Friday, October 31, 2008

Mencari Mr Spock di Epsilon Eridani

KORAN TEMPO (30/10/2008) - Para kreator serial science fiction Star Trek tak tahu kalau bintang Epsilon Eridani yang mereka citrakan sebagai lokasi Vulkan, planet tempat kelahiran Mr Spock, ternyata benar-benar memiliki sejumlah planet. Paling tidak begitulah hasil observasi terbaru yang dilaporkan oleh sebuah tim astronomi dalam konferensi Spitzer kelima di Pasadena, California, Amerika Serikat.
Hasil observasi teleskop antariksa Spitzer milik Badan Antariksa Amerika, NASA, itu mengindikasikan bahwa sistem planet yang terdekat dengan tata surya kita ternyata memiliki dua sabuk asteroid, yang tersusun dari puing batu dan logam yang tersisa dari tahap awal pembentukan planet.
Lokasi sabuk asteroid pertama kira-kira menyamai posisi sabuk asteroid pada tata surya kita dan kaya akan debu silikat. Sabuk kedua, yang lebih padat dengan puing es dan batu, terletak di antara sabuk pertama dan cincin terluar. Cincin komet ini berjarak 35-90 unit astronomi (1 unit AU sama dengan jarak bumi-matahari) dari Epsilon Eridani, atau mirip dengan Sabuk Kuiper pada tata surya.
Terdeteksinya dua sabuk asteroid ditambah satu cincin komet es terluar di sekeliling Epsilon Eridani telah membuat para astronom curiga bahwa bintang itu memiliki sedikitnya tiga planet dengan massa yang cukup besar. Salah satu planet telah ditemukan pada 2000. Planet yang diberi nama Epsilon Eridani b itu diperkirakan merupakan obyek sekelas Jupiter yang mengorbit bintang terdekat pada jarak 3,4 AU, atau di luar sabuk asteroid terdalam.
Dua kandidat planet yang diperkirakan ada di antara sabuk asteroid luar dan sabuk komet dalam tata Epsilon Eridani diberi nama B dan C. Dengan adanya temuan ini, maka planet b menjadi planet A.
"Kami memang belum melihatnya. Tapi jika tata bintangnya mirip dengan tata surya kita, berarti di sana seharusnya ada planet seperti di sini," kata Massimo Marengo, astronom dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics di Cambridge, Massachusetts.
Astronom lain yang tergabung dalam tim itu, Dana Backman, menyatakan kemungkinan besar tata Epsilon Eridani itu mirip dengan tata surya ketika kehidupan pertama kali muncul di bumi. "Perbedaan utama yang kami ketahui sejauh ini adalah tata bintang itu memiliki satu tambahan cincin material pembentukan planet yang tersisa," kata astronom dari SETI Institute di Mountain View, California.
Temuan Backman dan timnya itu akan dipublikasikan dalam jurnal Astrophysical pada awal tahun depan. Menurut mereka, puing batu dan logam yang tersisa dari tahap awal pembentukan planet di sekitar Epsilon Eridani merupakan sinyal kuat bahwa planet batu seperti bumi bisa saja mengorbit di bagian dalam sistem itu, dengan planet gas raksasa berputar dekat pinggiran sabuk asteroid.
Dalam tata surya kita, misalnya, ada bukti bahwa Jupiter, yang terletak tepat di luar sabuk asteroid, menyebabkan terbentuknya sabuk asteroid jutaan tahun yang lalu dengan mengaduk material yang seharusnya bisa bergabung membentuk planet. Kini, Jupiter tetap memiliki peran penting, yakni menjaga sabuk asteroid agar tetap berbentuk cincin.
Penemuan sabuk material ganda sebetulnya bukanlah hal baru. Epsilon Eridani jaraknya amat dekat dekat bumi, bahkan dapat dilihat dengan mata telanjang. Bintang di konstelasi Eridanus itu juga amat mirip dengan matahari.
Bintang kerdil merah jingga ini adalah bintang yang relatif masih muda, dengan usia sekitar 600-800 juta tahun, atau seperlima matahari. Massanya diperkirakan hanya 83-85 persen dari massa matahari. Ukurannya pun sedikit lebih kecil, 84 persen dari diameter matahari. Cahaya yang dipancarkannya jauh lebih redup, cuma 27,8 persen.
Meski lebih dingin dibanding matahari, bintang ini masuk dalam target pertama yang dieksplorasi untuk mencari tanda adanya kehidupan lain di luar bumi dengan teleskop radio pada 1960.
Letak dan kemiripannya dengan matahari juga menjadikan Epsilon Eridani amat populer dalam science fiction. Tak hanya serial televisi Star Trek yang meminjamnya, tapi juga Babylon 5 serta sejumlah novel karangan Issac Asimov dan Frank Herbert.
"Tentu saja tak semua fans Star Trek setuju bila planet Mr Spock ada di Epsilon Eridani," kata Marengo. "Bintang itu masih muda, dan bangsa Vulcan seharusnya adalah masyarakat yang amat maju."

No comments:

 

Copyright 2010 halaman agus.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.