Thursday, April 24, 2008

Kala Tuban Menanam Mangrove

Saya tergelitik dengan beberapa pesan singkat / sms yang masuk ke Handphone saya beberapa waktu lalu. Pesan itu dari beberapa rekan penggiat pencinta alam di kota Tuban yang mengabarkan adanya kegiatan penanaman bakau di pantai – pantai Tuban. Ada juga pesan yang memberitahukan adanya pelatihan bagi kader konservasi mengenai mangrove, juga di Tuban. Sayangnya kedua kegiatan tersebut tidak dapat saya ikuti karena kebetulan bersamaan dengan kegiatan penyegaran Polhut.
Akhirnya ketika ada waktu luang, saya bergegas menghubungi rekan saya Edi Toyibi yang saya anggap dedengkotnya orang Tuban di bidang konservasi. Saya bermaksud ingin mengetahui lebih lanjut berita gembira ini (rehabilitasi mangrove ini saya anggap berita yang menggembirakan). Apa dan bagaimana hutan mangrove di Tuban yang letaknya tidak lebih 50 km saja dari kantor Seksi Konservasi Wilayah I Bojonegoro.
Mangrove atau lebih populer di istilah kita yakni hutan bakau, belakangan saya menganggap lebih terangkat. Hingga Departemen Kehutanan berencana akan melakukan rehabilitasi pantai Aceh dengan menanami bakau seluas 150 – 200 ribu hektar! Bayangkan, tidak main – main dengan dana Rp. 180 milyar! Mungkin dari kita tidak banyak yang mengetahui tentang selamatnya Pulau Simeuleu yang letaknya hanya 40 km saja dari pusat gempa. Korban yang jatuh hanya 5 orang meninggal dan 1 orang hilang, bandingkan dengan kota Banda Aceh dan Meulaboh yang letaknya lebih jauh. Salah satu faktornya adalah kondisi hutan mangrove di Pulau Simeuleu yang masih sangat baik ketika Tsunami datang.
Mungkin tidak jauh dari situlah, memyelamatkan kawasan dari abrasi air laut, rekan – rekan pecinta alam di Tuban sangat interest dengan mangrove. Menjauhkan kota Tuban dari bahaya abrasi yang dapat menggerogotinya sedikit demi sedikit! Sepengetahuan saya, Tuban tidak memiliki hutan bakau / mangrove dalam skala cukup luas di pinggir pantainya, tidak seperti daerah pantai Lamongan dan Gresik di ujung pangkah.
Tapi, masih ada beberapa hal yang saya kurang ketahui mengenai mangrove itu sendiri. Sebagai orang yang awam mengenai mangrove dan seluk beluknya, ada baiknya saya ingin mengulas sedikit saja tentang mangrove dan kondisi mangrove yang ada di Jawa Timur walau hanya beberapa tempat saja yang saya jadikan contoh.

Mangrove?
Kata mangrove merupakan kombinasi antara bahasa Portugis yakni mangue dan bahasa Inggris grove. Adapun dalam bahasa bahasa Inggris kata mangrove digunakan untuk menunjuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang surut maupun untuk individu – individu spesies tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut. Sedangkan dalam bahasa Portugis kata mangrove digunakan untuk menyatakan individu spesies tumbuhan, sedangkan kata mangal untuk menyatakan komunitas tumbuhan tersebut. Jadi secara ringkas hutan mangrove dapat didefinisikan sebagai suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut (terutama di pantai yang terlindung, laguna, muara sungai) yang tergenang pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam. Ada beberapa istilah lain dari hutan mangrove :
Tidal Forest : Hutan pasang surut
Coastal Woodland : Kebun kayu pesisir
Coastal Woodland : Hutan banjir
Hutan Payau : Dilihat dari campuran airnya (asin dan tawar) atau dalam bahasa melayu disebut hutan paya
Hutan Bakau : Sebenarnya bukan sebuah istilah yang tepat karena bakau adalah salah satu jenis dari mangrove, tetapi istilah ini telah berkembang secara umum di masyarakat
Hutan bakau / mangrove merupakan salah satu komunitas yang berperan penting dalam pengamanan pantai dari hempasan gelombang (overtopping). Sebagaimana diketahui, bakau merupakan tanaman khas untuk daerah estuaria (daerah percampuran antara air tawar dari aliran sungai dan laut).

