingkungan yang tepat merupakan aspek penting dalam kesuksesan pengembangan ikan-ikan lokal sebagai ikan budidaya yang potensial.

 

Agus Irwanto

Foto : lalaukan.com

You May Also Like

0 komentar