Friday, November 23, 2012

Satwa Liar dan Dunia Farmasi

http://www.savesumatra.org

Beberapa hal yang menyedihkan telah menimpa satwa yang sering disebut "kucing besar" atau "raja hutan" ini. Di seluruh dunia terdapat delapan jenis satwa ini, yaitu Harimau Bali (punah tahun 1940-an), Harimau Kaspia (punah tahun 1970-an), Harimau Jawa (punah tahun 1980-an), Harimau Sumatera (tinggal 650 ekor), Harimau Bengal (3350-4700 ekor), Harimau Cina (100-1700 ekor, Harimau Cina Selatan (30-80 ekor), serta Harimau Siberia (150-200 ekor).


Penyebab kepunaha spesies ini anatara lain adalah kehilangan habitat, yang menyebabkan mereka hidupnya terpencar-pencar dan terisolasi, seperti yang dialami harimau Cina (Time, 28 Maret 1994).

Perburuan terhadap satwa ini dilakukan manusia sejak jaman dulu terutama karena kaitannya dengan mistik-mistik harimau, misalnya sebagai penyembuh, dan kekuatan serta kejantanan. Perburuan dilakukan banyak orang untuk memasok pasar obat tradisional cina.

Perusahaan obat-obatan Chin Hyung dried Medicine Company di Korea Selatan mencantumkan harga tulang harimau mencapai 1.874 dolar AS per kg. Selama tahun 1975-1993, perusahaan tersebut telah mengimpor 6.128 kilogram tulang harimau atau setara dengan membunuh 550 ekor harimau dari berbagai jenis dan dari berbagai negara.

Yang menyedihkan adalah bahwa menurut laporan Bea Cukai Korea Selatan dinyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat pertama naegara pemasok tulang harimau ini. Selama kurun waktu 1975-1992, sekitar 61% atau 3,720 kg tulang harimau tersebut dipasok dari Sumatera (East Asian Medicine Journal, Oktober, 1992).

Berita tersebut perlu menjadi bahan kajian kita bersama, betapa sangat terkaitnya kerusakan habitat akibat perburuan satwa liar dengan pasar gelap perdagangan satwa. Pada jaman dulu perburuan lebih ditujukan untuk penyaluran hobi guna mendapatkan tropi, seperti kasus-kasus perburuan Indonesia pada masa kolonial Belanda atau yang terjadi di India semasa pendudukan Inggris. Akan tetapi saat ini perburuan tersebut lebih dirangsang oleh perdagangan internasional.

upaya-upaya yang telah dilakukan pemerisntah antara lain : pada tahun 1992 Taman Safari Indonesia bekerjasama dengan PKBI, Ditjen PHPA, AZAA, dan IUCN/SSC/CBSG, telah ditunjuk sebagasi Pusat Penangkaran Harimau Sumatera. Sedangkan upaya perkawinan spesies ini oleh Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta juga telah menunjukkkan hasil yang nyata.

Sumber : Dicukil dari "Berkaca di Cermin Retak, Refleksi Konservasi dan Implikasi Bagi Pengelolaan Taman Nasional", oleh Wiratno, dkk. Jakarta. The Gibbon Foundation Indonesia, PILI-NGO Movement. 2004.

No comments:

 

Copyright 2010 halaman agus.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.