Mangrove di jawa timur
Menurut harian nasional Kompas pada tanggal 14 Agustus 2004, bahwa hutan mangrove di sepanjang pantai utara Jawa Timur diambang kepunahan. Terancamnya keberadaan hutan mangrove dikarenakan desakan kepentingan pengembangan kawasan industri, pemukiman dan budidaya perikanan payau, ketiga hal ini dipicu oleh belum ditetapkannya Rencana Tata Ruang Wilayah Regional Pesisir Pantai Utara Jawa Timur, sehingga banyak kasus – kasus perbedaan peruntukan antar kabupaten/kota dan antara pemerintah kabupaten/kota dengan Pemprov Jatim seperti kasus Teluk Lamong.
Perbedaan penetapan peruntukan wilayah pesisir membawa dampak buruk terhadap keberadaan mangrove. Di Sidoarjo keberadaan mangrove dilindungi oleh Perda 17 Tahun 2003 tentang Kawasan Lindung yang menetapkan sepanjang 400 meter pada daerah pasang surut merupakan kawasan lindung. Untuk lebih melindungi keberadaan mangrove ini, Perda ini juga mengatur sanksi 5 Juta Rupiah bagi penebangan mangrove pada kawasan lindung. Dengan adanya kebijakan ini mangrove di Sidoarjo relatif terlindungi.
Adanya perbedaan peruntukan kawasan mangrove antar kabupaten/kota membawa dampak buruk terhadap kualitas lingkungan pesisir karena sebenarnya kawasan hutan mangrove di pantai utara Jawa Timur merupakan satu kesatuan wilayah yang memiliki fungsi ekosistem yang mendukung kualitas perairan di utara Jawa Timur sehingga peruntukan dan pemanfaatnnya tidak dapat dipisahkan menurut daerah administrasi.
Dari kajian yang dilakukan Ecoton, disepanjang Jawa Timur masih terdapat 25 jenis vegetasi mangrove dari 12 jenis Familia. Keberadaan mangrove di Jatim didominasi oleh jenis Pohon Api – api (Familia Avicenniaceae), Pohon Bakau / Bako (Familia Rhizophoraceae), dan Pohon Bogem (Familia Sonneratiaceae). Ekosistem mangrove di Pantura Jatim memiliki 4 fungsi spesifik yaitu :
1. Kemampuannya mensuplai nutrien bagi perairan di sekitarnya. Serasah (daun kering) yang diproduksi oleh ekosistem mangrove mengandung 40% senyawa larut dalam air yang diubah menjadi biomassa bakteri kurang dari 8 jam setelah gugur ke perairan mangrove. Hal inilah yang membuat kawasan mangrove seing dikunjungi oleh beragam satwa untuk mendapatkan nutrisi. 90% dari jumlah ikan yang ditangkap dalam jarak 10 km dari pantai Jawa dan Bali mengandung fragmen mangrove dalam ususnya.
2. Mangrove sebagai habitat burung air. Sebagai ekosistem yang kaya nutrisi, kawasan mangrove ramai dikunjungi beragam satwa burung. Tercatat sampai tahun 2003 ada 43 jenis burung air mengandalkan mangrove sebagai ekosistem yang menunjang kelestarian mereka. Kawasan pesisir Pantura Jatim menjadi kawasan transit bagi burung – burung yang melakukan migrasi dari belahan bumi utara menuju bumi selatan untuk menghindari musim dingin. Tercatat lebih dari 43 jenis burung air dan 25 jenis burung migran.
3. Keberadaan mangrove berperan penting dalam siklus hidup beberapa biota yang bernilai ekonomis seperti kepiting, udang, bandeng dan ikan laut lainnya. Hal ini dikarenakan pada musim bertelur dan memijahkan anaknya sebagian besar biota-biota itu bersiklus dikawasan pesisir yang bermangrove, baru setelah mereka dewasa akan kelaut lepas.
4. Selain itu beberapa jenis pohon mangrove seperti Pohon Bakau (Rhizophora mucronata) dan Pohon Api-api (Avicennia marina) memiliki kemampuan dalam mengakumulasi (menyerap dan menyimpan dalam organ daun, akar dan batang) logam berat pencemar. Sehingga keberadaan mangrove dapat berperan menyaring dan mereduksi tingkat pencemaran logam berat. Selain 4 fungsi spesifik ini mangrove secara umum juga memiliki peran mengurangi abrasi atau erosi pantai, menghambat laju intrusi air laut, barrier bagi daratan terhadap angin laut, serta pengendali bagi vektor Malaria.

Geliat di Tuban
Pagi itu bersama teman baik saya sejak dulu, vespa biru, saya berangkat ke Tuban. Tujuan awal saya adalah menemui Edi di rumahnya. Tidak lama saya menunggu akhirnya tibalah Edi dari pulang kerjanya, maklum dia hidup seperti kalong, jadi malam kerja siang tidur, mentang – mentang kerjanya di Gua Akbar. Hehehe. Dan ini berarti kedatangan saya mengacaukan siklus alamnya, yakni tidur. Beberapa waktu kemudian sebelum kami menuju tempat bakau datang juga Bob, rekan Mahipal yang baru datang dari Aceh jadi relawan. Saya kok merasa aneh dengan keberadaan Bob sekarang, dia seperti belum “penuh” saat itu. Setelah ngobrol dan sarapan nasi goreng, saya dan Edi segera menuju Jenu, sedangkan Bob ke Surabaya untuk suatu keperluan.
Sesuai dugaan saya, areal hutan bakau yang kami tuju adalah suatu areal milik seseorang yang masih dalam proses merintis dengan segala kerelaannya. Di kawasan seluas 6 hektar ini dapat kita jumpai berbagai jenis mangrove dan umurnya. Mulai yang sudah lama di tanam hingga yang baru di tanam. Ketika masuk ke lokasi, kita sambut dengan pemandangan indah, karena sepanjang jalan makadam berderet mangrove yang sedang berbunga berwarna merah. Sejuk gitu lho. Hampir tidak ada lahan yang dibiarkan kosong, semua ditanami secara tumpang sari, dari jenis waru dan bakau yang mendominasi, dan beberapa tempat di tanam dengan pohon kelapa. Beberapa kolam atau tambak juga ada dalam luasan tidak terlalu besar, dengan tanaman bakau di sekelilingnya, baik yang masih muda maupun yang cukup besar. Bahkan ada sebuah tambak yang penuh dengan tanaman bakau yang masih muda, lebih mirip sebagai tempat pembibitan.

Di tempat yang semakin dekat dengan pantai dapat kita temui 4 saung, satu saung sebagai gudang yang letaknya paling belakang, 2 saung sebagai tempat pertemuan kelompok tani dan sebuah saung berukuran lebih besar dengan papan nama bertuliskan Sekretaria Forum Komunikasi Kelompok Tani Pantai Kab. Tuban. Tampaknya saung – saung tersebut merupakan tempat pertemuan dan kerja kelompok tani yang dinamakan Kelompok Tani Pantai Wana Bahari Jenu. Saung – saung tersebut dikelilingi oleh tanaman bakau dan waru serta kelapa, sehingga tampak sangat asri. Pada beberapa tempat terdapat papan larangan pengambilan kayu, pasir dan menembak burung di lokasi tersebut. Kemudian saya bersama Edi meninjau (kata ini saya contek dari kebiasaan tulisan jika ada pejabat yang datang dan melihat sauatu lokasi) tempat yang baru diadakan penghijauan. Saya begitu takjub, sepanjang pantai telah ditanami tanaman bakau yang tertata rapi berderet. Setelah mengambil beberapa obyek untuk difoto, tidak berapa lama datang Atin, koordinator penghijauan bakau di lokasi ini. Ini adalah pertemuan saya yang kesekian kali dengannya, karena dia juga merupakan penggiat pecinta alam di Tuban.
Menurut Mar’atul Muflihatin atau yang sering dipanggil Atin, di lokasi penghijauan itu didominasi oleh 2 jenis mangrove. Yakni, jenis Bakau (Rhizopora spp.) dan Tanjang (Bruguiera gymnorrhiza), tetapi dia juga menunjukkan beberapa pohon jenis Api – api (Avicennia spp.) yang baru ditanam ketika ada kegiatan penghijauan dan diklat mangrove di lokasi yang sama. Menurut gadis berjilbab ini, diklat mangrove itu juga bertujuan untuk menarik generasi muda lebih tertarik pada mangrove. Sambil menuju ke tempat mangrove yang sudah berumur lebih tua, Atin yang juga pernah menjabat ketua Mahipal – Ikip PGRI Tuban ini, terus memberikan penjelasan pada saya mengenai beda antara bakau dan tanjang yang bisa dibedakan dengan melihat buah dan akarnya. Jenis Bakau dapat dilihat dari akarnya, yang berjenis akar lutut dengan buahnya yang lebih panjang dan kecil. Sedangkan untuk Tanjang berjenis akar papan dengan buah lebih pendek dan berbentuk seperti pensil dengan pangkal buah berwarna merah.

Ali Manshur
Setelah kami melakukan obrolan ringan di saung bersama Edi dan Atin mengenai mangrove dan berbagai hal, tidak berapa lama datang Pak Ali Manshur. Edi-pun memperkenalkan kepada saya bahwa Pak Ali adalah Ketua Kelompok Tani setempat dan Ketua Forum Komunikasi Kelompok Tani. Pak Ali beserta keluarganya adalah pemilik lahan seluas 6 hektar yang dijadikan tempat penghijauan ini. Dengan memakai kaos polo berwarna merah padam dan topi merah bertuliskan spyderbilt, Pak Ali menceritakan asalnya kondisi lahannya tersebut.
Ketika tahun 1996 – 1997, lokasi itu telah terendam oleh air laut dan lahannya tersebut otomatis tidak dapat diberdayakan. Dan sejak tahun itulah dia mulai menanami lokasi tersebut dengan bakau. Kemudian tahun depannya ada kegiatan padat karya dari pemerintah, untuk penanaman bakau. Selanjutnya beberapa tahun belakangan dapat dilihat lahan milik Pak Ali sudah tidak tergenang oleh air laut. Dan sejak itu pemerintah dalam hal ini Dinas PKT dan saat ini menjadi Dinas Pertanian ikut melaksankan kegiatan Trucukisasi di bibir pantai dekat lokasi milik beliau. Akhirnya proyek trucukisasi ini juga dimasukkan ke dalamnya dengan penanaman bakau dan waru.
Dengan gaya bahasanya yang ”ngenomi”, dia menjelaskan bahwa sering ia ditertawakan para tetangganya tentang kegiatannya menanami lahan kebun dan tambak dengan bakau. “ untunge iku piro?”, ujarnya menirukan tetangganya. Masih katanya memang masyarakat kita masih membutuhkan orang berani melakukan sesuatu untuk pertama kali, ya semacam pelopor. “ Lha saya ini ya dasarnya kayak Mas Edi ini, suka dengan alam, pecinta alam dan kegiatan seperti itulah. Maka ketika Mas Edi dan rekan – rekannya mau mengadakan penghijauan dan pelatihan di lokasi, wah saya senang sekali. Monggo – monggo aja “, lanjutnya. Karena menurutnya Tuban utamanya pesisir pantainya sangat perlu mangrove atau hutan bakau, karena tingkat abrasi di kawasan itu sangat besar. “ Abrasinya sangat besar di pantai sini”, terang Pak Ali yang juga seorang guru di MTs milik NU di Jenu. Selanjutnya Pak Ali yang juga dikenal sebagai Kyai, menjelaskan bahwa prinsip dia lebih baik bekerja dengan 2 – 3 orang tetapi benar – benar bekerja daripada dengan ratusan tapi tidak mau diajak kerja. Oleh karena itu walau dengan jumlah yang sedikit, ia tetap akan terus melakukan penanaman bakau di kawasan lahannya tersebut. “Bahkan kalau bisa, saya ingin kawasan ini menjadi suatu kawasan yang dilindungi, ya seperti cagar alam itulah”, ujarnya dengan semangat yang menyala.

15.000 bakau!
Ada yang menarik dari lokasi penghijauan milik Pak Ali atau Kyai Ali ini. Jika di papan proyek milik Dinas Pertanian disebutkan ada sekitar 5.600 pohon bakau yang ditanam, tetapi kenyataannya di lapangan hal seperti itu di tangan Pak Ali bisa menjadi 15.000 pohon bakau yang ditanam! Begitu juga dengan 1.800 batang pohon waru kemudian menjadi 200% yang ditanam. Itu sebabnya Pak Ali jika bertemu dengan staf Dinas Pertanian yang bertanya berapa prosen bibit yang telah ditanamnya dari bantuan yang ada, dia selalu menjawab denga kata “200%”.
Ketika disinggung mengenai adanya pohon waru yang ikut ditanam di sekitar lahannya, dia menjawab bahwa hanya jenis waru inilah yang dapat bertahan di pantai selain bakau. Selainnya itu daunnya dapat digunakan sebagai pakan ternak, atau batangnya bisa diambil kayunya.
Keinginan dalam mengembangkan hutan bakau di lokasi tersebut sangat besar sekali pada diri Pak Ali, bahkan ketika kami berdiskusi tentang mangrove hingga mangrove di Pulau Bawean, ia sangat berkeinginan sekali ke Bawean dan bertemu Pak Syafei untuk menimba ilmu tentang penghijauan mangrove disana. Selanjutnya pembicaraan kami semakin memanas mengenai mangrove hingga ke hal – hal lain. Dengan dampingi nangka dan semangka serta biskuit diskusi bersama Pak Ali siang itu begitu mengesankan, apalagi diadakan di saungnya yang asri.

Fauna
Tidak terasa seusai saya sholat dhuhur dan merasakan semilirnya angin pantai, saya dan edi ketiduran di saung tersebut, sedangkan Pak Ali kembali ke rumahnya karena ada keperluan. Sore harinya saya menghamburkan diri ke pantai, melihat air laut yang semakin pasang. Kali ini saya berjalan ke arah barat yang tadi pagi belum sempat saya lakukan. Sekitar 100 – 200 meter dari saung tempat edi tidur, saya jumpai sebuah muara dengan hutan bakaunya yang sudah besar – besar. Rupanya inilah bakau – bakau yang pertama kali ditanam Pak Ali ketika tahun 1997 itu. Tidak jauh dari situ saya jumpai burung Kuntul, terutama Kuntul Besar (Casmerodius albus). Saya juga melihat beberapa Kowak-Malam Abu (Nycticorax nycticorax) yang belarian di atas pasir dan terlihat sedang bersenda gurau dengan yang lainnya. Dengan warna yang khas yakni hitam di bagian atas tubuhnya dan putih di bagian bawah, kowak-malam begitu menarik perhatian saya, karena begitu menyenangkan melihat polahnya sore itu.
Setelah beberapa saat sambil mengumpulkan kerang untuk aquarium, saya berjalan kembali ke arah saung. Dan diatas kepala, tampak terbang banyak burung Sriti dan Burung Cikalang diatas lokasi penghijauan ini. Kedua jenis burung ini selalu ada mulai pagi hingga sore, terbang rendah di atas lokasi ini. Begitu menyenangkan, tidak mengherankan jika sabtu dan minggu lokasi milik Pak Ali ini sering didatangi orang – orang untuk wisata atau sekedar rujakan di saungnya.
Saya sangat yakin 10 tahun mendatang 15.000 batang pohon yang telah ditanam tersebut akan menjelma menjadi bakau – bakau besar dan menjadi suatu ekosistem mangrove yang baik. Mungkin juga saat itulah, tetangga – tetangga Pak Ali yang saat ini masih mentertawakannya akan terdiam seribu bahasa melihat keberhasilannya, dan semoga saja berkeinginan dan mau mengikuti jejaknya.

Political will Pemkab
Sayangnya, dengan adanya contoh kecil di Tuban tersebut, tampaknya Pemkab Tuban masih dianggap kurang tanggap. Dengan kondisi yang ada bahwa Tuban berada di sepanjang pesisir pantai utara dan akan terus mengalami abrasi, dan ini tentu akan mengancam infrastruktur kota tersebut. Apalagi jika melihat terminal wisata yang baru begitu menjorok ke laut tanpa ada pengaman alami dari terjangan gelombang air laut.
Menurut Edi, pihak Pemkab dirasa kurang adanya political will terhadap keberadaan mangrove. Seharusnya sepanjang pesisir pantai di Tuban diadakan gerakan penanaman bakau. Karena diketahui bahwa Tuban belum memiliki hutan bakau yang memadai. Tetapi, edi bersama rekan – rekan pecinta alam Tuban akan terus menjadi corong untuk gerakan penghijauan bakau ini. “Kami tidak akan pernah lelah untuk mengkritisi kebijaksanaan Pemkab tentang lingkungan hidup “, ujar pria 37 tahun yang pernah diusir dari sebuah rapat karena kevokalannya itu.
Akhirnya ketika sore hari telah tiba kami berpamitan ke rumah Pak Ali. Dan warna merah senja mulai mewarnai langit diatas Tuban saat saya melajukan vespa bersama edi meninggalkan kawasan Jenu. Kawasan hutan mangrove masa depan.

No comments:

 

Copyright 2010 halaman agus.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.